Pada era tahun 80-an ketika studi ditingkat menengah, saya pernah menikmati lagu Dangdut Rhoma Irama. Syairnya antara lain sebagai berikut:
Kau yang memulai kau yang mengakhiri
Kau yang berjanji kau yang mengingkari
Syair lagu di atas sangat mirip maknanya dengan syair salah satu lagu penyanyi terkenal Nicky Astria :
Mengapa kau sakiti
Mengapa kau melukakan
Mengapa kau memberi mengapa kau melupakan
Mengapa kau akhiri mengapa kau memulakan
Dengan segenap jiwa ku kemukakan pertanyaan
Pada mulanya tidak seorang pun anak yang kecanduan menonton televisi. Mereka mengenal media ini dari orang tua yang memang menyediakannya di rumah. Tidak ada permintaan sedikitpun dari anak untuk menyediakan peralatan ini di ruang keluarga. Bahkan jika orangtua menyampaikan dengan baik kepada anak bahwa ia tidak menyediakan peralatan ini, merekapun tidak memprotes.
Kini perangkat kecil ini sedikit demi sedikit mulai menguasai kehidupan anak-anak. Bangun tidur, menjelang tidur, mau mandi, saat makan dan setelah shalat mereka tidak mungkin lepas dari menonton televisi.
Lebih gila lagi akhir-akhir ini muncul kebiasaan baru pada anak-anak untuk belajar di depan televisi. Mereka berpendapat bahwa masa jeda iklan acara televisi saat paling mudah untuk memasukkan pelajaran ke dalam otak mereka.
Tidaklah mengherankan jika sebuah survey di Indonesia pada tahun 2002 mengungkapkan bahwa anak di Indonesia menghabiskan banyak waktu untuk menonton televisi. Data survey tersebut menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar rata-rata menonton televisi sekitar 5 jam setiap hari.
Kini yang dapat dilakukan oleh kita sebagai orangtua hanya berteriak dan menghimbau mereka untuk giat belajar, senang membaca buku dan mematikan segera televisi tersebut. Meskipun kita yakin segala macam teriakan dan himbauan tersebut hanyalah seperti anjing yang menggonggong tanpa makna.
Sebenarnya masih ada waktu bagi kita para orangtua untuk menghentikan kecanduan menonton televisi. Minimal kita mengurangi dan membuat batasan bagi mereka untuk menontonnya. Tetapi rengekan dan tangisan meminta untuk menyalakan televisi dari anak-anak yang kita kasihi, seringkali memaksa kita untuk melupakan kesempatan menghentikan dan mengurangi kecanduan televisi.
Dengan sebuah statement yang sering kita dengar, “Biarlah mereka menikmati televisi tersebut, toh ini semua bentuk dari rasa kasih sayang kita terhadap anak.”
Saya sempat bertanya kepada diri sendiri apakah ini bentuk kasih sayang yang benar. Seperti saya membelikan rujak cingur yang pedas untuk anak yang saya cintai tetapi anak ini baru saja menjalani rawat inap karena sakit typus.
Ia memang sangat menyukai rujak cingur, membelikan apa yang disenanginya adalah bentuk sayang kita terhadapnya. Tetapi membelikan rujak cingur setelah sakit typus justru akan merusak kesehatannya.
Kini anak-anak kita semakin larut dalam candu televisi yang mengikat. Menonton televisi telah menjadi acara utama di antara acara-acara lain dalam keluarga. Silaturrahmi, belanja, rekreasi bersama, belajar, mengaji, beribadah hanyalah acara selingan di antara menu-menu acara utama.
Boleh melakukan silaturrahmi kepada famili jika di rumahnya ada televisi, bisa membantu belanja orangtua jika acara utama adalah berita, dan segera shalat dan mengaji dengan cepat supaya tidak terlalu ketinggalan acara utama.
Perkataan anak yang semakin kasar, nilai pelajaran yang merosot, konsentrasi yang menurun, dan mata anak yang semakin besar minus-plus tidaklah perlu untuk dipikirkan, yang paling penting adalah anak merasa senang dan nyaman. Toh ini bentuk kasih sayang kita kepada mereka.
Ada beberapa orangtua yang mulai sadar akan fenomena ini, dengan tekad yang bulat mereka mulai memutus aliran candu televisi dari anak-anak mereka. Tetapi sebelumnya saya mengingatkan kepada mereka dan juga diri kita, apakah kita telah siap atas konsekuensi-konsekuensi dari tekad di atas ?.
Selama ini kita dapat lebih santai menjalani kehidupan di rumah sehari-hari dan rumah kita relatif lebih rapi dan bersih karena anak-anak kita fokus menonton televisi. Saat televisi hilang atau dikurangi, bersiaplah untuk lebih sibuk karena harus menemani mereka bermain atau rumah yang lebih berantakan dari sebelumnya karena dinamika permainan mereka.
Mengurangi atau menghilangkan televisi dari anak-anak berarti harus bersiap diri untuk mengurangi kesenangan kita menonton sinetron atau sepak bola kesukaan kita. Karena tidak mungkin kita meminta anak untuk mengurangi kecanduannya menonton televisi, tetapi diri kita sendiri justru mengalami kecanduan.
