Pak Agus menenteng laptop menuju kelas. Dari jauh, murid-murid sudah bersorak-sorak, “asyik, kita main games lagi, ya pak?”. Anak-anak masuk ke kelas tanpa komando. Duduk manis di kursi masing-masing sambil menunggu gurunya mempersiapkan media games untuk pembelajaran hari ini.
Saya pernah melihat beberapa sekolah telah mengijinkan para gurunya menggunakan games sebagai media pembelajaran. Saat ini, games memang telah dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Tentu saja bukan sembarang games. Games yang boleh masuk kelas harus diseleksi dulu, yaitu games yang memang memberikan stimulasi bagi anak untuk belajar.
Mengapa games bisa digunakan sebagai sarana edukasi ?.
Sederhana saja, karena kita hanya mengganti salah satu komponen komunikasi dalam proses pembelajaran. Biasanya, sumber proses belajar adalah guru yang menerangkan dan siswa sebagai penerima informasi. Games bisa menggantikan peran guru selama beberapa menit dalam menyampaikan informasi.
Metode belajar klasik dilakukan dengan guru berceramah. Sedangkan lewat games, siswa aktif belajar dengan melakukan simulasi langsung. Dan untuk simulasi, games biasanya dilengkapi tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Contoh dari games yang menggunakan metode pembelajaran tanya jawab adalah Who Wants To Be A Millioner.

Pak Agus adalah contoh guru yang melihat peluang games sebagai variasi alat pembelajaran. Dan ternyata cukup banyak manfaat games sebagai media pembelajaran, antara lain:
1. Proses Belajar Menjadi Lebih Menarik.
Games biasanya terdiri dari unsur visual (dapat dilihat), audio (dapat didengar) dan gerak (dapat berinteraksi). Jadi media games memang dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang reaksi mereka terhadap penjelasan guru, memungkinkan siswa menyentuh objek kajian pelajaran, juga membantu mereka mengkonkretkan sesuatu yang abstrak.
2. Proses Belajar Siswa Menjadi Lebih Interaktif.
Siswa-siswa tidak hanya mendengarkan guru, tapi setelah mereka melihat dan mendengar mereka bisa berinteraksi dengan games melalui tanya jawab dan simulasi.
3. Siswa Memiliki Sikap Positif terhadap Proses Belajar.
Dengan menggunakan games, siswa dapat merasakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga guru bisa menciptakan persepsi positif tentang proses belajar hingga belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang harus serius dan membosankan.
Saya juga pernah membaca di media tentang kegunaan games untuk perkembangan kecerdasan anak. Rolf Nelson, seorang professor psikologi dari Wheaton College, Norton, Massachusetts, menyebutkan bahwa video games bisa mempertajam kemampuan berpikir dan kecepatan berpikir serta meningkatkan sisi kognitif (kepandaian) otak, terutama untuk games yang bersifat action dan puzzle. Hal ini telah dibuktikannya dalam penelitian yang dimuat dalam Journal Perception.

Saya pernah menanyakan manfaat games untuk proses belajar di sekolah pada seorang wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Saya berharap games yang bercitra negatif masih bisa digiring bercitra positif dengan modifikasi cara penggunaannya. Namun ternyata saya agak kecewa dengan jawaban beliau. Awalnya, anak-anak memang suka berinteraksi dengan games dikelas, namun ternyata akan selalu datang titik kejenuhan. “Ah gitu thok, bosan ustadz!” begitulah komentar salah satu siswa.
Beliau menjelaskan bahwa ternyata games yang bersifat edukatif memang berbeda dengan games yang beredar di pasaran. Ketika anak-anak bermain games di luar, seolah-olah tidak ada kata bosan, selalu menarik, dan hal ini membuat mereka selalu ingin kembali bermain games setiap kali mereka mengakhirinya. Kenapa ini bisa terjadi ?
Ternyata, games itu memang didesain untuk menimbulkan efek ketagihan, dibuat khusus agar anak-anak mau kembali dan kembali lagi merasakan sensasi dan serunya bermain games. Jadi, ketika sekolah menyarankan games edukatif untuk para orangtua, anak-anaknya tetap menolak dengan berbagai dalih, “nggak mutu sih”, “nggak asyik tuh”, “nggak keren dong” kata anak-anak.
Ah, ternyata mendampingi anak bermain games ini banyak tantangannya ya. Eits, kita tidak boleh mengeluh. Kita harus tetap semangat. Orang Eropa bilang seribu jalan menuju Roma. Saya juga bisa berkata seribu jalan menuju Ka’bah. Seribu jalan untuk mengantar anak-anak ke tujuan yang baik. Mari kita terus cari jalan-jalan tersebut.
Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari Buku “Awas Anak Kecanduan Games”


