Siang itu saya memasuki pintu gerbang sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) untuk kepentingan studi banding. Tampak dari sisi depan, sekolah ini terkesan mewah jika dibandingkan dengan beberapa TK yang berada di sekitarnya. Gedung berlantai tiga dengan desain mediterania, cukup anggun dipandang mata. Terlebih perpaduan warna cat dindingnya, cukup menggugah selera. Sesaat kemudian, sampailah saya berada di ruang tengah yang berfungsi sebagai lobby layaknya hotel, lengkap dengan front office yang cukup simpatik dan ramah.
Secara umum orang melihat bahwa sekolah ini memiliki kekhasan tersendiri dibanding sekolah-sekolah lain terutama untuk ukuran gedung Taman Kanak-Kanak. Belum lagi bergeser benak saya mengagumi secara fisik sekolah ini, eh.. di sudut tembok tampak ‘hasil karya’ anak-anak berupa coretan tangan dengan ekspresi bebasnya.
Mata ini sepertinya tergelitik untuk melihat lebih jauh di beberapa sudut gedung Taman Kanak-Kanak ini. Wah.. rupa-rupanya, di dalam ruang belajar atau orang mengatakan kelas-kelas belajar ini tampak semakin jelas dan banyak corat-coret di tembok. Saat sedang asyik saya ‘menikmati’ karya spontan dari anak-anak yang bersekolah di sini, tiba-tiba, ada seseorang berkata kepada saya,
“Ma’af Pak, kelasnya kotor penuh dengan coretan tangan anak-anak yang nakal. Padahal kami bersama-sama guru-guru yang lain selalu mengingatkan agar tidak mencoret-coret tembok, eh… malah menjadi-jadi. Kesal saya dibuatnya,” sergah salah satu petugas front office dengan wajah tersipu malu dan berharap agar kondisi ini bisa dimaklumi.
Hampir semua orangtua bersepakat bahwa coretan anak-anak yang ‘menghiasi’ dinding rumah bahkan ruang tamu cukup mengganggu pemandangan. Karena itu tidak sedikit sebagian dari mereka mengambil sikap tegas bila melihat anaknya mulai bereksplorasi dengan mencoret-coret tembok.
“Dasar, anak nakal. Sudah dibilangin berkali-kali masih saja dilakukan. Mama capek, tahu!” kadang ini penggalan kalimat yang sering terlontar, saat anak mulai berpetualang dengan tangan ’emas’nya. Memang bagi sebagian besar orangtua, perilaku corat-coret tembok ini adalah bagian dari kenakalan anak-anak.
Betapa tidak, perilaku ini cukup mengganggu dan membuat kita kesal. Apalagi bila diingatkan, malah diulangi dan diulanginya lagi dikala kita lengah. Terkadang kalau kita sudah capek dibuatnya, kita cenderung membiarkan dan pasrah saja.
Yang ada dalam pikiran kita saat itu, hanyalah menyerahkan semuanya pada waktu. Toh semua ‘hiasan liar’ tembok dinding ini akan sirna seiring dengan kehendak kita untuk mengecat kembali tembok rumah kita, terutama menjelang hari raya.
Tapi tidak jarang pula, sebagian dari kita yang tersulut emosi dan membentaknya. Dengan harapan agar anak-anak jera dan tidak berani melakukan lagi. Seringkali kita menganggap perilaku anak-anak itu nakal, karena kita sudah menganggapnya ‘kelewatan’ dan di luar rasional kita orang dewasa. Terlebih faktanya memang membuat kita kesal dan menjengkelkan.
Akankah dengan dengan sikap kita seperti itu akan menghentikan perilaku anak untuk tidak lagi mencorat-coret tembok rumah ?. Apakah kita pernah berpikir, mengapa anak-anak suka mencorat-coret tembok baik di rumah ataupun di sekolah tempat mereka belajar ?.
Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”