Beberapa bahaya menonton televisi yang akan saya sebutkan berikut ini semoga menjadi motivasi di dalam mengurangi tayangan televisi di rumah kita, atau minimal dapat menjadi energi baru bagi kita untuk mengelola tayangan tersebut.
1. Menyebabkan Kerusakan pada Mata.
Sinar biru (blue light) dituding sebagai penyebab utama kerusakan pada mata anak. Sinar biru adalah sinar dengan panjang gelombang 400-500 nano meter pada spektrum sinar yang masih dapat diterima oleh mata. Secara alamiah, sinar biru dipancarkan oleh matahari. Namun kemajuan teknologi seperti televisi, komputer serta lampu neon juga punya andil menyebarnya blue light di tengah masyarakat.
2. Memicu Hambatan Perilaku Sosial Anak.
Seorang anak yang sering menonton televisi cenderung enggan untuk melakukan interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Ia sudah cukup menikmati tayangan yang ada di televisi.
3. Mendorong Anak Bersikap Lebih Agresif.
Banyaknya adegan kekerasan dan kesadisan di televisi membuat anak memandang adegan tersebut sebagai suatu hal yang wajar. Penelitian yang dilakukan oleh Liebert dan Baron menunjukkan hasil bahwa anak menonton televisi yang menampilkan adegan kekerasan memiliki keinginan lebih kuat untuk berbuat kekerasan terhadap anak lain, dibandingkan dengan anak yang menonton program netral.
4. Meningkatkan Resiko Obesitas Anak.
Selama menonton televisi anak tidak melakukan aktifitas fisik apalagi ditambah dengan kebiasaan ngemil akan sangat mendorong anak mengalami obesitas.
5. Memicu Kurangnya Konsentrasi Anak terhadap Pelajaran.
Tayangan televisi yang bergerak dengan cepat dan iklan-iklan yang beraneka ragam mendorong pikiran anak untuk meloncat dengan cepat dari satu obyek ke obyek yang lainnya.
Kita sudah mengetahui bahaya dari menonton televisi dan kita pun sudah sering merasa jengkel atas perilaku anak kita yang terlihat malas-malasan di depan televisi, enggan untuk belajar, tidak segera beribadah dan sering tidak mendengarkan permohonan dari orangtua.
Saatnya kini kita bertindak untuk mengurangi tayangan televisi di rumah kita, membantu anak-anak kita untuk menikmati kembali interaksi dengan teman dan mendorong mereka untuk mendapatkan kesenangan pada bacaan-bacaan mereka.
Beberapa alternatif tindakan berikut ini dapat dilakukan agar anak- anak kita dapat terhindar dari bahaya televisi:
1. Membuat Jadwal Menonton Televisi.
Anak perlu diajarkan bahwa ada waktu tersendiri untuk setiap kegiatannya. Mereka perlu mengatur waktu untuk menonton televisi, waktu untuk belajar dan waktu untuk bermain, walaupun anak sudah relaks dengan menonton televisi, ia tetap butuh waktu untuk bermain.
Televisi mengkondisikan anak menjadi pasif, hanya menerima dan menyerap informasi dengan posisi tubuh duduk. Mereka tetap butuh untuk berlarian, mengobrol dengan teman, dan bermain-main.
2. Menjadikan Anak Fokus kepada Program Acara Bukan kepada Televisinya.
Saat anak telah selesai menonton acara “Dora”, umpamanya, maka ia tidak harus melanjutkan acara yang lain dengan melihat-lihat pada stasiun televisi yang lain. Diskusikan acara apa saja yang dapat dinikmati oleh anak kemudian sesuaikan dengan waktu yang diijinkan untuk menonton.
3. Memilih Program Televisi yang Tenang.
Sajian program televisi yang kalem dan tenang akan membantu anak untuk berpikir dan mencerna tayangan informasi yang disaksikan. Terlalu banyak tayangan yang bergerak cepat akan membingungkan anak kita dan melelahkan pandangan mata kecilnya.
4. Menemani Anak Selama Menonton.
Akhir-akhir ini dalam sebuah studi kasus tentang pengelompokan akses televisi pada anak disebutkan ada tiga kelompok; pertama, anak-anak yang mengonsumsi televisi dengan akses tanpa batas. Kedua, anak-anak dengan akses televisi yang sekedarnya atau sewajarnya, yang selama menonton tidak disertai oleh orangtuanya, dan anak-anak yang akses sewajarnya dan selama menonton televisi ditemani oleh orangtuanya.
Kelompok terakhir terbukti mendapatkan prestasi lebih tinggi dari kelompok yang lain. Menemani ini sangat penting karena dalam usia dini anak selalu akan bertanya tentang hal-hal baru secara detail.
5. Membantu Anak untuk Menonton Secara Kritis.
Orangtua dapat memberikan pendapatnya tentang beberapa tayangan yang kurang baik, sehingga anak tahu bahwa dia tidak selalu bisa menerima seluruh tayangan tersebut sebagai sesuatu yang dapat mereka contoh.
6. Konsisten di dalam Bertindak.
Orangtua dan pengasuh perlu bertindak secara konsisten dan tidak bosan-bosannya dalam memberikan pengertian kepada anak, sehingga anak tahu dengan jelas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang buruk dalam televisi dan mana yang baik.
Televisi adalah sebuah pisau, pastikan pisau tersebut aman ditangan anak-anak kita.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”


