Anak Suka Membantah

“Anak ini dahulu begitu manis, penurut dan suka membantu orangtuanya, tetapi saat ini ia menjadi anak yang suka membantah dan berteriak-teriak saat berbicara. Apakah anakku kini telah berubah?”

Orangtua memang menginginkan anaknya selalu bersikap manis, mengikuti kemauannya, dan tidak membantah. Jika terjadi perubahan sedikit saja pada anaknya, seperti sesekali tidak setuju apa yang diputuskan orangtua atau tidak mau mendengar apa yang sedang disampaikan, mereka cenderung menganggap bahwa hal tersebut merupakan masalah yang besar. Seringkali anak yang tidak mengikuti keputusan atau tidak mendengar kata-kata orangtuanya adalah disebabkan cara orangtua berkomunikasi dengan anak.

Saya sendiri kadangkala menyukai anak saya yang sesekali berani membantah kepada orangtuanya. Ia memprotes keputusan orangtua yang ia rasakan tidak memberi ruang baginya untuk bebas menggunakan uangnya sendiri atau ia tidak suka cara orangtua berkomunikasi dengan dirinya. Anak seperti ini bagi saya menunjukkan bahwa ia punya prinsip, keberanian, dan rasa percaya diri untuk bersikap tidak selalu sama dengan orangtuanya.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kepribadian anak usia 9-10 tahun yang suatu saat mempunyai uang sendiri, hasil dari pemberian lebaran (angpao) dari famili, tetapi selalu meminta petunjuk dari ibunya tentang penggunaan uang tersebut. Atau ia selalu menurut kepada orangtuanya setiap mereka memutuskan untuk menggunakan uang tersebut guna membeli buku, tas, dan peralatan sekolah lainnya.

Kadangkala seorang anak perlu untuk membantah, sesekali boleh untuk tidak setuju apa yang menjadi keputusan orangtuanya dan cara orangtuanya berkomunikasi dengan dirinya. Asal tidak terlalu sering dan tidak menjadi kebiasaan yang permanen di dalam dirinya.

Karena orangtua tidak selamanya benar bahkan kadangkala membuat keputusan yang salah. Pada hal-hal yang jelas mendorong perilaku maksiat, maka seorang anak justru harus menentangnya. Tentunya tetap dengan cara-cara yang halus dan rasa hormat yang tinggi.

Ada beberapa orangtua yang sengaja membuat keputusan yang kurang bijak untuk memberi kesempatan bagi putranya untuk menentang keputusan tersebut. Ia memberi pengalaman kepada anaknya untuk membuat keputusan menentang dengan alasan-alasan yang logis. Pengalaman seperti inilah sebenarnya sangat diperlukan oleh setiap anak.

Kapan Seorang Anak Mulai Membantah

Seorang anak dapat mulai membantah orangtuanya bahkan ketika anak tersebut masih dalam usia dini, yaitu usia 24 bulan hingga 36 bulan. Tentunya cara membantah dan aspek yang membuat dirinya membantah sangat berbeda dengan anak-anak pada usia selanjutnya.

Suatu hari saya mengamati anak ketiga saya yang baru berumur 2 tahun 1 bulan sedang berkonsentrasi untuk mengangkat gallon kecil dengan separo air di dalamnya ke atas meja makan. Saya tahu dengan kekuatan tubuhnya saat ini, ia sebenarnya tidak akan mampu mengangkatnya.

Berangkat dari sinilah saya menghampirinya dan mencoba menawarkan diri untuk membantunya. Saya terkejut dengan reaksinya, ia mengamuk, menangis, dan menolak bantuan tersebut. Akhirnya meminta saya untuk menurunkan kembali gallon tersebut untuk ia mencoba mengangkat kembali ke atas meja.

