Delegasi Peran

Beberapa anak muda tidak nyaman berdiam lama di rumah, bukan karena keluarganya yang kurang harmonis atau kurang hangat terhadapnya. Tetapi Ia tidak menemukan peran yang cukup kuat bagi dirinya untuk berekspresi. Kedua orangtuanya telah menghabiskan seluruh tugas dan tanggung jawab keluarga tersebut tanpa menyisakan sama sekali bagi putra mereka yang mulai menginjak remaja. Padahal peran bagi seorang anak muda adalah satu alasan baginya untuk merasa penting berdiam dan beraktifitas di rumah.

Peran tersebut dapat berupa tanggung jawab membersihkan taman di rumah, service berkala kendaraan roda dua, atau memastikan semua lampu di rumah dapat menyala dengan semestinya. Tidak berarti bahwa tanggung jawab terhadap lampu rumah, jika ada yang kerusakan maka ia harus memperbaikinya. Tetapi dialah yang berinisiatif untuk mengundang seorang teknisi yang memperbaiki setiap kerusakannya.

Seorang bapak yang bekerja di Kalimantan dan hanya pulang 3 bulan sekali ke Sidoarjo mengeluhkan tentang perilaku putranya yang akhir-akhir ini lebih sering keluar rumah daripada berdiam di rumah dan belajar. “Mengapa anak saya belum mempunyai rasa tanggung jawab untuk membantu saya, minimal menjaga mamanya di rumah”.

Menanggapi masalah bapak di atas, saya menjawab, “itu terjadi karena memang bapak belum pernah mendelegasikan beberapa peran bapak kepada anak, sehingga anak belum merasa punya tanggung jawab”.

Coba kita rasakan statement ini, “Mas…tolong bantu papa untuk memastikan setiap pintu dan jendela rumah kita terkunci rapat pada waktu malam. Kasihan mama yang sudah seharian bekerja keras. “

Statement ini akan jelas mendorong anak untuk mengambil tanggung jawab yang kuat tentang mengunci pintu dan jendela. Tentunya orangtua harus memberi apresiasi jika anak melaksanakan tanggung jawab tersebut dengan baik, atau membimbing kembali jika ia sering melalaikan tanggung jawabnya.

Jika kita sulit mendelegasikan beberapa peran dalam rumah tangga kepada remaja kita, maka ingatlah di luar sana banyak orang yang siap memberikan peran untuk anak kita. Namun saat itu tidak ada jaminan bagi kita, peran yang dimainkan oleh anak kita adalah peran yang positif.

KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.