Ustadz Jeffry Al Buchori yang tersohor sebagai mubaligh muda, ternyata dulunya adalah pecandu narkoba. Dengan gamblang ustadz ini pernah menuturkan pada khalayak melalui media tentang masa lalunya yang kelam.
Ustadz Jeffry, dengan panggilan akrabnya Uje bercerita bahwa dirinya mulai kenal dunia malam pada umur 16 tahun. Uje masuk sekolah hanya saat ujian. Dunia malam terus digeluti. Kalau ke diskotek, Uje tak lupa mengkonsumsi narkoba. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, Uje bisa dibilang tamak. Biasanya, Uje meminum satu pil dulu. Kalau terasa belum “on”, minum satu lagi. Begitu seterusnya.
Akhirnya, Uje jadi sangat mabuk. Pandangan pun jadi kabur. Mau melihat arloji di tangan saja, Uje harus mendekatkannya ke wajahnya, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas.

Parah, ya? Semua ilmu agama yang pernah dipelajarinya dan kemampuan membaca Qur’an seperti hilang. Kecanduan pada narkoba juga makin parah, bahkan sampai mengalami over dosis dan Uje hampir mati.
Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatnya sadar bahwa ada yang tidak meninggalkan manusia dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah. Uje teringan kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatannya selama ini.
Kecanduan narkoba sudah menjadi penyakit yang seram di masyarakat, bahkan tidak hanya diderita oleh orang dewasa, tapi remaja dan juga anak-anak. Kecanduan narkoba membuat seseorang merasa ketagihan untuk mengonsumsi narkoba, selalu membutuhkan narkoba agar bisa bekerja, sulit untuk melepaskan atau meninggalkan narkoba, bahkan sampai merasa tidak bisa hidup tanpa narkoba.

Orang memang bisa terjerumus dalam kecanduan sesuatu. Orang bisa kecanduan obat-obatan, rokok, alkohol, kafein, nikotin, minuman keras, dan sebagainya. Saat kecanduan sesuatu, seseorang bisa merasa sakit jika tak mendapatkan sesuatu yang bikin mereka kecanduan itu. Beberapa pecandu ingin melepaskan diri, namun seringkali kesulitan.
Dalam kenyataannya, orang bisa pula kecanduan hal-hal lain yang bukan obat-obatan. Kita barangkali mendengar orang berbicara tentang “kecanduan internet” atau “kecanduan cokelat” atau “kecanduan TV”, dan untuk level anak-anak kita juga sudah pernah mendengar “kecanduan games”.
Orang yang kecanduan narkoba selalu merasa ketagihan mengkonsumsi narkoba, sedangkan orang yang kecanduan games akan ketagihan bermain games, berpikir bahwa dirinya selalu membutuhkan games, sulit untuk meninggalkan kebiasaan bermain games, dan bahkan merasa hidupnya tidak enak jika tidak bermain games.

Kecanduan narkoba memang seram, karena penderitanya bisa terancam mati karena kelebihan konsumsi obat. Lalu, apakah kecanduan games juga menyeramkan? Mari kita simak beberapa kisah berikut.
Seorang pelajar SMP di sebuah sekolah di Surabaya pernah dilaporkan orangtuanya hilang. Orangtua mengatakan bahwa dia meminta sejumlah uang untuk membeli makanan, namun tidak kunjung pulang. Ternyata anak itu membolos sekolah dan tidak pulang ke rumah karena bermain games dari pagi hari sampai dini hari, hampir sehari semalam.
Pada 27 Desember 2004, seorang bocah berusia 13 tahun bernama Zhang Xiaoyi di Beijing, China, mati bunuh diri setelah lompat dari gedung tinggi. Anak ini bunuh diri usai bermain games bertema peperangan selama 36 jam berturut-turut. Sebelum bunuh diri, ia meninggalkan pesan berisi keinginannya untuk bergabung dengan para jagoan yang ada di games kesukaannya.

Kota Bilbao, Spanyol menjadi saksi ketika seorang anak menjadi kalap dan menerjang ayahnya serta mencekik si Ayah dengan kabel video games. Semuanya berawal ketika sang anak terlalu asyik bermain video games dan ayahnya mengingatkan untuk berhenti.
Karena sang anak tidak menghiraukan, sang ayah berusaha mendisiplinkan sang anak dengan cara mencabut kabel power. Semua data games yang telah dimainkan pun hilang. Sang anak kehilangan akal sehat dan melakukan penganiayaan pada orangtuanya karena sebuah games.
Kisah tersebut cukuplah kiranya menjadi peringatan bagi kita untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kegiatan anak bermain games. Setidaknya, ada empat alasan penting tentang kecanduan games yang patut kita khawatirkan, antara lain:

1. Melupakan Tugas Utama
Anak yang kecanduan games bisa melupakan tugas utamanya, yaitu belajar demi persiapan masa depannya.
2. Melakukan Segala Cara Agar Bisa Bermain Games
Anak yang kecanduan games bisa melakukan apa saja demi mendapatkan keinginannya, misalnya berbohong, mencuri, membolos dan lain-lain.
3. Kehilangan Logika Berpikir
Anak yang kecanduan games bisa kehilangan logika berpikir karena sudah dikuasai hasrat atau nafsu bermain games.
4. Menghayal Berlebihan
Anak yang kecanduan games bisa memiliki khayalan berlebihan sehingga dapat melakukan hal-hal ekstrim untuk mewujudkan imajinasinya.
Kembali pada nasihat agama, bahwa diantara sifat-sifat tercela yang dilarang ialah sikap berlebih-lebihan. Sikap berlebih-lebihan dalam segala hal bisa mendatangkan petaka.
Menyenangi games tidak berbahaya, tetapi terlalu menyenanginya akan mendatangkan bahaya. Semoga, kita bisa menjaga anak-anak kita dari sikap berlebih-lebihan itu, termasuk berlebih-lebihan dalam bermain games online.
Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