Dalam bukunya Children Are from Heaven, John Gray, Ph.D. mengatakan, seorang anak kecil yang protes terhadap orangtuanya adalah bentuk perlawanan yang disebabkan anak sudah mulai mempunyai kemauan, keinginan, dan kebutuhan sendiri. Protes anak menandakan perkembangan kemandirian dalam diri anak, anak kerap merasa sebagai anak besar yang bisa melakukan segalanya dengan sendiri.

Pada konteks yang berbeda Erik Erikson seorang ahli perkembangan anak mengatakan usia 18-36 bulan memasuki fase otonomi. Fase tersebut ditandai dengan antusiasme melakukan segala sesuatu sendiri dan munculnya hasrat untuk mandiri. Keinginan ini tumbuh seiring dengan perkembangan kemampuan intelektual maupun fisiknya. Pada fase ini juga seorang anak berusaha untuk memiliki kontrol terhadap dirinya.

Dengan demikian apabila anak kita pada usia-usia ini menolak atau membantah untuk kita bantu, tidak berarti ia telah berubah menuju yang kurang baik, tetapi justru telah berkembang kemampuannya untuk melakukan ekplorasi terhadap lingkungan sekelilingnya.

Anak suka membantah juga dapat muncul pada rentang usia antara 8 hingga 12 tahun. Dalam rentang waktu ini anak-anak bisa tampil mengejutkan tiba-tiba menjadi sosok yang mempunyai “hobby” membantah. Setiap ucapan dan keputusan yang disampaikan orangtua walaupun logis dan baik bisa saja menjadi obyek bantahannya dengan alasan yang ia cari-cari.

Pada masa ini anak mengalami fase-fase peralihan fisik dan emosi dari rentang hidup sebagai anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini seorang anak sangat ingin menunjukkan identitas dirinya dan unjuk diri. Mereka sangat menolak sikap orangtua yang terlalu melindungi atau over protective. Ia ingin dirinya mempunyai kebebasan dan ruang untuk menentukan pilihannya sendiri.

Sikap otoriter orangtua juga sangat dibenci oleh anak-anak pada usia ini. Mereka menginginkan orangtua lebih demokratis, lebih mau mendengar pendapat mereka dan memposisikan dirinya sebagai seorang sahabat. Jika anak masih menonton televisi hingga larut malam, orangtua diharapkan tidak langsung melarangnya. Tetapi mencoba untuk melakukan negoisasi untuk menentukan batas maksimal menonton televisi, jika melanggar batasan tersebut, maka konsekuensi yang disepakati harus jelas.

Pemicu Hobi Membantah

Sikap membantah masih dapat dikategorikan wajar jika sikap tersebut muncul dari dorongan pribadi akan kondisi yang tidak sesuai dengan dirinya dan tidak sesuai dengan nuraninya. Akan menjadi tidak wajar jika anak menjadikan membantah sebagai sebuah hobby. Rasanya tidak nyaman jika hari ini ia tidak membantah orangtuanya. Ia selalu merasakan kenikmatan saat ia mampu membantah orangtuanya, sebaliknya ada yang masih kurang jika ia belum membantah.

Berikut ini beberapa situasi yang dapat menjadi pemicu munculnya hobby membantah, diantaranya adalah:

1. Anak-Anak Melihat Contoh Membantah dari Lingkungan Sekitarnya.

Mereka sering melihat ibunya membantah keputusan bapaknya, atau sebaliknya mereka sering melihat bapaknya yang selalu tidak mau mengikuti ketentuan rumah dari ibunya. Kakak yang selalu membantah bapak dan ibunya juga dapat menjadi inspirasi baginya untuk membantah kelak dikemudian hari jika ada kesempatan.

2. Mendapat Tugas di Luar Kemampuan Dirinya

Tugas-tugas dari orangtua yang terlalu berat dan diluar kemampuan dirinya untuk melakukannya. Banyak anak menolak sebuah tugas bukan karena dirinya tidak menghendaki untuk melakukannya tetapi ia memang tidak mempunyai kemampuan untuk melaksanakannya.

