Anak Suka Menggigit dan Memukul

Saya mempunyai tetangga yang sedang berbahagia dengan putra kecilnya yang bernama Dodi. Ia adalah tipe seorang anak yang sangat aktif dengan rasa ingin tahu yang besar, dan mempunyai otot tubuh yang kuat. Ada moment yang tidak mungkin saya lupakan dengan anak ini. Suatu saat Dodi mendekati temannya Fahd. Tiba-tiba sebuah pukulan cukup kuat dari tangan Dodi mendarat tepat di dada Fahd yang membuatnya jatuh terjerembab dan menangis dengan histeris.

Ini baru awal cerita, sesaat kemudian datanglah mama Dodi dalam kondisi emosi mendekati Dodi dengan pukulan bertubi-tubi tepat pada tangan yang tadi dipakainya untuk memukul temannya. Sambil mengatakan, “Dasar anak nakal, kalau tidak saya pukul tangan ini, maka kamu tidak kapok-kapok.” Mendapatkan pukulan dari mamanya Dodi menangis keras.

Apakah Dodi mempunyai maksud untuk menyakiti temannya? Apakah Dodi layak mendapatkan pukulan dari mamanya? Apa yang dipelajari oleh Dodi dari sikap emosi mamanya? Apakah Dodi akan segera menghentikan perilaku agresifnya setelah mendapatkan perlakuan dari mamanya?.

Melihat kejadian di atas, saya langsung teringat tentang betapa banyaknya anak-anak di seluruh dunia yang mengalami nasib seperti Dodi. Mereka tidak bermaksud melukai dan menyakiti temannya, tetapi tindakan yang terlihat memang sedang menyakiti dan melukai.

Padahal semua itu mereka lakukan justru karena ingin berkenalan tetapi mereka tidak mengetahui cara berkenalan yang baik, atau mereka merasa tidak nyaman akan kehadiran temannya, tetapi mereka tidak mempunyai cukup kata untuk mengungkapkan rasa tidak nyamannya.

Sayangnya, banyak guru yang masih mempunyai paradigma yang sama dengan para orangtua, bahwa perilaku menggigit, memukul dan menendang adalah perilaku anak nakal yang harus ditangani dengan membuat anak jera untuk melakukannya lagi. Ketika mereka menemukan siswa melakukan pemukulan sering dipandang sebagai anak yang suka berkelahi dengan temannya.

Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa perilaku agresif anak seperti memukul dan menggigit adalah perilaku normal dalam perkembangan anak. Usia sekitar 2-3 tahun bisa dikatakan sebagai usia transisi awal perkembangan anak, di mana anak sedang mengalami keinginan yang sangat besar untuk menjadi mandiri.

Di lain pihak, kemampuan bahasa anak masih belum mencapai tahap yang cukup untuk bisa berkomunikasi dengan sempurna. Gap terhadap kedua kemampuan yang sedang berkembangan ini akan dilepaskan oleh anak dalam bentuk tindakan fisik seperti bertindak agresif dan sejenisnya. Memang cara itulah yang paling mudah dilakukan oleh anak untuk mengungkapkan emosinya.

Dengan mengetahui apa yang sedang terjadi pada diri anak, kita menjadi lebih tenang dan tidak perlu terlalu khawatir melihat perilaku agresif anak kita (tentunya perilaku agresif yang tidak terlalu kelewatan). Jangan sampai perilaku agresif anak membuat kita panik, yang berakibat pada perlakuan keras pada anak.

Kemampuan kita mengendalikan emosi dan rasa marah merupakan langkah awal yang akan menentukan apakah kita dapat mengendalikan perilaku agresif anak. Bagaimana mungkin kita meminta anak untuk tidak memukul atau menggigit temannya, sementara kita sendiri menghentikannya dengan cara memukul. Mereka akan meniru perilaku lingkungan terhadap dirinya.

