{"id":2990,"date":"2025-08-11T20:55:37","date_gmt":"2025-08-11T13:55:37","guid":{"rendered":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/?p=2990"},"modified":"2025-08-11T20:55:42","modified_gmt":"2025-08-11T13:55:42","slug":"games-dan-sarana-edukasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/?p=2990","title":{"rendered":"Games dan Sarana Edukasi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Agus menenteng laptop menuju kelas. Dari jauh, murid-murid sudah bersorak-sorak, \u201casyik, kita main games lagi, ya pak?\u201d. Anak-anak\u00a0 masuk ke kelas tanpa komando. Duduk manis di kursi masing-masing sambil menunggu gurunya mempersiapkan media <em>games<\/em> untuk pembelajaran hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pernah melihat beberapa sekolah telah mengijinkan para gurunya menggunakan <em>games<\/em> sebagai media pembelajaran. Saat ini, games memang telah dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Tentu saja bukan sembarang <em>games. Games<\/em> yang boleh masuk kelas harus diseleksi dulu, yaitu <em>games<\/em> yang memang memberikan stimulasi bagi anak untuk belajar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa <em>games<\/em> bisa digunakan sebagai sarana edukasi ?.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sederhana saja, karena kita hanya mengganti salah satu komponen komunikasi dalam proses pembelajaran. Biasanya, sumber proses belajar adalah guru yang menerangkan dan siswa sebagai penerima informasi. Games bisa menggantikan peran guru selama beberapa menit dalam menyampaikan informasi. <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode belajar klasik dilakukan dengan guru berceramah. Sedangkan lewat games, siswa aktif belajar dengan melakukan simulasi langsung. Dan untuk simulasi, games biasanya dilengkapi tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Contoh dari games yang menggunakan metode pembelajaran tanya jawab adalah <em>Who Wants To Be A Millioner<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2995\" srcset=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--300x300.jpg 300w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--150x150.jpg 150w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--768x768.jpg 768w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--1536x1536.jpg 1536w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--2048x2048.jpg 2048w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--600x600.jpg 600w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga--100x100.jpg 100w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-Juga-.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pak Agus adalah contoh guru yang melihat peluang <em>games<\/em> sebagai variasi alat pembelajaran. Dan ternyata cukup banyak manfaat <em>games<\/em> sebagai media pembelajaran, antara lain:<\/p>\n\n\n\n<h6 class=\"wp-block-heading\">1.\u00a0Proses Belajar Menjadi Lebih Menarik. <\/h6>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Games biasanya terdiri dari unsur visual (dapat dilihat), audio (dapat didengar) dan gerak (dapat berinteraksi). Jadi media games memang dapat membangkitkan keingintahuan siswa, merangsang reaksi mereka terhadap penjelasan guru, memungkinkan siswa menyentuh objek kajian pelajaran, juga membantu mereka mengkonkretkan sesuatu yang abstrak.<\/p>\n\n\n\n<h6 class=\"wp-block-heading\">2.\u00a0Proses Belajar Siswa Menjadi Lebih Interaktif. <\/h6>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siswa-siswa tidak hanya mendengarkan guru, tapi setelah mereka melihat dan mendengar mereka bisa berinteraksi dengan games melalui tanya jawab dan simulasi.<\/p>\n\n\n\n<h6 class=\"wp-block-heading\">3.\u00a0Siswa Memiliki Sikap Positif terhadap Proses Belajar.<\/h6>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan menggunakan <em>games<\/em>, siswa dapat merasakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga guru bisa menciptakan persepsi positif tentang proses belajar hingga belajar tidak lagi menjadi sesuatu yang harus serius dan membosankan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya juga pernah membaca di media tentang kegunaan <em>games <\/em>untuk perkembangan kecerdasan anak. Rolf Nelson, seorang professor psikologi dari Wheaton College, Norton, Massachusetts, menyebutkan bahwa video <em>games<\/em> bisa mempertajam kemampuan berpikir dan kecepatan berpikir serta meningkatkan sisi kognitif (kepandaian) otak, terutama untuk games yang bersifat action dan puzzle. Hal ini telah dibuktikannya dalam penelitian yang dimuat dalam <em>Journal Perception<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-1024x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2991\" srcset=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-1024x1024.jpg 1024w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-300x300.jpg 300w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-150x150.jpg 150w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-768x768.jpg 768w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-600x600.jpg 600w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games-100x100.jpg 100w, https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/Games.