3. Keinginan Orangtua yang Bertolak Belakang dengan Keinginan Anaknya.

Misalnya anak menghendaki untuk memakai kaos untuk acara silaturrahmi, tetapi sebaliknya orangtua menghendaki anaknya menggunakan baju yang lebih formal.

4. Penerapan Disiplin yang Longgar

Penerapan disiplin yang telalu longgar juga dapat memicu seorang anak untuk selalu membantah. Orangtua yang tidak berani mengatakan “tidak” kepada anak, cenderung membuat anak berani menawar-nawar keputusan orangtua. Sebaliknya orangtua yang terlalu otoriter, prefeksionis, dan terlalu mendominasi membuat anak memberontak.

5. Akibat Rasa Kecewa Anak Kepada Orangtua

Rasa kecewa dan tidak puas terhadap orangtua juga dapat mendorong anak untuk selalu membantah. Seperti orang tua yang sudah menjanjikan kepada anak untuk memberikan hadiah, tetapi karena alasan tertentu orang tua tidak jadi memberikan hadiah tersebut.

Kiat Mengatasi Anak Suka Membantah

Berangkat dari beberapa pemicu munculnya sikap suka membantah, beberapa kiat yang dapat kita lakukan untuk mengatasi anak yang suka membantah, diantaranya:

1. Memberi Contoh untuk Tidak Suka Membantah

Hal di atas dapat kita lakukan dengan meningkatkan kesabaran dan tidak mudah terpancing untuk marah, mencari tahu penyebab anak membantah, dan memberi nasehat kepada anak dengan ucapan-ucapan yang baik. Semakin orangtua menunjukkan amarah dan kejengkelan saat menasehati anak, maka semakin anak-anak akan membantah kita.

Menunjukkan rasa empati dengan sebisa mungkin memberi pengertian seandainya anak melakukan kesalahan. Jika materi bantahannya ada kebaikan dan masuk akal, orangtua dapat bersikap lebih bijak untuk menerimanya. Di saat santai orangtua bisa menasehati anak untuk tidak suka membantah dan menyampaikan kesedihan kita jika anak suka membantah.

2. Memperhatikan Nada Bicara

Sebagai orangtua kita harus selalu introspeksi diri apakah kita berbicara dengan sikap seorang bos yang tanpa kompromi, menggunakan kata tolong di awal kalimat, berkomunikasi dalam suasana yang akrab, tidak pelit untuk menghargai, dan menghargai pendapatnya untuk mencari solusi yang terbaik..

3. Tidak Memunculkan Kata-Kata Ancaman

Menghindarkan diri untuk sering mengancam, karena sering mengancam justru menumbuhkan kebencian pada diri anak.

Komunikasi Tanpa Bantahan

Sebenarnya inti dari permasalahan anak suka membantah adalah tidak terjadinya komunikasi yang harmonis antara anak dan orangtua atau sebaliknya. Ketidakharmonisan ini dapat disebabkan oleh cara komunikasi yang kurang baik maupun materi komunikasi yang memang tidak dapat diterima. Komunikasi tanpa bantahan adalah sebuah bentuk komunikasi yang kita dapat lakukan sehingga dapat meminimalkan terjadinya bantahan dari anak.

Dalam buku Nanny 911 dijelaskan beberapa teknik dasar berbicara pada anak. Teknik-teknik ini telah terbukti sangat efektif dalam mengurangi bantahan anak-anak saya. Di antara teknik tersebut adalah:

