Gila, jelek, mati kamu, kamu kayak monyet, dan lain-lain, adalah sekian dari banyak kata yang sering kami dengarkan dari mulut tiga anak laki-laki kami. Mereka sebenarnya membutuhkan energi yang sangat besar untuk menampilkannya di depan kami. Kadang kala sambil berbisik mereka menyampaikan kata-kata tersebut kepada salah satu di antara kami berdua.
Pada saat yang lain mereka bertiga secara serempak menyampaikannya kepada kami berdua. Atau mereka mencari kesempatan dihadapan para tamu dan keluarga menjadikan mereka energi guna menyampaikan kata-kata baru dan ‘lucu’ tersebut.
Pada satu sisi kami sebagai orangtua merasa bangga atas kreatifitas dan ide mereka di dalam memilih moment untuk menyampaikan atau kemampuan mereka dalam meniru kata-kata tersebut. Akan tetapi pada sisi yang lain kami prihatin mengapa mereka dengan mudah meniru jenis kata-kata tersebut, bahkan dengan energi yang menurut kami berlimpah. Ataukah karena kurangnya perhatian kami terhadap mereka saat mereka menyampaikan kata-kata yang baik?

Ada beberapa nuansa yang kami tangkap ketika mereka dengan bangga dan bersemangat menyampaikan kata-kata di atas:
1. Caper (Cari Perhatian) terhadap Orangtua
Saat menyampaikan kata-kata tersebut, tertangkap keinginan yang sangat kuat dari mereka akan perhatian dari orang tuanya. Dengan reaksi kami yang kadangkala sangat berlebihan terhadap perilaku tersebut, keinginan asli mereka untuk mendapatkan perhatian terpenuhi.
2. Bentuk Menonjolkan Diri diantara yang Lain
Di antara ketiga anak laki-laki dengan umur yang tidak terlalu berjauhan seringkali terjadi kompetisi untuk mendapatkan perhatian dari orangtua, dan salah satu cara mereka mendapatkan perhatian tersebut adalah berkata jorok. Inilah bentuk usaha mereka untuk menonjolkan jati diri mereka diantara yang lain
3. Petualangan Kata
Anak-anak usia sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan balita adalah para petualang kata. Mereka berpetualang untuk menemukan, mencoba, dan menunggu respon pendengar dari setiap kata-kata baru mereka. Tidak terkecuali kata-kata jorok yang seringkali bersuara aneh dan terdesain dalam sebuah tatanan yang pas
4. Eksplorasi Kata dan Lingkungan Anak
Ekplorasi, anak-anak sangat senang untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya termasuk kata-kata yang baru. Dalam diri anak-anak, kata-kata tersebut akan ditangkap kemudian diujicobakan kepada lingkungan mereka dan pada anak-anak yang pemberani uji coba tersebut dilakukan pada lingkungan keluarga mereka.
Saya mencoba untuk mengidentifikasi beberapa sumber munculnya kata-kata yang jorok tersebut. Ada beberapa sumber yang dapat diidentifikasi dari anak-anak kita yang sering menyampaikan kata-kata yang jorok, diantara sumber tersebut adalah :
1. Teman
Sebelum liburan anak-anak kita mungkin lebih banyak menghabiskan waktunya untuk urusan sekolah. Belajar di sekolah, mengerjakan PR dan menyiapkan pelajaran hari berikutnya. Tidak banyak kata-kata jorok yang berkembang di antara anak-anak kita.
Akan tetapi seusai liburan sekolah di mana anak lebih banyak berinteraksi dengan teman-temannya, kita mendapati anak-anak lebih banyak mengucapkan kata-kata jorok baru. Seakan-akan difase liburan tersebut anak-anak sedang panen kata-kata baru yang mayoritas jorok. Walaupun teman bukanlah produsen asli dari kata-kata tersebut, toh identifikasi asal anak mendapatkan kata-kata tersebut, mayoritas dari teman-teman mereka.
2. Televisi dan Media Sosial
Saat ini televisi dan Media Sosial adalah media yang paling banyak berinteraksi dengan anak, bahkan dibandingkan interaksi mereka dengan orangtua dan teman. Celakanya, mayoritas acara televisi dan tontonan di media sosial tidak mendukung perkembangan moral anak dengan baik.
