Anak dan Sholat Bejamaah

Setiap orangtua tentu mendambakan anaknya gemar untuk shalat berjamaah di masjid. Bukanlah Rasulullah telah bersabda, “Ada tujuh golongan yang diberi perlindungan Allah pada hari kiamat dan salah satunya adalah orang yang hatinya lekat dengan masjid”.

Namun kita sering melupakan beberapa hal yang dapat mendorong anak untuk mempunyai kebiasaan berjamaah ke masjid, diantaranya adalah :

1. Contoh dari Orangtua Terutama Bapaknya.

Tidak ada teori apapun yang dapat melepaskan dari pentingnya contoh atau teladan di dalam membangun kebiasaan dan kegemaran. Dan hal yang paling baik untuk mendorong anak senang ke masjid sejak dini adalah contoh bapaknya.

2. Membangun Lingkungan yang Mendukung Anak untuk Sholat Berjamaah

Seperti saat kita membantu anak untuk Shalat shubuh berjamaah maka kita harus sudah menata waktu tidur anak dan membangun suasana rumah pagi hari yang mendorong anak segera bangun. Beberapa bacaan murottal menjelang shubuh dan menambah terangnya lampu rumah akan sangat mendorong anak untuk segera bangun.

3. Membangun Lingkungan Masjid Ramah Anak

Lingkungan masjid mendorong anak untuk tertib saat shalat tetapi dengan tetap menggunakan bahasa yang ramah anak. Kita sering mendapati masjid yang penuh dengan anak, tetapi suasananya gaduh dan tidak tertib.

Hanya karena takmirnya membiarkan anak-anak tersebut atau belum mempunyai manajemen pengelolaan masjid yang baik. Sebaliknya ada beberapa masjid yang kosong dari anak karena takmirnya terlalu kasar atau tidak membolehkan sama sekali jamaah anak-anak. Di sinilah diperlukan sebuah diskusi tentang menajemen masjid yang baik dan ramah anak.

4. Dialog yang Baik Antara Orangtua dan Anak

Sebagai orangtua harus membiasakan melakukan dialog khususnya anak laki-lakinya tentang kewajiban shalat berjamaah di masjid. Diskusi ini dapat berupa tentang kewajiban untuk berjamaah, cara yang baik bagi orangtua di dalam menegur anaknya untuk berjamaah dan cara serta waktu membangunkan anak dari tidurnya.

5. Orangtua Harus Tega Membangunkan Anak

Seringkali orangtua tidak tega untuk mebangunkan anaknya saat melihat anak-anak itu tertidur pulas. Perasaan ini mendorong untuk mengabaikan hasil diskusi kesepakatan kapan bangunnya. Akhirnya dengan perasaan tidak tega tersebut mereka tidak membangunkan anaknya untuk shalat shubuh.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

______________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.