Penyebab Suka Menggigit dan Memukul

Berikut ini beberapa sebab yang mendorong anak untuk berperilaku agresif seperti menggigit dan memukul, diantaranya:

1. Minimnya Kemampuan Komunikasi dengan Anak

Keterbatasan kemampuan komunikasi terhadap emosi dan masalah yang dihadapi oleh anak. Anak yang belum pandai berkomunikasi, kadang suka menggigit dan memukul untuk mengungkapkan keinginan atau ketidaknyamanan. Dalam kondisi terjepit menggigit dan memukul adalah salah satu cara untuk memecahkan masalahnya.

2. Korban Kekerasan

Sebagian anak-anak yang terlalu agresif pernah menjadi korban perilaku agresif. Orangtua, saudara, teman, atau pengasuh yang melakukan tindak kekerasan bisa membuat anak meniru perbuatan tersebut.

3. Terlalu dimanjakan.

Anak yang terlalu dimanjakan juga bisa menjadi agresif. Anak yang selalu mendapatkan apa yang diinginakan bisa menjadi agresif baik secara verbal maupun fisik terhadap anak lain karena mereka berkuasa dan tidak mau berbagi atau tidak bisa menerima jika keinginannya tidak segera dipenuhi.

4. Permainan Bergumul.

Bagi sebagian anak, perilaku agresif juga bisa diakibatkan meniru permainan. Bergumul dan menggoda bisa dianggap sebagai cara menunjukkan rasa sayang, dan memukul merupakan cara berinteraksi.

5. Penyakit dan Alergi.

Ketegangan dan rasa frustrasi yang timbul akibat penyakit, alergi, atau kelemahan yang tidak disadari orang bisa membuat anak bersikap agresif.

Membalas Menggigit dan Memukul

Saya pernah ditanya oleh seorang ibu tentang perilaku menggigit putranya yang sudah keterlaluan. Dalam kondisi berputus asa akhirnya ia melakukan pembalasan terhadap gigitan yang dilakukan oleh putranya.

Dengan gigitan balasan tersebut ia berharap putranya dapat juga merasakan akibat perbuatannya, sehingga ia akan meninggalkannya. Cara ini terbukti dapat menjadikan putranya meninggalkan kebiasaan menggigit tersebut. Apakah cara ini tidak memberikan efek negatif bagi putranya?

Pertanyaan tentang menggigit dan memukul yang dibalas dengan gigitan dan pukulan memang sering disampaikan oleh para orangtua. Walaupun saya mencoba untuk menerima hal tersebut, tetap secara hati dan perasaan saya tidak dapat menerimanya.

Tidak seorangpun yang ingin digigit dan dipukul oleh anak-anak. Meskipun mereka seringkali melakukannya tanpa bermaksud menyakiti diri kita. Tetapi gigitan dan pukulan tersebut seringkali cukup menyakitkan diri kita. Kemudian dengan cara menggigit dan memukul pula kita ingin membuat mereka merasakan hasil perilakunya.

Saya tidak menyarankan perilaku balas membalas ini tumbuh pada diri anak. Lebih baik kita mengajarkan kepada anak bentuk perilaku lain seperti mengatakan “tidak” dengan tegas dan ajarkan agar anak terbiasa untuk mengelus dan memeluk.

Biasanya ini lebih berhasil bagi anak. Tahapan dimana anak suka menggigit dan memukul tidak berlangsung lama dan setidaknya anak belajar bahwa orang dewasa tidak suka menggigit dan memukul.

Ekspresi Marah

Anak-anak kecil perlu dibimbing kalau mereka marah tidak boleh menggigit dan memukul. Kita dapat mengatakan kepada mereka: “Coba pikirkan hal-hal yang bisa dilakukan saat kita marah. Apa yang kita lakukan kalau kita tidak marah?” Ini akan membantu mereka untuk memunculkan kata-kata sebagai ekspresi perasaan saat marah dan alasan marah.

Kita dapat menyarankan kepada mereka, “Kalau kamu merasa harus menendang sesuatu saat marah, kamu boleh keluar rumah dan menendang bola.” Atau menanyakan, “Apa yang bisa kita tendang?”, “Tangan gunanya untuk apa?” berdoa, bertepuk tangan, dan memegang sesuatu. Bukan untuk memukul.

