Gadget Memang Harus dibatasi

Ada perkembangan kesadaran yang positif pada para orangtua tentang penggunaan gadget anak-anak mereka. Yaitu bahwa penggunaan gadget anak harus dibatasi dan konten yang diakses mereka harus diawasi. Tentu kesadaran ini tumbuh dari pengalaman orangtua yang banyak merasakan dampak penggunaan gadget yang tidak terbatas.

Namun kesadaran yang positif di atas bukan tanpa tantangan-tantangan yang menyertainya. Beberapa tantangan di dalam melaksanakan kesadaran tersebut adalah :

1. Anak Menganggap Memiliki Gadget Sepenuhnya

Beberapa anak menganggap bahwa gadget yang ditangannya adalah milik mereka sepenuhnya. Apalagi kalau beberapa gadget itu dibeli oleh anak baik dengan uang mereka sendiri atau sebagiannya.

Dengan pemahaman akan gadgetnya seperti di atas maka mereka menganggap orangtua tidak berhak untuk melihat dan mengatur penggunaanya. Pada perkembangan selanjutnya gadget itu diberi password atau harus selalu izin ketat jika orangtua menggunakannya

2. Belajar Materi Sekolah dijadikan Alasan untuk Bermain Gadget

Beberapa orangtua mengalami kendala saat ingin mengurangi dan mengambil gadget anak untuk beberapa saat dengan alasan bahwa gadget tersebut untuk belajar sekolah. Tentu dengan alasan tersebut orangtua lebih sering mengalah kepada anak, walaupun mereka sangat merasakan bahwa anaknya sedang bermain dengan gadgetnya tidak sedang belajar menggunakan gagdet.

Menghadapi tantangan-tantangan di atas orangtua perlu bersikap proaktif terhadap penggunaan gadget anak, di antara sikap proaktif adalah:

1. Menjelaskan Fungsi dan Tanggung Jawab Ayah sebagai Pemimpin

Membangun kesadaran pada anak akan fungsi dan tanggung jawab ayah sebagai pemimpin di rumah. Maka semua yang ada dan terjadi di rumah harus tetap dibawah kendali ayah.

Walaupun anak sudah memiliki televisi di dekat kamarnya dan televisi tersebut adalah hasil hadiah yang didapatnya namun jadwal melihat televisi harus tetap disesuaikan dengan jadual kesepakatan keluarga. Tidak dibenarkan mereka bebas menggunakan laptop dan hp pada setiap waktu dan kapan saja dengan alasan gadget tersebut telah menjadi miliknya.

2. Gadget Orangtua tidak diberi Password

Ada beberapa anak yang mulai meyakini bahwa hp ini miliknya memberi password pada hp tersebut. Sehingga orangtua pun tidak bisa dengan mudah mengaksesnya. Maka buatlah kesepakatan dengan anak-anak bahwa semua gadget tidak terpassword di rumah dengan memberi contoh gadget orangtua sendiri tidak mempunyai password. 

3. Mendiskusikan dengan Anak tentang Waktu Belajar Mereka.

Dari waktu belajar yang telah didiskusikan orangtua menjadikannnya sebagai pedoman penggunaan gagdet yang boleh. Jika diluar jam belajar tersebut anak masih memegang gadget maka orangtua bisa menegurnya dan menanyakannya. Tidak disarankan bagi anak untuk memegang HP hingga tidur lelap, sebagaimana tidak bijak bagi orangtua masih terikat dengan gadgetnya hingga tertidur lelap.

4. Membuat Kesepakan Jadwal Mengoperasikan Gadget

Orangtua bisa melakukan kesepakatan dengan anak saat semua anggota keluarga boleh memegang gadget dan saat tidak boleh memegangnya. Seperti pada kesempatan makan, waktu tilawah keluarga, dan lain-lain. Tentu ini semua harus dimulai dari contoh orangtua. Dengan demilkian pembatasan pemakaian gadget adalah program bersama keluarga

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

______________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.