Kata-kata yang beredar di televisi dan media sosial banyak sekali yang merupakan kata-kata yang tidak layak dikonsumsi oleh anak. Karena media ini sangat mewarnai kehidupan anak, maka otomatis kata-kata yang berkembang di dalamnya juga sangat mewarnai kehidupan anak.
3. Lagu-Lagu
Mungkin kita pernah mendengar sebuah lagu yang salah satu syairnya sebagai berikut: “Lelaki buaya darat, busyet”. Kalimat terakhir inilah yang sempat digunakan anak-anak dalam rentang waktu yang cukup lama. Syair lagu di atas hanyalah satu di antara sekian banyak syair lagu yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi oleh anak. Terlalu keras isi syairnya dan banyak kata-kata yang berkonotasi negatif.
4. Orang Dewasa Termasuk Orangtua.
Sebenarnya sumber kata-kata jorok yang hakiki adalah orang dewasa. Jika saja setiap orang dewasa termasuk orangtua menyadari untuk tidak mengatakan kata-kata jorok di depan anak-anak dan tidak memproduksi apapun baik acara televisi dan lagu-lagu yang didalamnya terdapat kata-kata yang kurang layak dikonsumsi oleh anak, maka anakpun akan jarang menemukan kata-kata tersebut dan untuk selanjutnya mereka juga tidak mencoba untuk mengatakannya.

Sampai disini, sebenarnya beredarnya kata-kata jorok di atas tidaklah merisaukan saya, karena masa edarnya sebuah kata jorok pada anak hanya sekitar 2 hingga 3 minggu. Setelah masa itu mereka cenderung melupakannya. Tetapi ada di antara kata-kata tersebut cenderung menetap pada diri anak secara permanen. Pada minggu pertama dan kedua kata-kata baru yang jorok sebenarnya disampaikan dalam konteks uji coba, menantikan respon orang dewasa terutama orangtuanya.
Saat mereka mendapatkan respon yang menurut mereka sesuai, maka mereka akan melanjutkannya dan kata-kata jorok tersebut akhirnya dapat menetap pada diri anak. Sebaliknya ketika anak tidak mendapatkan respon yang memadai dari orangtua atau orang-orang dilingkungannya, maka secara otomatis kata-kata tersebut akhirnya menghilang.
Pada awal mula seorang anak mengucapkan sebuah kata seperti ‘gila’, ‘brengsek’ atau ‘mati kamu’ dengan penuh kesadaran dia memikirkan kepada siapa ia menyampaikannya. Akan tetapi setelah kata tersebut disampaikan dan menjadi sebuah kebiasaan, anak akan mengucapkannya secara spontan, tanpa dipikir sebelumnya, dan dalam konteks yang sangat tepat.
Ada beberapa penyebab hingga perkembangan sebuah kata jorok yang semula hanyalah coba-coba, meminta perhatian dan eksplorasi menjadi kebiasaan baru yang cenderung menetap pada diri anak. Di antara penyebab tersebut adalah:
1. Reaksi yang Kurang Tepat saat Merespon Kata-kata Jorok yang Disampaikan Anak.
Salah satu prinsip modifikasi perilaku adalah: “perilaku yang salah ditimbulkan karena kesalahan belajar”. Lingkungan sangat berperan dalam pembentukan perilaku yang salah ini. Dalam kasus kata-kata jorok anak menerima reaksi yang kurang tepat, yang membuat mereka merasa menerima reward dari lingkungan ketika mengucapkan kata-kata yang kotor.
Beberapa contoh berikut ini dapat kita jadikan pelajaran, saat anak mengucapkan kata-kata kotor, orang dewasa langsung bereaksi keras/spontan dengan berteriak, “Itu jelek! Tidak boleh berbicara seperti itu, nanti mulutnya saya kasih sambel lho”. (disertai dengan nada bicara yang tidak tegas dan bahkan mungkin dengan tertawa karena perkataan itu kotor dan ‘lucu’, diusianya yang sekecil itu anak sudah bisa mengucapkan aneh tersebut).
