Games Online sedang Ngetrend

Saya pernah diminta untuk menyampaikan materi motivasi untuk para pelajar SMP III di daerah Jombang. Waktu yang diberikan kepada tim kami adalah 3 jam. Materi dan peralatan training telah kami persiapkan satu minggu sebelumnya. Hingga datanglah waktu pelaksanaan training di sebuah gedung serba guna yang AC nya sangat tidak memadai untuk mendinginkan sekitar 250 siswi SMP.

Acara dimulai dengan pembukaan sekaligus sambutan oleh kepala sekolah dan ketua komite sekolah. Tim kami memulai kegiatan training tepat pada waktu yang telah direncanakan. Hingga berjalan setengah waktu kami menyampaikan materi, ada sesuatu yang terasa kurang lengkap.

Kami merasakan respon dari siswa-siswi terhadap materi kami sangatlah minim. Jika mereka tetap tenang dan berusaha mengikuti training kami, hanyalah karena rasa sungkan dan rikuh mereka terhadap bapak dan ibu guru yang selalu mendampingi mereka.

Kami tim trainer harus mengakui bahwa umur kami yang rata-rata diatas kepala 3 membuat sulit untuk berempati dan berkomunikasi dengan idiom-idiom khas anak remaja usia 15-16 tahun.

Hingga tiba saatnya kami menanyakan slide lagu D’Masiv “Tidak Menyerah” lengkap dengan liriknya. Pandangan mereka yang dari tadi kurang fokus kepada materi yang kami sampaikan, tiba-tiba melotot dan terbengong-bengong. Secara serempak mereka bernyanyi bersama tanpa kami memberi komando untuk menyanyikannya.

Mulai saat itu kami merasa mereka sangat antusias mengikuti materi. Dan kami dapat menyelesaikan training tersebut dengan sangat baik serta emosi siswa-siswi terlibat pada seluruh materi yang kami sampaikan.

Kami telah ditolong oleh lagunya D’Masiv. Lagu tersebut telah menjadi jembatan bagi hati kami dan hati siswa-siswi SMP tersebut. Lagu tersebut memang saat itu sedang ngetrend (menjadi hit), tidak ada satu anak pun yang tidak menghafalkannya dengan baik. Di HP mereka selalu tersimpan file lagu ini, mereka senang memperdengarkan kepada teman yang lainnya yang mereka anggap belum familiar terhadap lagu tersebut.

Fenomena lagu D’Masiv juga terjadi pada kecenderungan remaja pada aspek yang lain, termasuk games online. Mayoritas remaja telah menyukainya karena games online memang sedang menjadi trend. Mereka yang telah familiar dengan permainan ini akan saling berbincang tentang jenis games yang akhir-akhir ini mereka mainkan.

Sementara mereka yang belum familiar terhadap permainan tersebut akan datang dengan rasa penasaran ke tempat-tempat yang menyediakan games tersebut. Ada perasaan tidak percaya diri jika ia belum mengetahui seluk beluk permainan tersebut dan jenis-jenisnya. Ada perasaan bangga yang disampaikan kepada teman-temannya jika ia telah berhasil menggapai level tertentu.

Ericksoon dalam bukunya Step of Morality menuliskah bahwa moralitas anak pada usia 10-15 tahun adalah moralitas teman sebaya. Artinya parameter yang digunakan untuk mengukur apakah suatu perilaku tertentu sesuai dengan moral atau tidak adalah pendapat teman sebayanya.

Jika teman-temannya sedang menyenangi games online maka ia menganggap bahwa permainan tersebut adalah baik dan layak dimainkan. Sebaliknya, pada suatu kebiasaan yang jarang dilakukan oleh teman-teman sebayanya, ia juga akan beranggapan bahwa kebiasaan tersebut tidak layak untuk dia lakukan.

Berdasarkan teori Erickson, orangtua sebenarnya ditantang untuk bisa menjadi teman bagi putra-putrinya agar mereka dapat leluasa mengungkapkan isi hati dan keluhan tanpa rasa takut dan khawatir.

Posisi teman sebaya menuntut orang tua untuk siap mendengarkan apa saja yang disampaikan oleh anak tanpa cepat-cepat menjustifikasi apakah informasi yang disampaikan oleh putranya adalah hal yang baik atau kurang baik. Teman sebaya menuntut orangtua untuk belajar merasakan apa yang sedang dialami oleh putra-putri mereka.

Termasuk kecenderungan mereka untuk mengikuti trend saat ini, yaitu games online. Justru posisi teman sebaya membuka peluang bagi orangtua untuk berdialog langsung dan mendapatkan informasi-informasi orisinil mengapa putranya mengikuti trend tersebut.

Dialog intensif antara anak dan orangtua dengan tanpa intervensi memungkinkan orangtua untuk membangun sikap kritis bagi anaknya terhadap trend yang sedang berjalan. Sehingga mereka tidak mengikuti trend secara membabi buta, tetapi mengikutinya dengan penuh penalaran dan pikiran obyektif.

Kita memang tidak mungkin menahan arus trend yang menimpa anak-anak kita, termasuk games online. Tetapi kita masih mempunyai kesempatan untuk mendidik anak-anak kita tentang bagaimana menghadapi setiap trend yang menimpa mereka. Dialog dengan anak-anak sebagai teman sebaya yang dilakukan secara intensif dengan penuh empatik akan menjadikan semuanya lebih mudah dan menyenangkan.

Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.