“Hai Ris, Ayahku tadi pagi baru saja datang dari Kalimantan. Kamu tahu nggak? Ayahku membawa banyak sekali oleh-oleh,” begitu ungkapan Andi pada Haris teman bemainnya. Ia tampak bangga dan senang sekali. Namun, perasaan bahagia yang dirasakan Andi tidak sedikitpun dirasakan oleh Haris, sebab Andi hanya bisa menunjukkan mainan dan kue oleh-oleh dari Kalimantan.

Ia hanya bisa pamer mainan yang dimilikinya, sementara Haris hanya bisa gigit jari dan menelan ludah. Lima menit setelah itu, mata Haris tampak mulai berkaca-kaca dan sejurus kemudian Haris pun menangis, karena kecewa dengan sikap Andi yang hanya mempermainkan perasaannya. Andi pelit dan tidak mau berbagi, mainan dan kue oleh-oleh ayahnya hanya sebatas ditunjukkan saja tanpa bermaksud memberi.
Kekecewaan Haris dilatarbelakangi oleh sikap Andi yang tidak mau berbagi. Sikap Andi yang pelit berimplikasi pada keberadaan teman-teman yang semakin menjauh. Hari ini tanpa teman bermain, seolah tidak masalah bagi Andi. Karena ia dilimpahi dengan barang kesukaan oleh ayahnya.

Namun, dengan berjalannya waktu Andi merasa terkucil dari teman-teman sepermainannya. Bahkan tidak jarang para ibu dari anak-anak yang pernah dikecewakan oleh Andi juga merasa gemas dan antipati terhadap kehadirannya. Karena bagi Ibu-ibu, sikap Andi terkesan seenaknya sendiri tanpa mempedulikan orang lain, namun dikala ia membutuhkannya, tak jarang ia merajuk untuk memaksakan kehendaknya itu.
Seperti saat Haris memiliki mainan baru yang dibelikan ibunya, tampak Andi tergiur untuk meminjamnya. Sontak Haris pun merebut mainannya kembali dan berlari meninggalkan Andi. Andi menangis dan kecewa, tapi Haris tak menggubris sama sekali sebagai sikap balas dendam.
Kejadian seperti di atas, seringkali kita jumpai dalam interaksi sosial anak-anak kita. Terkadang kita bisa memaklumi, namun tidak jarang pula kita gemas melihat sikap Andi tersebut. Terlebih bila yang menjadi korban adalah anak kita sendiri.
Dengan memperhatikan rangkaian kejadian di atas, maka ada dua pertanyaan yang muncul di benak kita. Mengapa Andi bersikap tidak mau berbagi dengan temannya? Apa yang melatar belakangi timbulnya perilaku pelit pada Andi?

Pemicu Munculnya Perilaku Tidak Mau Berbagi Pada Anak
Andi atau anak yang setipe dengannya adalah bagian dari lingkungan keluarga. Hampir seluruh perilaku yang muncul pada anak seusia Andi sekitar 4-6 tahun adalah pengaruh dari lingkungan keluarga, karena bagaimanapun juga keluarga memiliki kontribusi peran yang tidak kecil dalam meng-create perilaku anak.
Tetapi hal di atas tidak berarti sikap Andi selalu menggambarkan sikap kedua orangtuanya. Artinya bila Andi pelit, maka belum pasti orangtuanya juga pelit, meskipun tidak menutup kemungkinan hal itu sesungguhnya terjadi.
Kita kali ini akan mencoba meneropong lebih jauh sikap Andi yang tidak mau berbagi dengan temannya. Andi merasa bahwa barang kepunyaannya adalah miliknya saja, dan tidak perlu ada orang lain yang turut ambil bagian, sehingga ia berharap bisa bebas ‘menikmatinya’. Andai ia harus berbagi, maka Andi merasa ada sesuatu yang hilang dari benaknya dan itu sangat menyiksa batinnya.
Andi dan barang miliknya adalah satu dan tak terpisahkan. Mungkin penggalan kalimat ini cukup bisa menggambarkan ikatan emosi antara anak dan barang yang dimilikinya. Sikap egosentris pada anak telah menjadikan dirinya sebagai pusat orientasi. Sikap ini terasa kental saat anak memasuki usia 3 tahun. Orang mengenalnya dengan masa trotz atau usia membangkang.