Reaksi yang lain dengan menceritakan kebolehan anak kita kepada orang lain, padahal ia sedang di dekat kita dan ia mengamati reaksi-reaksi orang yang terlibat dalam pembicaraan itu. Atau juga reaksi dari teman-teman di sekolah yang selalu tertawa setiap kali ia menyebut kata tersebut. Contoh-contoh di atas mencerminkan, bahwa anak kita mendapatkan penguat (reinforcement) untuk kembali mengulang perkataan-perkataan kotornya dengan perasaan kagum, bangga dan bercampur senang.
2. Biasakan Anak Mendengar dan Merasakan Kata-kata yang Baik
Dahulu sebelum kita memahami kata “Jarum” sebagai sebuah nama produk rokok, kita memahami sebagai alat untuk menjahit. Tetapi saat ini setiap kali kita menyebutkan kata tersebut dihadapan khalayak ramai, maka mayoritas mereka mengasosiasikannya dengan sebuah produk rokok.
Sementara arti asli dari kata jarum sebagai alat untuk menjahit seakan-akan terlupakan. Ini dapat terjadi karena setiap jengkal tanah di negeri ini telah terjamah oleh iklan rokok Jarum. Kita selalu mendengar, melihat dan merasakan kata ‘jarum’ bukan sebagai alat untuk menjahit tetapi sebagai produk sebuah rokok.
Teori ini juga dapat terjadi pada kasus kata-kata kotor yang disampaikan oleh anak-anak kita. Jika anak selalu mendengar, merasakan, menjadi korban kata-kata yang kotor dan mencobanya dari lingkungannya, maka mereka akan merasakan bahwa kata-kata tersebut telah menjadi bagian dari dirinya. Tidak nyaman bagi mereka jika mereka tidak mengatakannya walaupun hanya dalam sehari.
3. Hindarkan Anak dari Komunitas yang Sering Berkata Jorok
Penyebab pertama dan kedua akan semakin kuat, jika seorang anak menemukan sebuah komunitas di dalamnya berkembang kata-kata yang jorok dan kotor. Seluruh anggota komunitas tersebut menyampaikan kata-kata yang kotor dan mencoba mencari kata-kata kotor yang baru lagi. Saya mempunyai tiga anak laki-laki.
Suatu hari anak kedua saya mendapatkan kata baru yang saya anggap tidak layak jika diucapkan. Dalam hitungan menit kata baru ini telah tersebar kepada anak pertama kami bahkan kepada anak ketiga kami yang masih berumur 18 bulan. Teman sebaya kadangkala memang lebih dekat interaksinya daripada orangtua sekalipun.
Dari semua keterangan di atas, orangtua sebenarnya dapat melakukan beberapa tindakan yang dapat mencegah dan mengobati di saat anak-anak mengatakan perkataan kotor. Di antara tindakan tersebut sebagai berikut:
- Orangtua tidak terlalu mempedulikan apa yang telah diucapkan oleh anak. Cukup melakukan pengawasan dan mewaspadai supaya ia tidak mengutarakan kepada teman bermainnya. Apabila perkataan tersebut tidak menjadi perhatian orang tua, maka anak akan kehilangan motivasi untuk melakukannya kembali.
- Tidak menertawakan, memarahi, dan menghukum anak jika anak belum mengerti terhadap apa yang ia sampaikan. Tetapi cukup memberikan perhatian dan pengertian agak anak dapat berkata halus, sopan dan baik.
- Berikan contoh di dalam keluarga kita kata-kata yang sopan, halus, dan baik sehingga anak terbiasa mendengarkan dan merasakan kata-kata tersebut. Seperti kata-kata terima kasih, silahkan dan mohon maaf.
- Pilih program televisi dan lagu-lagu yang terhindar dari kata-kata keras, jorok dan kotor. Jika mereka melihat televisi bimbing mereka untuk melakukan filter terhadap tayangan-tayangan yang kurang mendidik bagi anak.
- Jika anak-anak terlanjur mengucapkannya, pilih dan gantikan kata-kata tersebut dengan ungkapan lain yang lebih sopan dan halus.
- Memberi penghargaan saat anak berkata dengan perkataan yang baik dan sopan, serta beri sanksi jika anak sudah berkali-kali diperingatkan untuk tidak mengatakan kata-kata jorok tetapi masih sering melakukannya.
- Kerja sama antara pihak sekolah dan keluarga adalah hal yang perlu dilakukan, supaya dapat mengontrol jenis perkataan yang berkembang di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