  1. Turunkan tubuh kita setinggi anak, dapat dengan duduk atau berlutut.
  2. Tatap matanya, proses ini sangat penting. Jika diperlukan kita dapat memalingkan kepala anak dengan tangan kita, tentunya dengan lembut hingga anak dapat menatap mata kita.
  3. Jika anak sangat marah, kita dapat mengusap punggung atau perutnya. Kita tidak perlu memeluk atau menarik anak dengan kita ketika sedang berbicara kecuali anak dalam kondisi sangat histeris dan perlu ditenangkan (Jika anak histeris, biarkan anak tenang sebelum memulai percakapan apapun. Minta mereka menarik napas dan bantu mereka melakukan hal tersebut).
  4. Ubah nada suara kita. Berkatalah dengan suara yang tegas tetapi lembut. Suara kita secara alami naik turun ketika kita sedang bahagia atau ketika sedang senang. Suara serius adalah suara yang tidak tinggi. Seperti saat kita melihat seorang anak yang memukul-mukul ibunya kita dapat berkata, “Kamu hentikan ini sekarang juga. Jangan pernah lakukan itu kepada ibumu lagi.” Kemudian, anak itu langsung mendapatkan konsekuensi logis dari apa yang telah ia lakukan.
  5. Beri kata-kata kepada anak untuk membantu mengalirkan percakapan. Contoh, “Coba ikuti ibu,” kemudian “Apa yang membuat kamu kesal?”
  6. Ulangi apa yang dikatakan oleh si anak. Ini menunjukkan kepada mereka kalau kita benar-benar mendengarkan.
  7. Jangan menyela, biarkan anak menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan tanpa selaan dari kita.
  8. Tetap tenang, bagaimanapun gejolak hati kita. Ketenangan kita menghadapi mereka akan mendorong mereka untuk lebih tenang dari sebelumnya.

Dalam menjalankan teknik-teknik di atas ada beberapa anjuran dan larangan yang dapat meningkatkan hasil dari komunikasi tanpa bantahan ini, diantaranya:

  1. Katakan ayah/ibu sayang setiap hari. Banyak orang tua yang menyayangi anak-anak mereka namun sangat jarang mengungkapkan kesayangannya dalam bentuk kata-kata yang jelas.
  2. Buktikan kalau kita mendengarkan dengan mengatakan, “Ayah/Ibu mendengarkan,” atau mengulang apa yang telah anak-anak sampaikan.
  3. Ajari anak-anak untuk bernafas, menarik napas akan mengalihkan perhatian dan menjadikan jiwa lebih tenang dari sebelumnya.
  4. Hormati perasaan anak, apapun yang disampaikan anak tentang perasaannya kita harus menerimanya.
  5. Ubah ekspektasi kita terhadap anak. Orangtua seringkali mempunyai ekspektasi yang terlalu tinggi sehingga memberatkan anak untuk mencapainya.
  6. Gunakan humor, buat mereka tertawa. Salah satu cara untuk mencairkan suasana dikeluarga dengan melontarkan humor dan lelucon. Tentunya humor yang masih dalam batas-batas pendidikan.
  7. Jangan membuat janji yang tidak bisa kita tepati. Jangan berkata, “Ayah/Ibu janji kalau melakukan ini sekali lagi kamu akan mendapatkan hukuman,” dan kemudian anak melakukan perbuatan tersebut namun ia tidak mendapatkan hukuman yang dijanjikan.
  8. Jangan memaksa anak untuk berbicara pada saat ia marah. Anak- anak seringkali membutuhkan waktu untuk menenangkan diri sebelum mereka berbicara secara rasional. Begitu pula kita orang dewasa.
  9. Jangan terlalu sering berkata “jangan”. Gunakan kata “jangan” hanya dalam kondisi darurat dan sangat ekstrem.
  10. Jangan berteriak, karena berteriak adalah bentuk komunikasi yang paling tidak berguna antara orang tua dan anak. Hasil dari sebuah teriakan hanyalah meningkatkan level adrenalin, membuat orang lain tambah kesal, dan situasi semakin buruk.
  11. Jangan cerewet, cerewet itu seperti bentakan. Ketika orangtua cerewet, maka telinga-telinga kecil mulai menutup.

Anak membantah adalah peristiwa yang wajar, anak suka membantah adalah peristiwa kurang wajar. Pastikan kita orangtua menghilangkan kekurangwajaran ini dengan membangun komunikasi yang baik dengan anak.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.