Berani Lulus dan Berani Tidak Lulus

Ada dua tim sepakbola dunia yang menjadi favorit saya, yaitu Arsenal dan Barcelona. Keduanya mempunyai karakter permainan yang hampir mirip; operan cepat antar pemain, keterampilan individu di atas rata-rata, dan penguasaan bola yang menonjol.

Kedua tim ini terpaksa harus bertemu pada perdelapan Liga Champion final tahun pada tahun 2011 lalu. Leg pertama dilangsungkan di Stadion Emirates, kandang Arsenal. Hasil pertemuan pertama ini dimenangkan oleh Arsenal dengan skor 2-1. Setelah pertandingan tersebut, muncul beberapa pernyataan dari pemain dan pelatih kedua kubu, diantaranya pelatih Barcelona, Pep Guardiola pada saat itu berkata, “Kami harus belajar dari kekalahan ini.” Sedangkan dari kubu Arsenal, “Kami layak menang karena kami yang terbaik saat ini.”

Beberapa pekan kemudian diadakan pertandingan antar keduanya, kali ini di Stadion New Camp, Barcelona. Hasil pertandingan pada leg kedua adalah 3-1 untuk Barcelona. Dengan hasil leg kedua ini sekaligus meloloskan Barcelona ke babak berikutnya, yaitu perempat final Liga Champion.

Ada kejadian yang menegangkan pada leg kedua, yaitu pemberian kartu merah ke salah seorang pemain Arsenal yang bernama Robin Van Persie karena menendang bola setelah wasit meniup peluit tanda offside. Serta merta keputusan kontroversial ini mendorong kubu Arsenal mengajukan protes keras terhadap wasit.

Dari hasil pertandingan leg kedua ini kembali muncul komentar dari kedua kubu. Pelatih Barcelona menyampaikan empatinya kepada Arsenal, “Kami memahami sungguh berat bagi tim manapun hanya bermain dengan 10 pemain, termasuk Arsenal.”  Sebaliknya, dari kubu Arsenal, Robin Van Persie menyatakan, ” Wasit telah membunuh permainan kami.”

Ada analisa yang menarik dari komentar masing-masing kubu Arsenal dan Barcelona saat mereka mendapatkan kemenangan dan menderita kekalahan. Saat mendapatkan kemenangan, kubu Arsenal menunjukkan sedikit keangkuhan bahwa merekalah tim terbaik. Sebaliknya, saat ia menderita kekalahan, tim ini mencari kambing hitam.

Di pihak lain, kubu Barcelona saat mendapatkan kemenangan muncul justru menunjukkan rasa empati atas kekalahan musuhnya. Sebaliknya, saat tim ini menderita kekalahan, tidak berusaha menyalahkan pihak manapun. Kubu Barcelona mencoba untuk melakukan evaluasi diri.

Dari analisa ini mungkin kita sepakat bahwa dalam dua pertemuan di atas, tim Barcelona lebih menunjukkan karakteristik sebagai tim juara sejati dibandingkan tim Arsenal.

Pada hari-hari ini kita mungkin sedang berkonsentrasi penuh mempersiapkan anak-anak kita menempuh Ujian Nasionalnya. Segala macam daya dan upaya telah kita kerahkan untuk lebih memastikan mereka lulus ujian tersebut.

Pertanyaan selanjutnya adalah apakah kita juga telah mempersiapkan karakter mereka seperti tim Barcelona saat mereka menghadapi kemenangan dan kekalahan ?. Dengan kata lain, apakah anak-anak kita telah siap untuk lulus dan tidak lulus ?.

Anak yang siap untuk lulus adalah seorang anak yang ketika mendengar berita kelulusannya mempunyai karakteristik sebagai berikut: mengucapkan hamdalah; mendatangi kedua orangtuanya untuk mengucapkan terima kasih; mengunjungi guru-gurunya untuk menyampaikan terima kasih; dan melakukan sujud syukur.

Apakah hari ini kita dapat memastikan bahwa anak-anak kita mempunyai karakteristik seperti di atas saat mereka mengetahui informasi kelulusannya ?. 

Ada fenomena yang mungkin membuat kita prihatin atas sikap beberapa siswa saat mereka mengetahui kelulusannya. Mereka berteriak-teriak di sekolah, mencorat-coret seragam temannya, atau berkonvoi di jalan tanpa menggunakan helm. Sikap-sikap seperti ini sebenarnya lebih mencerminkan bahwa mereka belum siap menghadapi kelulusannya dengan baik.

Anak yang siap untuk tidak lulus adalah anak yang telah mempunyai persiapan mental yang baik saat takdir mereka tidak lulus. Sebagai manusia biasa, mereka memang bersedih dan menangis saat mengetahui dirinya tidak lulus. Namun, kesedihan tersebut lantas tidak membawa mereka pada perilaku nekat dengan cara merusak diri atau tenggelam dalam kesedihan yang berkepanjangan. Mungkin di antara kita bertanya tentang alasan anak harus dipersiapkan untuk tidak lulus, padahal sehari-hari kita telah bekerja keras membantunya untuk lulus.

Di dalam ujian selalu muncul dua fenomena: lulus dan tidak lulus ujian. Saat persiapan ujian telah dilakukan dan soal-soal ujian telah dijawab, maka orangtua perlu membangun kesiapan mental anak-anaknya untuk menghadapi kelulusan dan ketidaklulusan mereka.

Dengan mempersiapkan anak pada dua kondisi kelulusan, sebenarnya kita telah menutup munculnya kemungkinan yang tidak dapat diprediksi. Kalaupun mereka akhirnya lulus, kita juga telah memberi mereka kesiapan untuk tidak lulus, minimal menjadikan mereka lebih mudah berempati kepada teman-temannya yang tidak lulus.

Mendapatkan kelulusan itu penting tetapi tidak kalah penting adalah bersikap baik saat mendapatkan kelulusan dan ketidaklulusan.

Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”