Seorang anak yang sangat menyukai games bisa membunuh orang. Tidak percaya? Mari kita bisa baca kisah berikut:
Pada 11 Maret 2009, penembakan di kampus yang mengejutkan dunia terjadi di Jerman sehingga 17 orang tewas. Pembunuhnya adalah anak laki-laki berusia 17 tahun, menurut penyelidikan, anak tersebut tertarik pada permainan komputer yang mengandung kekerasan (Kompas, 24 Maret 2009).
Saya berpikir, ah masak segitunya ya? Keraguan saya ternyata berubah menjadi kekagetan ketika membaca sebuah hasil riset para ilmuwan Institut Kesehatan Nasional di Bethesda, Maryland, yang menyatakan bahwa keseringan menonton film atau memainkan games bertema kekerasan dapat membuat anak lebih agresif (www.tempointeraktif.com).

Saya masih tidak percaya, bagaimana bisa dengan hanya bermain games bisa memicu seorang anak melalukan kekerasan. Salah seorang kawan saya pernah mencoba menjelaskannya, secara tidak sadar, seseorang yang terlalu sering memainkan video games yang didalamnya berisikan kekerasan, pembunuhan, darah, perampokan, dan semacamnya akan menyimpan dalam-dalam konten yang ia lihat tersebut dalam memori pikirannya dan tentu saja kemungkinan besar memorinya itu terkuak kembali dan mempengaruhi perilaku kesehariannya.
Saya tentu saja masih belum yakin games bisa begitu berbahaya. Sebagai orang yang mendalam ilmu psikologi, saya diajari untuk menelusuri sebuah perilaku bisa terjadi, biasanya hanya motif-motif yang kuat saja yang bisa menimbulkan bentuk perilaku ekstrim seperti itu. Saya mencoba mencari tahu tentang kasus pembunuhan di atas. Ternyata saya mendapatkan sebuah cerita lanjutannya, yang lebih lengkap.
Pada pagi hari tanggal 11 Maret 2009 di sebuah sekolah menengah di Winnenden, Jerman. Tim Kretschmer yang baru berusia 17 tahun menyerang sekolah ini. 17 orang tewas dalam insiden ini, 17 orang tersebut termasuk dirinya yang bunuh diri setelah melakukan aksi brutalnya tersebut. Pistol yang digunakan adalah Beretta 9 mm yang dicuri dari ayahnya, seorang anggota klub penembak jitu di daerahnya.

Tim Kretschmer memang seorang yang sangat menggemari games berbau kekerasan. Selain itu dia juga hobi menembak, biasanya hobinya itu dilakukan di hutan belakang rumah atau di basement rumahnya.
Tim Krestchmer dimata teman-temannya adalah sosok yang kesepian, frustasi, dan tidak diterima lingkungan sosialnya. Salah seorang pelatihnya mengatakan bahwa dia tipe anak yang sulit menerima kekalahan dan sangat mudah marah dengan kondisi tantrum. Tim Krestchmer tidak memiliki catatan kriminal sama sekali. Selain itu, terdapat informasi bahwa dia tercatat sebagai pasien seorang psikiater yang sedang dalam proses terapi untuk mengelola kemarahan.
Masalah emosi lebih mungkin menjadi sebab dirinya melakukan aksi brutalnya tersebut daripada analisis kecanduan games. Hal ini juga didukung penemuan bahwa tiga minggu sebelum melakukan aksinya, Tim membuat surat kepada orangtuanya yang mengatakan bahwa ia merasa menderita dan tidak bisa melanjutkan hidupnya (http://en.wikipedia.org).
Dengan membaca cerita di atas, apakah sebenarnya games bisa memicu anak melakukan kekerasan? Ternyata jawabnya tidak mutlak ya atau tidak. Cerita tentang Tim Kretschmer menunjukkan bahwa games bukan penyebab utama terjadinya kekerasan, tetapi mungkin saja masih menjadi faktor pendukung.

Jadi, games yang mengandung kekerasan memang masih perlu kita batasi untuk dimainkan anak-anak kita. Lalu games seperti apa yang perlu kita waspadai? Pada intinya, games yang menonjolkan perilaku kekerasan, yaitu tindakan yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain. bentuk-bentuknya antara lain:
1. Adegan Kekerasan Fisik
Games yang didalamnya terdapat adegan-adegan yang menunjukkan kekerasan fisik, meliputi adegan-adegan yang menunjukkan kekerasan fisik, meliputi adegan memukul, meninju, menyikut, melempar, menendang, mencakar dan semacamnya.
2. Adegan Kekerasan Verbal
Games yang didalamnya terdapat adegan-adegan yang menunjukkan kekerasan verbal, seperti mengejek, menghina, bertengkar mulut, mengancam, atau berkata-kata kotor.
3. Adegan Membangkitkan Dorongan Melakukan Kekerasan
Games yang didalamnya terdapat situasi yang membangkitkan dorongan melakukan kekerasan, misalnya games yang bertujuan membunuh orang sebanyak-banyaknya, games yang menyajikan penambahan skor jika pemain dapat mengalahkan polisi dan membebaskan penjahat, atau games yang pemenangnya adalah pemain yang berhasil mengumpulkan hasil perampokan paling banyak.
Selain melakukan kontrol pendampingan seperti ketika mewaspadai pornografi, ada satu hal yang perlu kita perhatikan. Belajar dari cerita tentang Tim Kretschmer, kita perlu menyediakan lingkungan rumah yang nyaman buat anak-anak, agar mereka berada dalam kondisi emosi dan pola berpikir yang positif, sehingga saat-saat labil mereka tidak terjerumus untuk melakukan hal-hal yang negatif.
Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

