{"id":2944,"date":"2025-07-22T09:38:43","date_gmt":"2025-07-22T02:38:43","guid":{"rendered":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/?p=2944"},"modified":"2025-07-22T09:38:48","modified_gmt":"2025-07-22T02:38:48","slug":"komunikasi-kita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/?p=2944","title":{"rendered":"Komunikasi Kita"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seminar Parenting di Balai Kota Solo telah mengingatkan saya terhadap pertanyaan seorang ibu. \u201cPak Jinan, putri saya kelas VI SD suatu saat berkata, \u2018Ma, aku suka sama temanku, Hamzah.\u2019 Apa yang harus saya sampaikan kepadanya? Ia masih terlalu muda untuk berpacaran.\u201d <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya balik bertanya kepada ibu tersebut, \u201cApa yang telah Ibu sampaikan kepadanya?\u201d Ia menjawab, \u201cSaya sangat khawatir dengan putri saya sehingga saya berkata, \u2019Nak, kamu masih terlalu muda untuk menyenangi teman laki-lakimu, apalagi berpacaran.\u2019\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai orangtua mungkin kita juga sering menghadapi pernyataan anak-anak kita yang sekilas terasa bertentangan dengan kaidah-kaidah moral, seperti \u201cUmmi jahat,\u201d \u201cAku benci Abi,\u201d Aku pingin bunuh temanku,\u201d Aku nggak mau ditemeni Eyang,\u201d dan lain-lain. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menghadapi pernyataan-pernyataan seperti di atas, kita sering hanya melihat wujud nyata dari kalimat yang dipergunakannya. Akhirnya, kita sering memarahi atau memberi ceramah-ceramah yang sebenarnya tidak diharapkan oleh anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, di balik kata-kata yang terasa kasar dan kurang pada tempatnya, anak mempunyai maksud sendiri. Marilah kita mencoba untuk menganalisa pernyataan dari putri seorang ibu di atas, \u201cMa, aku suka sama temanku, Hamzah.\u201d Mungkin ada beberapa maksud yang dapat kita identifikasi di balik pernyataan tersebut, yaitu:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ada gejolak rasa suka dalam diri anak tersebut sehingga ia memilih ibunya sebagai orang yang paling ia percayai untuk bercerita.<\/li>\n\n\n\n<li>Ada upaya untuk mengetahui, apakah menyukai teman laki-laki tersebut boleh atau tidak.<\/li>\n\n\n\n<li>Ia ingin mengetahui respon ibunya tentang perasaan sukanya.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan tiga&nbsp; kemungkinan maksud di atas, mari kita juga menganalisa jawaban yang telah disampaikan si ibu kepada putrinya, \u201cNak, kamu masih terlalu muda untuk saling menyenangi teman laki-lakimu, apalagi berpacaran.\u201d<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Ibu ini telah menolak perasaan suka putrinya terhadap teman laki-lakinya. Mungkin dikemudian hari ia tidak akan lagi menceritakan perasaan serupa karena ibunya biasa menolaknya.<\/li>\n\n\n\n<li>Jawaban si ibu di atas tampak menganggap anaknya masih terlalu muda untuk suka terhadap temannya sehingga dapat menghancurkan kepercayaan putrinya.<\/li>\n\n\n\n<li>Ibu ini terlalu berpikir jauh atas rasa suka putrinya. Ia telah menafsirkan rasa senang tersebut dengan istilah \u201cpacaran\u201d. Dengan jawaban tersebut, anak justru telah diarahkan rasa sukanya untuk berpacaran.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seorang anak yang berani mengungkapkan perasaan suka kepada teman laki-lakinya sesungguhnya ia hanya ingin didengarkan dan diterima perasaan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu: \u201dOh ya, kamu suka sama Hamzah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak: \u201cYa, saya senang terhadapnya, Bu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu: \u201cMengapa kamu suka dengan Hamzah?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak: \u201cIa pandai dan perhatian, Bu.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu: \u201cBerarti kamu menyukainya karena ia pandai dan suka membantu?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anak: \u201cIa suka membantu anak-anak lain mengerjakan tugas-tugas kelas.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ibu: \u201cIbu senang jika&#8230;seterusnya.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika orangtua mencoba untuk mendengar dan menerima terlebih dahulu pernyataan anak dan tidak segera menilai atau memberikan nasehatnya, sesungguhnya orangtua mempunyai kesempatan untuk mengetahui lebih jauh motif dan maksud dibalik pernyataan anak tersebut. Jika orangtua merasa anak perlu diarahkan atau dinasihati atas motif dan maksud tersebut, maka orangtua dapat memberi arahan yang sesuai dengan maksud anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mungkin kita masih ingat dalam sirah Nabi tentang seorang pemuda yang menghadap Rasulullah SAW., \u201cWahai Baginda, aku telah dapat menunaikan seluruh ajaran Islam, kecuali zina.