Mungkin kita sulit untuk bersepakat jika anak yang suka merengek kita katakan sebagai anak nakal. Namun kita akan setuju jika rengekan anak seringkali membuat kita merasa jengkel, kesal dan marah. Akibatnya spontanitas kita mengatakan bahwa anak tersebut adalah anak nakal.
Fatma mulai merengek sambil menunjuk-nunjuk lemari es. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Orangtua Fatma sebenarnya paham terhadap apa yang dikehendaki anaknya, yaitu meminta sisa es krim yang kemarin telah dinikmatinya. Ia enggan untuk memberikannya karena Fatma agak pilek akibat minum es krim kemarin. Ia dapat bertahan dengan beberapa rengekan Fatma, tetapi semakin lama rengekan tersebut semakin keras, hingga akhirnya sang ibu tidak mampu bertahan lagi, dan segera memberikan yang diminta Fatma dengan rengekan tersebut.
Mengapa anak-anak merengek?, Karena kebutuhan mereka tidak terpenuhi. Anak-anak sering membutuhkan perhatian dari orangtua mereka. Mereka akan mencoba berbagai cara untuk mendapatkan perhatian, baik dengan rengekan, cerewet, memukul, dan lain-lain.
Sekali mereka mendapatkan perhatian dengan rengekan, maka ia telah belajar bahwa rengekan tersebut memenuhi kebutuhannya. Dan pada akhirnya mereka akan mencobanya kembali berulangkali.
Masa Merengek

Pertanyaan selanjutnya adalah kapan seorang anak mulai merengek?, Merengek dapat dimulai sejak usia bayi masih sangat dini. Seorang bayi yang masih usia 6, 7, dan 8 bulan ketika membutuhkan sesuatu jelas belum mampu untuk menyampaikannya. Bahasa komunikasi baginya sejak awal adalah rengekan.
Rengekan bukanlah kebiasaan tetapi insting yang dimiliki semenjak kelahirannya. Segera setelah seorang bayi membutuhkan sesuatu karena rasa lapar, haus, buang air, dan lain-lain ia akan merengek. Orangtua akhirnya merespon dengan menganalisa mengapa ia merengek.
Rengekan tersebut berlanjut pada usia mereka 3-5 tahun. Bahkan pada anak usia 3 tahun rengekan memasuki masa keemasannya. Peningkatan rengekan dapat disebabkan karena orangtua yang selalu memenuhi kebutuhan anak setiap kali ia merengek. Tindakan ini memang tidak menjadi sebuah masalah jika anak kita masih bayi, karena bayi-bayi kecil memang membutuhkan tanggapan cepat atas apa yang membuat mereka gelisah.
Bagi anak balita, rengekan adalah sebuah cara diantara beberapa cara untuk memenuhi kebutuhannya. Anak sangat cerdas untuk mempelajari cara yang paling cepat dan mudah untuk mendapatkan kebutuhannya. Ia akan mengulangi cara tersebut (rengekan) setiap kali ia ingin memenuhi kebutuhannya.
Pada tahap ini, sangat penting dan esensial bagi orangtua untuk berkata: “Coba katakan” untuk menghentikan rengekan dan menggantinya dengan kata-kata yang dapat dipahami. Seorang balita merengek berarti: “Ibu/Ayah tidak mendengarkan aku. Ibu/Ayah tidak tahu apa yang aku inginkan. Ibu/Ayah tidak mengerti aku. Jadi, aku akan membuat Ibu/Ayah memberiku perhatian dengan cara yang paling menyebalkan sampai aku dapatkan apa yang aku inginkan.”
Seharusnya ketika kita meluangkan waktu bersama anak-anak, mereka akan merasa bahwa kita memahami dan mendengarkan mereka. Kemudian rengekanpun akan berhenti dengan sendirinya. Rengekan dapat berlanjut hingga usia lebih tinggi jika orangtua gagal mengajarkan teknik meminta dengan bahasa yang dipahami. Anakpun akan selalu merengek setiap kali meminta sesuatu dari orangtuanya.
Perilaku Merengek