Dalam logika psikologi, seiring dengan berkembangnya usia fisik, maka berkembang pula sikap mentalnya. Namun ritme perkembangan mental pada anak sangat dipengaruhi oleh sikap lingkungan terutama keluarga. Sikap egosentris akan terasa tetap menempel meskipun usianya sudah cukup besar, lantaran orangtuanya tidak memberikan respon positif terhadap perilaku yang muncul.
Anak menganggap bahwa perilakunya sah-sah saja tanpa harus direvisi. Terlebih bila sikap orangtuanya memang kaku dan cenderung egois, maka tidak heran bila ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’. Dalam darah anak telah mengalir sifat pelit dari orangtuanya.
Dalam kacamata berbeda, sikap anak untuk tidak mau berbagi bisa juga dipicu oleh intensitas kekecewaan yang membalut perilakunya. Ia menganggap bahwa tidak ada feed back positif terhadap perilaku berbaginya. Bahkan dalam contoh kasus di atas, Haris menjadi tipikal dalam munculnya perilaku ini.
Ia berubah menjadi pelit karena balas dendam pada Andi. Mungkin saat ini hanya Andi yang diperlakukan seperti itu oleh Haris. Tapi tidak menutup kemungkinan dalam rentang waktu tertentu, Haris pun akan ‘menikmati’ pula sikap pelitnya itu.
Pada fase perkembangan, anak lebih banyak ‘dininabobokkan’ oleh motivasi eksternal. Orientasi fisik-kebendaan (materialistis) masih dirasa cukup kental untuk usia anak-anak. Barang yang tidak dibagikan atau mainan yang tidak dipinjamkan pada orang lain akan bertahan pada porsi awal, sehingga ada jaminan seratus persen bahwa hanya dia yang menikmatinya.
Berbeda, bila makanan harus dibagi dengan orang lain, maka terasa ada yang berkurang jumlahnya. Demikian pula dengan mainan yang harus dipinjamkan pada teman, maka tidak menutup kemungkinan, akan cepat rusak, minimal cepat kotor.

Dari uraian di atas, pemicu munculnya perilaku anak tidak mau berbagi dengan orang lain adalah sebagai berikut :
a. Anak Mengalami Perpanjangan Masa Trotz.
Hal ini berimplikasi pada perilakunya yang masih terbalut oleh sikap egosentris, sehingga pengaruh egonya cukup dominan.
b. CAPER (Mencari Perhatian)
Mencari perhatian dengan bersikap antagonis agar terkesan berbeda dari yang lain.
c. Orangtua Membiarkan Anak Tidak Berbagi
Sikap orang tua yang cenderung ‘membiarkan’ anaknya untuk tidak mau berbagi dengan orang lain, karena menganggap hal itu wajar terjadi pada usia anak-anak, sehingga tidak perlu direspon secara berlebihan.
d. Pengaruh Lingkungan Rumah
Lingkungan rumah yang bernuansa individualistik dan seolah tidak butuh tetangga. Kondisi ini biasanya menimpa keluarga yang hidup di lingkungan perumahan elit atau bahkan perumahan dengan strata ekonomi menengah ke atas.
Hampir boleh dibilang antara satu tetangga dengan tetangga yang lain tidak saling tegur sapa karena ‘kesibukan’ masing-masing. Tidak sedikit imbasnya pada anak-anak yang tidak bisa leluasa keluar rumah untuk ‘bertetangga’ (bermain dengan teman seusia yang menjadi tetangganya).
e. Sikap Egois Orangtua
Sikap egois orangtua kepada orang lain akan melahirkan anak dengan tipe yang sama. Tingkah laku anak dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor genetis dan faktor lingkungan terutama keluarga.
f. Merasa Tidak Mendapat Manfaat
Anak tidak merasa mendapatkan manfaat apapun saat ia berusaha berbagi dengan temannya. Termasuk didalamnya adalah sikap lingkungan yang tidak memberikan apresiasi terhadap perilaku positifnya itu.
g. Orangtua Tidak Peka
Orangtua tidak jeli melihat dampak positif dari perkembangan emosi anak, bila anak terbiasa berbagi dengan orang lain. Terlebih bila dikaitkan dengan konteks sedekah.
Tips Agar Anak Terbiasa Berbagi Dengan Orang lain.
- Berilah support (dukungan) pada anak saat ia terlihat ingin berbagi dengan temannya.
- Berilah contoh nyata, ketika anda memberi uang sedekah pada pengemis dan bahkan ajarkan pada anak agar tangannya sendiri yang memberikan uang itu, sehingga kesannya cukup dalam.
- Tanamkan sejak kecil agar anak terbiasa bersedekah dan tunjukkan manfaatnya bila kita rajin bersedekah.
- Jadikan habituasi (kebiasaan) dalam keluarga untuk rajin dan istiqomah dalam menjalankan program sedekah. Satu misal, dengan memberikan uang jajan ‘lebih’ untuk ditabung, baik ditabung dalam pengertian menyisihkan uang untuk antisipasi memenuhi kebutuhan ananda dilain waktu maupun ditabung dalam pengertian disedekahkan, yang manfaatnya bisa kita rasakan di dua alam, baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia ada jaminan dari Allah bahwa uang yang kita sedekahkah akan dilipat gandakan hingga 70 kali (Al Hadist) dan investasi pahala untuk merangsang turunnya rahmat Allah kelak di akhirat.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