Anak-anak yang lebih besar juga perlu mengatasi kemarahan mereka dengan kata-kata, bukan dengan kepalan dan gigitan. Akui kemarahannya, dan katakan, “Kamu marah sekali karena dia mengambil bukumu. Ibu/Ayah mengerti. Itu juga akan membuat Ibu/Ayah marah. Tetapi masalahnya bukan kemarahan kamu, tetapi pukulan yang kamu lakukan.”

Segera setelah anak kita dapat mengeluarkan perasaan yang menyebabkan kemarahannya sehingga dia memukul, keinginannya untuk memukul akan hilang.

Kegagalan orangtua membimbing anak dalam mengekspresikan marah akan berakibat anak selalu melampiaskannya dalam bentuk pukulan dan gigitan hingga mereka tumbuh dewasa. Kita mungkin masih sering melihat anak yang menginjak usia remaja saat marah tidak ada kata-kata yang muncul dari dirinya, tetapi yang muncul hanyalah pukulan kepada orang yang membuatnya marah atau memukul benda-benda di sekitarnya.

Beberapa orangtua mengeluh tentang perilaku anaknya yang tidak mau dilarang saat ia memukul, bahkan ia semakin kalap jika larangan memukul dan menggigit tersebut disampaikan berkali-kali.

Kebanyakan orang, dewasa atau anak-anak, tidak menyukai kata “tidak”. Namun kita semua harus belajar menerimanya dengan baik. Berikut ini beberapa langkah yang dapat kita lakukan saat anak semakin kalap jika kita larang mereka untuk terus memukul.

Pertama, anak kita harus mulai belajar menerima bahwa “tidak” berarti “tidak”. Ini artinya, kita dan pengasuh anak harus bersikap konsisten. Jika kita telah memutuskan bahwa ia tidak boleh melakukan sesuatu, maka tidak ada negoisasi dengan anak. Yang ada hanyalah sikap tegas.

Kedua, kita menjelaskan kepada anak bahwa menggigit dan memukul sama sekali tidak diperbolehkan. Itu bukanlah perbuatan yang baik dan kita memberi kesempatan kepadanya untuk mengungkapkan kemarahannya. Jika ia masih mengulangi perbuatannya, kita dapat memberikan konsekuensi logis seperti time out atau mengurangi sesuatu yang disenanginya.

Ketiga, seusai sebuah konsekuensi logis diberikan kepada anak, maka kita tidak perlu mendiskusikan kembali persoalan tadi. Pastikan akan muncul kesadaran bahwa ia tidak boleh menyakiti orang lain setiap kali marah dan emosi.

Tips Agar Anak Tidak Berperilaku Agresif

Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan oleh para orangtua untuk mencegah dan mengurangi perilaku agresif anak, diantaranya:

1. Menciptakan Suasana Nyaman

Adanya suasana yang nyaman akan membuat perasaan anak juga lebih nyaman dan rileks. Hal ini bisa meminimalkan timbulnya emosi negatif yang menjadi sumber perilaku agresif anak.

2. Mengajarkan Anak untuk Berkomunikasi dan Mengungkapkan Emosi.

Agar anak tidak terbiasa mengungkapkan emosinya dalam bentuk perilaku agresif orangtua perlu melatih komunikasi yang baik setiap muncul emosi dari diri anak. Pada mulanya latihan ini dapat berupa memberikan kata-kata kepada anak pada setiap ekspresi emosi positif maupun negatif.

3. Memberi Perhatian Cukup

Kadangkala anak berperilaku agresif dengan menggigit dan memukul untuk mencari perhatian. Karena itu, berilah perhatian yang cukup untuk anak, meluangkan waktu untuk menemaninya bermain, dan mendampingi saat mereka belajar.

4. Memperhatikan Pola Makan Anak.

Anak harus dibiasakan untuk makan secara teratur, jangan sampai ia kelaparan, sebab bisa jadi anak menggigit untuk memberi tahu bahwa ia sedang lapar.

5. Memberi Waktu Istirahat yang Cukup.

Kondisi fisik yang lelah bisa mempengaruhi emosi anak. Karena itu anak harus dijaga jangan sampai terlalu kelelahan. Dengan memberikan waktu yang cukup untuk istirahat berarti telah menghindari munculnya perilaku-perilaku agresif anak.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.