Bukan untuk Menjadi Pesuruh

Beberapa pekan lalu saya memberi workshop 2 hari untuk sebuah sekolah menengah kejuruan di wilayah Sukoharjo. Ada yang menarik dari sekolah ini yaitu dengan jumlah siswa lebih dari seribu mereka hanya mempunyai 2 tenaga kebersihan.

Dengan jumlah tenaga kebersihan yang sangat minim bukan berarti sekolah ini tidak terlihat kumuh apalagi jorok. Justru sebaliknya saya merasakan sebuah sekolah yang bersih dan rapi walaupun tetap terlihat sederhana. Apa rahasia dari ini semuanya ?.

Sekolah membangun rasa memiliki yang kuat pada siswanya akan sekolahnya dan melibatkan mereka untuk membersihkan serta merapikan semua sudut sekolah. Sehingga petugas kebersihan hanya membersihkan beberapa bagian khusus seperti closet toilet dan membuang sampai ke TPA.

Saya sempat bertanya kepada salah seorang guru apakah ini tidak menjadikan mereka mempunyai mental pesuruh?. Dengan tegasnya guru tersebut berkata justru dengan program ini kami sedang membangun pemimpin-pemimpin usaha yang mempunyai empati tinggi, pekerja keras dan tangguh dalam bekerja. Dan survei membuktikan lulusan dari SMK ini selalu diminati oleh beberapa perusahaan karena karakter mereka yang jelas.

Sebagai orangtua kita sering gamang memberikan tanggung jawab kepada anak khususnya terkait dengan tugas-tugas rumah tangga seperti menyapu atau mengepel lantai.

Padahal tugas-tugas rumah tangga tersebut pasti akan mereka temui saat telah dewasa dan berumah tangga. Ada kekhawatiran anak kita akan terganggu belajarnya dengan tugas-tugas yang tidak ada hubungannya dengan belajar atau muncul anggapan dari benak kita itu semua adalah pekerjaan pesuruh.

Yakinlah bahwa dengan pemberian tanggung tugas-tugas rumah secara baik dan bertahap serta adanya contoh dari orangtua untuk melakukan tugas-tugas tersebut sebenarnya anak lebih banyak mendapatkan manfaatnya di masa yang akan datang.

Empati terhadap orang lain, tanggung jawab terhadap lingkungan terdekatnya, tekun dalam bekerja dan tangguh di dalam hidup. Ini semua selalu terkait dengan karakter, dan karakter yang baik akan selalu mereka gunakan hingga akhir usia mereka.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

_______________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.