Dari Pertanyaan Kepo Menuju Pertanyaan Curiosity-Stance

Dalam coaching skill kita disarankan untuk menghindari “pertanyaan kepo.” Sedangkan dalam counseling skill sedikit berbeda; seorang konselor sangat dibolehkan untuk mengajukan pertanyaan atas dorongan rasa ingin tahu (Curiosity-Stance), yaitu peralihan dari mindset ‘saya perlu memahami’ menjadi ‘saya penasaran untuk memahami.’

Rasa ingin tahu yang tulus dan tanpa penghakiman adalah alat yang paling powerful untuk mengungkap lapisan-lapisan terdalam dari pengalaman konseli.

Contoh: daripada bertanya, “Apa yang kamu rasakan saat itu?” (yang sudah bagus), konselor dapat meningkatkan kualitas pertanyaannya dengan: “Aku penasaran, bagian mana dari situasi itu yang paling menyentuh luka lama bagimu?” atau “Bisa membantu aku memahaminya? Ketika kamu bilang ‘aku merasa hancur’, seperti apa ‘hancur’ yang spesifik bagimu? Apakah seperti runtuh, atau seperti pecah berkeping-keping?”

Kami banyak membahasnya dalam workshop “TIME TO BE A COUNSELOR” sebuah desain workshop yang kami bangun untuk membantu semua guru memiliki keterampilan konseling. Sebab, bila semua permasalaha siswa atau santri dipasrahkan sepenuhnya kepada guru BK di sekolah dimana 1 orang guru BK untuk 150 siswa, betapa berat tugas dan tanggung jawab guru BK.

Kami membayangkan betapa indahnya bila setiap guru memiliki keterampilan konseling yang baik dan terstruktur untuk membantu siswa lepas dari masalahnya sehingga mereka bisa lebih fokus belajar dan punya orientasi masa depan yang lebih cerah?

Seorang bijak berkata The goal of counselling is not to remove the storm, but to build a better ship to sail through it.” (Tujuan konseling bukanlah untuk menghilankan badai, tetapi untuk membangun kapal yang lebih baik untuk berlayar melaluinya).

Anwari Nuril Huda, S.Sos.I., M.A., Ch., CHt., C.NNLP.

Trainer Griya Parenting Indonesia dan Penulis buku “Teacher as Counselor: Strategi Membimbing Siswa dan Santri melalui Seni Konseling