Suatu hari saya mencoba untuk mengorek keterangan tentang games yang akhir-akhir ini sedang disenangi oleh anak saya. Saya menyadari bahwa bagian yang ini adalah bagian yang sangat sensitif. Kesalahan dalam memilih kata-kata akan berakibat fatal, yaitu ia akan enggan untuk memberikan keterangan yang jelas tentang jenis games dan mengungkapkan perasaan yang dihadapi saat bermain dengan games.
Alhamdulillah kekhawatiran saya tidak terjadi, karena ia tampaknya merasakan bahwa saya tidak sedang bermaksud menginterogasi apalagi menjustifikasi tentang boleh tidaknya memainkan games tersebut.
Anak saya menyebut bahwa hari-hari itu ia sedang menikmati sebuah games yang bernama Point Blank. Kemudian sesuai dengan pertanyaan saya ia mengungkapkan bahwa dirinya saat ini sudah pada pangkat V satu tanda petik dua.

Saya tidak memahami pangkat tersebut, tetapi dari keterangan yang ia berikan, ia mampu mencapai tingkatan sekarang setelah beberapa kali mengalami kegagalan dan mencoba beberapa strategi.
Saya tidak dapat menilai apakah anak saya memang tidak terlalu berbakat pada games sehingga setiap pangkat yang ia peroleh harus dilewati setelah mengalami banyak kegagalan dan mencoba beberapa strategi. Namun diluar masalah trial and error ini saya menangkap semangat untuk melewati setiap tahapan games dan mendapatkan pangkat yang tertinggi, yaitu Emas.
Saya menyimpulkan bahwa games Point Blank telah memunculkan tantangan bagi anak saya, sehingga ia rela duduk berlama-lama dengan biaya tidak sedikit yang harus ia keluarkan dari sakunya sendiri. Tantangan games tersebut telah mengeluarkan energi dari anak saya untuk rela berkorban tanpa dorongan orang lain.

Suatu ketika saya meminta tolong kepada anak saya untuk memperbaiki audio di dalam mobil dengan mencoba mengotak-atik frekuensi antara radio mobil dan alat pemancar yang terhubung dengan flashdisk. Dua kali ia mencoba untuk mengutak-atik, ia selalu mengalami kegagalan.
Kemudian ia menyerah dan mengatakan bahwa ia tidak bisa. Saya mengingatkannya kembali tentang percobaan-percobaan strategi yang ia lakukan untuk menyelesaikan sebuah level games pada Point Blank. Seakan mendapatkan energi dari dirinya sendiri, ia kembali mengotak-atik peralatan tersebut dari awal kami naik mobil hingga turun dari mobil.
Ia selalu mencoba strategi-strategi yang baru. Hingga pada perjalanan kami yang ketiga, ia dapat memperbaiki kembali audio di mobil dengan rasa bangga. tantangan-tantangan pada games Point Blank telah membuat anak kami belajar untuk menghadapi setiap tantangan pada kehidupan yang nyata. Kita orangtua perlu untuk mengingatkan kembali tantangan tersebut untuk menimbulkan motivasi anak.

Beberapa level dalam games selalu dapat dicapai setelah mengalami beberapa kali kegagalan. Kemudian anak-anak mencoba kembali dengan strategi yang baru dan rasa penasaran yang semakin memuncak.
Mereka menanggapi kegagalan tersebut sebagai hal yang normal, toh ia dapat mencobanya kembali. Hingga akhirnya ia menjadi terbiasa, lebih cekatan, atau mendapatkan strategi yang baru yang lebih jitu. Kemudian ia dapat mencapai keberhasilan dengan perasaan yang lebih puas.
Saat mengalami kegagalan, mereka tidak mendapatkan respon yang negatif dari sekelilingnya. Tidak ada yang memberikan feedback bahwa ia tidak mempunyai kemampuan untuk melewati level tertentu, bahkan pada kegagalan yang ketiga atau keempat.
Dengan suasana psikologis yang jernih, akhirnya ia dapat belajar dari kegagalan-kegagalan tersebut untuk memperbaiki cara dan strateginya. Kegagalan memang tidak selalu berarti ketidakmampuan, akhir dari percobaan, atau harga diri yang rendah.

Tetapi bahkan kegagalan adalah awal dari proses belajar, energi untuk memandang suatu masalah dari sudut pandang yang lain, serta melatih ketahanan diri.
Mengapa seorang anak mampu untuk bertahan dihadapan games online dalam rentang waktu yang panjang? Jawabannya adalah saat ia menghadapi sebuah games, ia telah mendapatkan kesenangan-kesenangan kecil dari games tersebut.
Kesenangan kecil tersebut dapat berupa rasa penasaran yang sengaja dihadirkan oleh si pembuat games, strategi-strategi baru yang ditemui oleh anak saat bermain games, dan kenaikan-kenaikan pada level yang lebih tinggi.
Seperti seseorang yang mempunyai hobi memancing. Maka ia mendapatkan kesenangan-kesenangan kecil saat kailnya ditarik oleh ikan. Saat-saat seperti inilah yang sebenarnya lebih ditunggu oleh seorang pemancing daripada mendapatkan ikan untuk dapat ia masak di rumah. Kesenangan-kesenangan kecil saat memancing dan bermain games merupakan penghargaan intrinsik.
Ada sebuah statement yang sering mendapatkan kebenaran dalam dunia nyata, yaitu: hal yang baik jika berlebihan menjadi kurang baik. Pada penjelasan di atas kita dapat merasakan bahwa games memberikan beberapa manfaat bagi anak-anak kita. Tetapi dengan manfaat games yang banyak, sebaiknya tidak membuat kita mendorong anak untuk bermain games melebihi kebutuhannya.
Menyenangi games pada satu titik akan memberi manfaat yang baik bagi anak, tetapi saat seorang anak mulai mengalami kecanduan games maka seluruh manfaat yang baik tersebut dapat berubah dalam sekejap menjadi mudharat.

Seperti seseorang yang mempunyai hobi bermain futsal atau badminton. Saat kedua hobi tersebut dijalankan sesuai dengan kebutuhan fisik dan ketersediaan waktu, maka hobi tersebut akan memberikan banyak manfaat bagi dirinya.
Sebaliknya saat seseorang sudah mulai mengalami ketergantungan terhadap hobi dan rela mengorbankan jam-jam dinas hanya untuk menjalankan hobinya, maka hobi itu akan menimbulkan banyak bahaya.
Tiga sendok madu dalam sehari akan memberikan manfaat bagi tubuh kita, tetapi 30 sendok madu dalam sehari tidak otomatis memberikan sepuluh kali manfaat.
Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


