Sekilas judul tulisan ini sedikit membingungkan. Bagaimana mungkin aturan yang sangat identik dengan batasan-batasan justru membuat anak lebih bebas. Sebagaimana anak yang sedang bebas bermain bola di lapangan, tiba-tiba kita memberi aturan dalam permainan mereka. Tentu aturan tersebut tidak malah membuat mereka bebas bermain, tetapi justru sebaliknya mereka merasakan batasan dalam permainan tersebut.
Namun cerita berikut ini mungkin dapat menjadi kontra pemahaman dan sekaligus menjadi sedikit penjelas dari aturan yang membebaskan anak. Saya sering jengkel ketika melewati satu perempatan jalan dekat rumah saya. Karena saya sering mengalami kemacetan yang sangat parah saat melintasinya. Semua kendaraan tidak ada yang mau mengalah dan memberikan jalan bagi kendaraan yang lain. Bahkan pada beberapa waktu saya mengalami deadlock tanpa mampu keluar dari kondisi tersebut.
Namun kondisi perempatan tersebut saat ini sudah sangat berubah semenjak hadirnya lampu lalu lintas pada perempatan tersebut. Memang perjalanan saya agak tersendat sedikit saat menunggu lampu hijau. Tetapi secara keseluruhan semua berjalan dengan lancar dan tidak pernah mengalami macet lagi.
Sebelum adanya lampu lintas pada perempatan tersebut saya sering mengalami kondisi yang tidak lega karena khawatir menjumpai kemacetan atau berusaha menghindarkan mobil dari gesekan mobil yang lain. Namun adanya lampu lintas tersebut membuat perjalanan saya semakin lega dan merasa bebas Karena hilangnya kekhawatiran tersebut. Lampu lalu lintas yang membebaskan tersebut adalah aturan baru pada perempatan tersebut.
Logika yang serupa dengan di atas sebenarnya telah termaktub dalam Al Quran surat Al Baqarah 179 “Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa”
Kita mungkin agak bingung dengan redaksi tekstual ayat ini bahwa hukum qishas justru memberi jaminan kehidupan manusia, padahal di dalam qishas terdapat hukuman untuk membunuh bagi si pembunuh. Namun pemberlakuan hukum qishash secara konsisten akan membuat orang-orang yang berfikir atau mempunyai niat untuk membunuh mengurungkan niatnya.
Karena mereka telah melihat dengan jelas apa hukuman bagi mereka yang membunuh. Akhirnya berkuranglah tindak pembunuhan dan meningkatkan jaminan kehidupan bagi manusia
Tentunya tidak semua aturan pada anak akan membuat anak lebih memiliki kebebasan pada kehidupannya. Ada beberapa karakteristik aturan yang dapat membebaskan anak dan layak bagi kita orangtua untuk menerapkannya, diantaranya adalah :
1. Aturan yang Memang dibutuhkan oleh Anak-anak.
Seperti saat sebuah keluarga memiliki tiga orang anak yang duduk di SMP dan SD, sementara mereka hanya memiliki 1 laptop untuk bermain game. Tentu membangun kesepakatan penggunaan laptop pada hari libur menjadi hal yang sangat dibutuhkan.
Kesepakatan tersebut akan membuat mereka merasa lebih bebas saat menggunakan laptop tanpa gangguan dari saudaranya dibanding jika tidak ada kesepakatan. Namun ada aturan yang tidak dibutuhkan memang akan membatasi ruang gerak anak. Seperti sebuah keluarga yang mempunyai beberapa anak dan membuat kesepakatan tempat duduk dalam mobil keluarga tersebut, tentu aturan ini justru merepotkan keluarga itu sendiri.
2. Aturan yang Jelas dan Mudah difahami Anak.
Aturan seperti ini ibarat tembok pembatas yang tinggi dan kokoh dari dua wilayah yang boleh dimasuki dan tidak boleh dimasuki. Sementara aturan yang kurang jelas dan sulit dipahami oleh anak seperti batas yang hanya terbuat dari tali rafia yang mudah diterobos dan ditembus.
Seperti aturan mengembalikan barang pada tempatnya, sementara kita belum menyediakan tempat atau tulisan yang menunjukkan di mana tempat barang tersebut di rumah. Tentu aturan ini akan sulit untuk dilakukan oleh anak karena mereka belum mengetahui tempat setiap barang di rumah.
Pada keluarga yang membangun aturannya dengan jelas dan mudah difahami oleh anak akan menumbuhkan anak-anak yang mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Karena ia mengetahui mana perilaku di rumah yang diperbolehkan dan mana perilaku yang tidak diperbolehkan
3. Aturan yang diterapkan Secara Konsisten pada Keluarga.
Beberapa aturan yang dilaksanakan tidak dengan konsisten justru membuat anak merasa lebih terbebani dibandingkan jika aturan itu dilaksanakan dengan konsisten. Seperti aturan duduk di atas meja, jika penerapannya tidak konsisten saat ada tamu diterapkan dengan baik, namun jika tidak ada tamu tidak diterapkan tentu akan membuat anak merasa terbebani dengan peraturan ini
4. Aturan yang dijadikan Kebiasaan.
Sebagai hasil dari konsistensi penerapan aturan adalah terjadinya habit/kebiasaan pada peraturan tersebut. Analoginya adalah saat saya melakukan perjalanan pertama dari Pondok Langitan Tuban menuju kota Malang, tentu saya merasakan kelelahan yang luar biasa. Namun rasa lelah itu akan semakin berkurang jika saya melakukannya berulang kali. Seperti setiap pekan 3 hingga 4 kali perjalanan pulang-pergi.
Rahasia dari hilangnya rasa lelah ini adalah karena saya mulai terbiasa melakukannya. Begitu pula sebuah aturan untuk mencuci piring bagi putra/putri kita di rumah. Saat ia melakukannya untuk pertama dan kedua kali, ia akan merasakan kelelahan dan berat. Namun seiring waktu yang dilaluinya, maka kegiatan mencuci piring tersebut adalah hal yang sangat ringan baginya. Maka buatlah aturan itu sebagai kebiasaan anak-anak kita.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari Buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


