Berkata Tidak untuk Kemunkaran

Jika suatu hari anak kita yang sedang duduk dibangku SMP diajak oleh tiga teman karibnya untuk menonton tayangan film yang kurang baik, dapatkah kita memastikan bahwa ia akan menolak ajakan tersebut?. Bersyukurlah jika kita dapat memastikan bahwa anak kita akan menolaknya. Tetapi bagi kita yang ragu-ragu untuk menjawabnya, tampaknya kita masih perlu bekerja keras untuk mendidik mereka lebih baik lagi sehingga berani menolak ajakan tersebut. 

Saat ini karakteristik kemunkaran yang dihadapi oleh anak-anak kita sangatlah berbeda dengan karakteristik kemunkaran yang kita hadapi pada masa lampau. Dahulu kata pornografi, minuman keras, apalagi narkoba adalah hal-hal yang sangat abstrak ditelinga kita. Sehingga sangat jaranglah kita mendekati hal-hal tersebut apalagi terjerumus ke dalamnya. Yang paling sering kita lakukan hanyalah mencuri mangga tetangga atau mengambil beberapa pohon tebu di kebun tebu milik perkebunan.

Tetapi, kini pornografi, minuman keras, atau bahkan narkoba terasa dekat dengan dunia anak-anak kita. Mereka begitu mudah dapat mengakses atau secara tidak sengaja menjumpai pornografi, minuman keras dan bahkan narkoba di sekitar mereka. Tentunya fenomena ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi kita orangtua di dalam mendidik anak-anak kita sesuai dengan fenomena di atas.

Idealnya menghadapi seluruh kemunkaran di atas, anak-anak kita bersikap menolak sesuai dengan sabda Rasulullah;

“Dari abu Said al-Khudri, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bresabda, “Siapa diantara kalian melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya (mencegahnya) kengan tangannya (kekuasannya), jika dia tidak sanggup, maka dengan lisannya (menasihatinya), dan jika tidak sanggup juga, maka dengan hatinya (merasa tidak senang dan tidak setuju), dan demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (HR Muslim)

Beberapa langkah berikut ini mungkin dapat membantu anak-anak kita dapat menolak ajakan temannya untuk melakukan kemunkaran, di antaranya adalah :

1. Berani Menolak Kemunkaran

Seorang pemuda harus memiliki banyak pengetahuan tentang perilaku yang baik dan buruk. Pengetahuan tersebut sekaligus sebagai alat untuk mampu membedakan mana yang baik dan buruk

2. Teladan Orangtua Menolak Kemunkaran

Pengetahuan yang banyak belum menjamin seseorang mempunyai kekuatan untuk menolak kemunkaran, seorang pemuda perlu memiliki pengalaman yang banyak tentang menolak kemunkaran. Disinilah peran keluarga untuk memberi contoh di dalam menolak kemunkaran-kemunkaran kecil di rumah tangga, seperti berani mengalihkan channel televisi jika muncul secara tiba-tiba tayangan yang kurang baik

3. Mendukung Anak Menolak Kemunkaran

Memberi dukungan bagi anak untuk berani menolak kemunkaran dengan penghargaan dan motivasi bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Dukungan ini dapat mendorong munculnya perasaan senang untuk melakukan kebaikan.

4. Latihan Membuat Keputusan

Beberapa anak cukup berat untuk menolak kemunkaran karena ia tidak mempunyai keterampilan untuk membuat keputusan. Orangtua dapat memberikan latihan-latihan sederhana kepada anak di dalam membuat keputusan-keputusan kecil di dalam hidupnya

5. Menolak dengan Bijak Ajakan Negatif Temannya

Menolak ajakan teman bagi seorang remaja adalah peristiwa besar yang sering bertentangan dengan keinginan hatinya. Orangtua kadang perlu membantu putranya di dalam memilih kata-kata bijak saat menolak ajakan untuk melakukan kemunkaran dari temannya.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.