\u201d Mendengar pernyataan pemuda yang terasa agak vulgar tersebut beberapa Sahabat beliau kurang nyaman. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan wajah tenang dan santun Rasulullah SAW. berkata, \u201cWahai, Pemuda, apakah kamu mempunyai bibi atau saudari perempuan?\u201d Pemuda itu pun menjawab, \u201dYa, Rasulullah, aku mempunyai bibi dan saudari perempuan.\u201d Kemudian Rasulullah SAW. bertanya, \u201cBagaimana perasaanmu jika ada seseorang yang menzinai bibi atau saudari perempuanmu?\u201d Dengan lantang pemuda itu pun menjawab, \u201cSaya akan membunuh seseorang yang berani berbuat kurang sopan terhadap bibi dan saudari perempuanku.\u201d Rasulullah SAW. berkata, \u201cBagitu pula perasaan orang-orang yang bibi dan saudari perempuannya telah engkau zinai.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rasulullah SAW tidak langsung menolak pernyataan spontan dari si pemuda tersebut dengan ceramah, instruksi, dan dalil-dalil tentang keharaman zina. Rasulullah SAW. justru mencoba memahami perasaan pemuda tersebut sambil mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang mendorongnya untuk menjawab sekaligus menghentikan kebiasaan buruknya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika anak berkata, \u201cMama jahat.\u201d apakah itu berarti mamanya memang jahat? Saya yakin arti jahat bagi anak kita tidak seperti arti jahat bagi orang dewasa. Mungkin ia kecewa karena mamanya tidak membelikannya cokelat sehingga respon yang lebih pas untuk pernyataan tersebut adalah, \u201cNak, kamu kecewa karena Mama tidak membelikan cokelat?\u201d Bukan sebaliknya, \u201cNak, nggak sopan kamu menyebut Mama jahat.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan menerima terlebih dahulu apa yang disampaikan oleh anak, walaupun sering terasa kurang pas, sebenarnya kita mendapatkan peluang untuk mengetahui maksud dan motif dari pernyatan tersebut, sekaligus membenarkan kata yang ia pilih untuk mengungkapkan perasaannya. Selanjutnya, ia akan lebih mudah menerima pendapat kita karena sebelumnya ia telah merasa diterima oleh orangtuanya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Miftahul Jinan, M. Pd., LCPC<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Direktur Griya Parenting Indonesia <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disadur dari buku &#8220;Tips Instan Mendidik Anak&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Seminar Parenting di Balai Kota Solo telah mengingatkan saya terhadap pertanyaan seorang ibu. \u201cPak Jinan, putri saya kelas VI SD suatu saat berkata, \u2018Ma, aku suka sama temanku, Hamzah.\u2019 Apa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2946,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[179,185,181,178,186,184,183,182,177,45,46,58,57,65,66,188,187,189],"class_list":["post-2944","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-miftahul-jinan","tag-anak-dan-kasih-sayang-orangtua","tag-arti-kebaikan-dalam-kehidupan","tag-cara-membangun-karakter-baik-anak","tag-cara-membentuk-karakter-baik-anak","tag-cara-mengajarkan-nilai-kebaikan-kepada-anak","tag-cara-orangtua-membangun-kebiasaan-anak-untuk-berbuat-baik","tag-contoh-nilai-kebajikan-yang-harus-anak-biasakan","tag-contoh-nilai-nilai-kebaikan","tag-contoh-pendidikan-karakter-anak","tag-griya-parenting-indonesia","tag-griya-parenting-islami","tag-indonesian-parenting","tag-islamic-parenting","tag-miftahul-jinan","tag-parenting-indonesia","tag-tips-agar-anak-melakukan-kebaikan-dengan-tulus","tag-tips-and-trick-memberikan-pendidikan-moral-pada-anak","tag-tips-membangun-kebiasaan-baik-dalam-keluarga"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2944","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2944"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2944\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2945,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2944\/revisions\/2945"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2946"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2944"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2944"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2944"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}