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya pernah menanyakan manfaat <em>games<\/em> untuk proses belajar di sekolah pada seorang wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Saya berharap games yang bercitra negatif masih bisa digiring bercitra positif dengan modifikasi cara penggunaannya. Namun ternyata saya agak kecewa dengan jawaban beliau. Awalnya, anak-anak memang suka berinteraksi dengan <em>games<\/em> dikelas, namun ternyata akan selalu datang titik kejenuhan. \u201cAh gitu thok, bosan ustadz!\u201d begitulah komentar salah satu siswa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beliau menjelaskan bahwa ternyata <em>games<\/em> yang bersifat edukatif memang berbeda dengan games yang beredar di pasaran. Ketika anak-anak bermain <em>games<\/em> di luar, seolah-olah tidak ada kata bosan, selalu menarik, dan hal ini membuat mereka selalu ingin kembali bermain <em>games<\/em> setiap kali mereka mengakhirinya. Kenapa ini bisa terjadi ?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ternyata, <em>games<\/em> itu memang didesain untuk menimbulkan efek ketagihan, dibuat khusus agar anak-anak mau kembali dan kembali lagi merasakan sensasi dan serunya bermain games. Jadi, ketika sekolah menyarankan games edukatif untuk para orangtua, anak-anaknya tetap menolak dengan berbagai dalih, \u201cnggak mutu sih\u201d, \u201cnggak asyik tuh\u201d, \u201cnggak keren dong\u201d kata anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ah, ternyata mendampingi anak bermain <em>games<\/em> ini banyak tantangannya ya. Eits, kita tidak boleh mengeluh. Kita harus tetap semangat. Orang Eropa bilang seribu jalan menuju Roma. Saya juga bisa berkata seribu jalan menuju Ka\u2019bah. Seribu jalan untuk mengantar anak-anak ke tujuan yang baik. Mari kita terus cari jalan-jalan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Direktur Griya Parenting Indonesia <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Disadur dari Buku <a href=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/product\/awas-anak-kecanduan-game\/\" data-type=\"link\" data-id=\"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/product\/awas-anak-kecanduan-game\/\">&#8220;Awas Anak Kecanduan Games&#8221;<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pak Agus menenteng laptop menuju kelas. Dari jauh, murid-murid sudah bersorak-sorak, \u201casyik, kita main games lagi, ya pak?\u201d. Anak-anak\u00a0 masuk ke kelas tanpa komando. Duduk manis di kursi masing-masing sambil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2993,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[38],"tags":[571,572,573,574,577,569,575,576,567,568,45,46,58,57,65,66,570],"class_list":["post-2990","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-miftahul-jinan","tag-cara-agar-proses-belajar-menjadi-lebih-baik","tag-cara-agar-proses-belajar-menjadi-lebih-interaktif","tag-cara-agar-proses-belajar-menjadi-menyenangkan","tag-cara-agar-proses-belajar-tidak-membosankan","tag-cara-agar-siswa-memiliki-sikap-positif-saat-belajar","tag-cara-guru-menciptakan-susasana-belajar-yang-menyenangkan","tag-cara-jitu-agar-siswa-menjadi-lebih-interaktif","tag-cara-memunculkan-sikap-positif-siswa-saat-belajar","tag-games-dan-sarana-edukasi","tag-games-sebagai-solusi-pembelajaran-yang-interaktif","tag-griya-parenting-indonesia","tag-griya-parenting-islami","tag-indonesian-parenting","tag-islamic-parenting","tag-miftahul-jinan","tag-parenting-indonesia","tag-tips-and-trick-agar-siswa-tidak-jenuh-belajar"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2990","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=2990"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2990\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2996,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/2990\/revisions\/2996"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/2993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=2990"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=2990"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/griyaparentingindonesia.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=2990"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}