Saya pernah menjumpai seorang anak usia 7 tahun yang sedang merengek hebat tanpa sepatah katapun ia sampaikan diantara rengekannya. Ia hanya mengeluarkan suara aneh, menunjuk-nunjuk sesuatu dan menyampaikan maksudnya dengan bahasa isyarat. Kemudian ibunya datang menghampirinya dan memberikan apa yang ia butuhkan, sesaat kemudian ia tenang kembali.
Mungkin jika yang melakukan rengekan di atas adalah anak usia 2 tahun maka tidaklah merupakan peristiwa yang aneh. Karena perilaku tersebut masih didasari pada faktor insting yang ada pada dirinya semenjak ia lahir. Tetapi rengekan yang dilakukan oleh seorang anak 7 tahun tanpa ia mampu menyampaikan apa yang diinginkannya dalam bentuk kata-kata, bukanlah menjadi insting lagi. Itu telah menjadi kebiasaan yang sudah lama ia pelajari dan ia lakukan.
Seorang bayi yang merengek, akan membuat orangtua segera merespon dan mengidentifikasi penyebab rengekan tersebut. Mungkin ia menangis karena lapar, haus, buang air, merasa sendiri, dan lain-lain. Setelah dapat menemukan penyebabnya dan menghilangkannya, maka bayipun akan tenang kembali. Bayi akan belajar dari peristiwa ini bahwa kebutuhannya akan terpenuhi jika ia merengek.
Proses merengek akan berlanjut bahkan hingga anak usia 5 tahun, karena ia mendapat feedback yang baik setiap kali ia merengek. Peristiwa seperti cerita di atas bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi pada beberapa anak, yang setiap kali meminta sesuatu selalu dengan rengekan.
Beberapa orangtua telah mencoba untuk menambah respon terhadap rengekan bayi mereka dengan berkata: “Coba katakan”. Tidak peduli apakah si bayi sudah bisa berkata-kata atau tidak. Mereka tetap paham konsep yang ada. Terserah kita bertanya apa yang mereka inginkan. Kemudian kita mengulanginya. Anggaplah si bayi ingin pisang, kita mengatakan: “Kamu mau pisang? Coba ngomong. Iya, pisang. Oke, ini pisangnya.” Penekanannya ada pada kata pisang.
Kata kuncinya adalah pengulangan. Kita mungkin kesulitan mengulang-ulang ini pada awalnya, tetapi percayalah usaha ini akan terbayar saat anak-anak kita tidak lagi menjadikan rengekan sebagai sarana komunikasi untuk meminta apa yang mereka butuhkan, tetapi menggantinya dengan kata-kata yang jelas untuk ditindaklanjuti.
Beberapa anak usia 5 tahun masih menggunakan rengekan di sela-sela permintaan mereka dengan kata-kata, karena mereka telah membuktikan bahwa meminta dengan rengekan ternyata lebih diperhatikan oleh orangtua. Disinilah peran penting orangtua di dalam menghentikan rengekan atau melanjutkannya bahkan menjadikannya perilaku permanen dalam diri anak. Jika orangtua dengan tegas tidak menerima permintaan dengan rengekan, maka anakpun akan menghentikan perilaku tersebut
Sindroma “Baby Forever“

Saya membaca dalam buku Nanny 911 sebuah paragraph yang luar bisa dengan judul sindroma “Baby Forever”. Sengaja saya mengambilnya dalam tulisan berikut ini:
Biasanya, para perengek yang terburuk dibentuk oleh orangtua mereka yang ingin anak-anaknya tetap menjadi anak-anak selama-lamanya. Para orangtua ini melakukan segala cara bagi anak-anak tersebut dengan menyuapi mereka, memakaikan baju, tidur di kasur bersama mereka, dan menggendong mereka. Percayalah kepada kami, jika anda memperlakukan anak-anak seperti bayi, mereka akan terus bertingkah seperti bayi dan menjadi sangat manja, dan ini bukanlah kesalahan mereka.
Kami sudah banyak melihat para ibu melakukan seperti ini. Ibu selalu ingin dipandang sebagai sosok orangtua yang mengasihi, memanjakan, sampai-sampai mengabaikan fakta tak terbantahkan kalau dia sedang dalam proses menciptakan monster perengek kecil yang manja.
Coba perhatikan ibu ini, satu jam sudah berlalu dari tidur putranya yang berusia empat tahun, namun si ibu masih duduk di lantai dekat tempat tidur putranya, berusaha menidurkan putranya.
Ibu : Kalau kamu terus tidak bisa diam, Ibu keluar
Anak : (Merengek) Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Ibu : Karena sekarang waktunya tidur. Ibu mau tidur. Ibu capek
Anak : (Merengek) tetapi aku perlu main dulu Bu
Ibu : Kalau begitu Ibu keluar saja
Anak : (Menjerit) Tidak, jangan!
Ibu : Ya sudah, lima menit lagi.
Ibu ini tetap di dalam kamar anak satu jam kemudian.
Teknik Menghentikan Rengekan

Berikut ini beberapa hal yang lebih praktis yang dapat dilakukan oleh orangtua dan guru di dalam mencegah dan menghentikan rengekan anak, yaitu:
1. Mengajarkan Komunikasi Efektif Sejak Dini
Anak merengek ketika membutuhkan sesuatu karena ia tidak mengetahui cara untuk meminta dan cara mengekspresikan perasaannya. Orangtua perlu mengajarkan cara meminta yang baik dan cara mengekspresikan perasaan yang benar. Seorang anak yang dapat mengutarakan perasaannya, kemungkinan besar tidak merengek.
2. Memberi Cukup Perhatian kepada Anak
Anak sering merengek karena ingin mendapatkan perhatian orangtuanya. Sesibuk apapun kita, sebaiknya jangan lupa untuk memberikan perhatian kepada anak.
3. Mengalihkan Konsentrasi Anak.
Saat anak kita meminta sesuatu sambil merengek, kita perlu menjelaskan bahwa kita tidak akan memberikan apa yang ia minta jika disertai dengan suara rengekan. Bila cara ini tidak berhasil, maka tidak ada salahnya jika kita mengalihkan konsentrasinya pada hal lain yang menarik perhatiannya.
4. Membiarkan Anak untuk Terbiasa Membuat Keputusan.
Kita perlu membantu anak agar lebih punya kontrol terhadap dirinya, seperti membuat keputusan sederhana sesuai dengan keinginannya seperti memilih baju yang akan dipakai, mainan yang digunakan.
5. Memberikan Penghargaan.
Orangtua perlu memberikan penghargaan setiap kali anak meminta sesuatu dengan sopan dan komunikasi yang jelas. Dengan cara ini tidak berarti permintaan anak dipenuhi.
6. Memenuhi Kebutuhan Dasar Anak.
Kondisi lelah, lapar, sakit bisa membuat anak rewel dan suka merengek. Karenanya, pastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi secara cukup.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

