Habit yang Meringankan

Pekan pertama bulan suci Ramadhan yang lalu kami habiskan di kota Bontang Kaltim. Untuk sampai ke kota tersebut kami terpaksa menempuh perjalanan darat selama hampir tujuh jam dalam kondisi puasa.

Capek dan lelah tentu kami rasakan selama perjalanan panjang tersebut. Namun kami sangat heran dengan kondisi sopir Travel kami, Ia masih terlihat bugar begitu sampai di kota Bontang. Saya sempat bertanya kepada beliau, “Mengapa bapak masih terlihat sangat bugar walaupun juga menjalani puasa?” Dengan ringan menjawab, “Ini semua karena telah terbiasa”.

Mendengar jawaban beliau saya akhirnya merenung bahwa kebiasaan (habit) telah membuat sopir tersebut begitu ringan dalam menempuh perjalanan yang sangat panjang.

Di rumah kami ada aturan-aturan yang dijalankan oleh anak-anak, seperti mengembalikan barang pada tempatnya, membersihkan kotoran yang dibuat oleh anak, meminta izin saat memakai peralatan milik saudara dan lain-lain.

Namun kami rasakan ada beberapa aturan yang dengan mudah dilakukan oleh anak dan ada aturan-aturan yang cukup sulit dilakukan olehnya. Akhirnya orangtua harus selalu mengingatkan bahkan menyuruhnya.

Mengacu pada analisa kebiasaan sopir yang membuatnya merasakan ringan di dalam menempuh perjalanan panjang. Kami menyadari memang beberapa aturan yang berat dilakukan oleh anak selama ini hanya sebatas pada sosialisasi cara melakukan aturan tersebut dan instruksi untuk menjalankannya, belum sampai pada titik membiasakan anak untuk melakukannya. Mereka sangat mengerti untuk melakukan dan mampu mempraktikkannya dengan baik, tetapi mereka belum melakukannya secara otomatis dan spontanitas.

Seperti saat kita belajar menyopir mobil, pada bulan pertama terasa kaku dan melelahkan. Namun seiring perjalanan waktu kita mulai terbiasa untuk mengendarai mobil, maka proses tersebut terasa lebih otomatis, spontanitas dan ringan.

Mengapa kita tidak berusaha menjadikan setiap aturan yang dapat dipraktikkan anak sampai pada titik pembiasaan dan tidak berhenti pada hanya menjelaskan dan mempraktikkannya hanya beberapa kali.

Tahapannya untuk membangun sebuah kebiasaan dari aturan-aturan yang kita buat memang lebih panjang dari yang selama ini kita lakukan terhadap aturan-aturan tersebut. Beberapa tahapan pembiasaan tersebut adalah sebagai berikut;

  1. Orangtua menjadi contoh sempurna bagi sebuah aturan yang ingin kita biasakan pada anak.
  2. Bersama anak di dalam menjalankan kebiasaan dari aturan, seperti menemani anak saat merapikan mainannya.
  3. Membangun lingkungan yang memudahkan anak di dalam melaksanakan kebiasaan, seperti menyiapkan washtafel yang mudah dijangkau oleh anak saat membiasakan aturan selalu mencuci tangan saat memegang kue di rumah.
  4. Konsisten di dalam menjaga keterlaksanaan aturan tersebut setiap hari, minimal selama 30 hari pertama.
  5. Memberikan apresiasi pada anak saat mereka telah menunjukkan usaha dan hasil dari kebiasaan yang telah mereka biasakan.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

_____________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.