Anak dan Gadget

Siang itu saya ketemu teman lama seorang penjahit pakaian yang juga pernah menjadi langganan saya menjahit. Ia memiliki beberapa anak buah yang membantunya dalam pekerjaannya. Setelah beberapa saat berbasa-basi tiba-tiba Ia menyampaikan curhat tentang beberapa karyawannya yang tidak dapat melepaskan diri mereka dari hpnya. Bahkan beberapa bulan yang lalu Ia terpaksa memecat salah satu diantara mereka yang benar-benar tidak dapat lepas dari memegang hpnya.

Anehnya curhat tentang anak dan gadgetnya terutama hpnya adalah untuk kesekian kalinya. Ada seorang ibu yang menyampaikan masalahnya karena putranya sama sekali tidak mampu lepas dari hpnya, siang dan malam. Di saat beraktivitas maupun saat tidur.

Seorang ibu rumah tangga juga menyampaikan keluhannya tentang pembantu di rumah yang lebih mendahulukan memegang hpnya daripada segera menyelesaikan pekerjaannya dan seorang guru les Al Qur’an yang kewalahan terhadap sikap seorang siswanya yang selalu melihat wanya saat belajar Al Qur’an.

Saat ini tanpa kita sadari, kita dan anak-anak kita telah terjebak pada penggunaan HP pada waktu-waktu yang paling efektif untuk berinteraksi dan meningkatkan diri. Dan telah diganti semuanya dengan memegang HP yang tidak banyak manfaatnya.

Sebagian anak kita pada usia dini yang seharusnya waktunya untuk mengembangkan kemampuan motorik, sosial, emosional, bahasa, dan lain-lain, saat ini waktu mereka lebih banyak untuk menatap layar gadget mereka.

Sedangkan anak-anak kita di sekolah dasar yang seharusnya mereka belajar untuk berteman, bercengkerama dengan orang tuanya dan membangun kebiasaan-kebiasaan baik dan kemandirian, saat ini terasa mereka kehabisan waktu untuk melakukan semua di atas karena asyik main game di hpnya.

Anak-anak kita yang remaja yang seharusnya belajar untuk membangun leadershipnya dan kemampuan bekerja sama dengan teman sebayanya, saat ini lebih memilih untuk bersediri ria fokus pada hpnya.

Saya hanya berfikir jika penggunaan HP seperti ini dibebaskan tanpa ada regulasi yang kuat dari pemerintah maupun orang tua, maka pada beberapa tahun ke depan kita akan panen generasi yang anti social, tanpa skill dan pengetahuan yang baik. Mereka akan merasa kagok saat berhadapan dengan dunia nyata yang selama masa kecil dan mudanya tidak pernah mereka rasakan.

Apa yang harus dilakukan oleh para orang tua terkait dengan penggunaan HP, diantaranya:

1. Tidak Menggunakan HP Orangtuanya

Tidak membiarkan anak-anak kecil untuk menggunakan HP orangtuanya. Dengan memberikan mereka kegiatan-kegiatan yang mampu mengembangkan motorik, sosial dan ketrampilan mereka

2. Melakukan Dialog dengan Anak

Bagi yang sudah sering menggunakan HP bahkan sudah mulai kecanduan, orangtua mengusahakan untuk berdialog dengan anak untuk mengurangi waktu penggunaan HP, tentu lebih baik yang menyampaikan waktu dan aturan penggunaan HP ini adalah ayahnya.

3. Menyediakan Kegiatan-kegiatan Posisitif

Membantu anak untuk menciptakan Kegiatan-Kegiatan positif selain menggunakan hpnya, seperti olahraga atau membuat proyek tangan, atau ujicoba fisika sederhana

4. Menjadi Contoh Baik Bagi Anak

Memberi contoh yang baik kepada anak bagaimana menggunakan HP yang bijak. Karena dari para orang tua yang mampu mengontrol penggunaan HP, maka akan tumbuh anak-anak yang juga dapat mengontrol HPnya

5. Tidak Selalu Menuruti Kemauan Anak

Tidak selalu menuruti keinginan anak untuk beli HP yang terbaru dan canggih. Berikan kepada gadget sesuai dengan kebutuhannya, bukan sesuai dengan keinginannya

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.