Kemandirian dan Percaya Diri (Usia 2-4 Tahun)

Apa komentar mayoritas ibu terhadap putra-putri mereka diusia 3 tahun? Ada yang mengatakan usil, banyak tingkah, egois (nggak mau berbagi), sulit diatur dan selalu meminta bayaran jika diminta mengerjakan sesuatu.

Apakah memang benar anak-anak diusia itu usil dan banyak tingkah ?, dengan melihat tingkah pola mereka, dengan mudah kita akan mengatakan bahwa mereka memang usil dan banyak tingkah. Permasalahannya adalah apakah keusilan dan banyaknya tingkah mereka itu sebuah kesalahan dan tindakan kurang bermoral ?.

Saya pernah memberikan hadiah mainan helicopter kepada anak saya. Mainan ini mempunyai gerakan maju-mundur dan berputar ke samping kanan dan kiri. Hari pertama anak saya sangat takjub dengan gerakan-gerakan tersebut, ia sangat menikmati mainan barunya. Hari berikutnya ia mulai memiringkan mainannya untuk melihat pola gerakannya jika dimiringkan. Pada hari ketiga ia mencoba untuk membalik helikopter tersebut dalam kondisi mesin nyala. Hingga pada hari keempat rusaklah mainan tersebut.

Jenis gerakan mainan helikopter sangatlah sederhana bagi otak anak yang sangat kreatif. Saat ia mulai memiringkan dan membalikkan mainannya maka sebenarnya ia ingin mencoba variasi gerakan yang lain. Apakah dengan segala keusilan dan tingkah pola terhadap mainannya tersebut kita dapat menjastifikasi bahwa anak itu bandel dan nakal atau karena dorongan naluriah dari dalam diri mereka ?.

Teori Piaget menjelaskan, diusia 2 hingga 4 tahun seorang anak merasa sebagai pribadi yang penuh dengan kekuatan, kemampuan kreatif dan senang melakukan ekpolorasi terhadap segala sesuatu pada lingkungan sekitarnya. Dengan kekuatannya mereka akan mengekplor lingkungan sekitarnya tanpa merasa letih, apalagi didorong imajinasinya untuk bertindak kreatif.

Dengan tingkah pola mereka, orangtua cenderung melarang dan membatasi. Padahal sikap orangtua ini dapat menghambat perkembangan jiwa kemandirian dan rasa percaya diri mereka. Mengarahkan anak di usia ini harus dengan lembut tetapi tegas dan memberikan alas an yang jelas mengapa sebuah kegiatan diperbolehkan dan dilarang.

1. Egois.

Cobalah untuk memberikan satu mainan kepada sekelompok anak beda usia dimana salah satu dari mereka berusia 3-4 tahun. Mungkin anak-anak yang lain dapat menerima pembagian mereka dengan baik, tetapi tidak pada anak ini. Apakah sikap ini merupakan sebuah kesalahan pendidikan ?.

Thomas Lickona mengatakan bahwa anak-anak diusia ini memang sangat egois dan tidak dengan mudah berbagi mainan dengan teman-temannya, sehingga lingkungan yang baik bagi anak usia ini adalah dengan menyediakan mainan dengan jumlah yang cukup.

Namun bukan berarti dengan sikapnya ini tidak ada pendidikan moral bagi mereka. Dengan possessivitas (rasa memiliki) yang tinggi, seorang anak dapat belajar tentang konsep kepemilikan yang benar, ini adalah barangku dan itu barang milik kakakku. Dari konsep kepemilikan yang benar terhadap barang-barang miliknya dan bukan miliknya, kita dapat mendidik rasa tanggung jawab dan kemandirian atas dirinya.

2. Tidak Bisa diatur.

Dalam keluarga saya ada peraturan tentang menonton televisi, yaitu hanya pada hari Sabtu dan Ahad. Kami mempunyai jadwal rutin membaca Al Qur’an seusai shalat Maghrib dan makan pagi serta malam. Terhadap putra pertama yang telah berumur 5,5 tahun peraturan-peraturan di atas dengan mudah diterapkan. Namun kami agak kesulitan ketika menerapkannya pada anak kami yang kedua usia 3,5 tahun.

Selalu ada cara untuk mencoba melanggar peraturan-peraturan di atas. Saat kami sekeluarga sudah mulai terbiasa dengan tidak menonton televisi, maka datanglah nenek dari desa yang berkunjung ke rumah. Situasi inilah yang dipergunakan untuk meminta neneknya menyalakan televisi. Atau pada peraturan membaca Al Qur’an seusai shalat Maghrib ia sengaja mengakhirkan pulangnya dari masjid.

Kejadian di atas mungkin juga menjadi fenomena psikologis yang juga dialami banyak orangtua dan mereka harus menghadapinya. Ratna Megawangi dalam bukunya Pendidikan Karakter menulis, bahwa menghadapi masa ini orangtua harus memberikan arahan yang jelas, menjelaskan aturan tersebut dengan reward dan konsekuensi yang pasti jika mereka melakukan atau tidak melakukan.

Orangtua juga dapat memberikan berbagai pilihan untuk dapat mereka pilih sehingga aktifitas tersebut merupakan pilihan mereka. Dengan cara ini maka anak akan terbangun kemandirian dan kepercayaan dirinya.

Berkaitan dengan kesempatan anak untuk memilih dan menyalurkan kreatifitasnya, mereka sudah dapat mulai dilibatkan dalam diskusi untuk merencanakan kegiatan keluarga. Keterlibatan ini bisa diberikan hingga pada pemberian tanggung jawab atas perilaku dan barang mainannya. Tanggung jawab ini akan menumbuhkan inisiatif anak.

Apabila anak merasa mampu berinisiatif untuk melakukan kegiatan sesuai dengan keinginannya, maka akan menumbuhkan rasa kemampuan diri, kreatifitas, dan mencetuskan serta menjalankan ide-idenya. Semua ini adalah modal bagi pertumbuhan kematangan emosinya. Sebaliknya, “apabila anak sering dilarang dan tidak diberi kesempatan untuk mengambil inisiatif, mereka akan menjadi pribadi yang apatis, tidak kreatif, dan rendah diri.”

3. Untuk Hadiah dan Menghindari Hukuman

” Ma… apa hadiahnya jika aku menutup pintu depan?”, “Pa.. aku mau mengambil jika dikasih uang”. Anak diusia ini memang selalu mempertimbangkan hadiah yang akan mereka terima atau hukuman yang bakal mereka dapat jika melakukan suatu pekerjaan atau tidak melakukannya, sehingga tidaklah mengherankan jika seorang anak begitu semangat jika setiap tugas yang diberikan kepadanya selalu diembel-embeli dengan hadiah.

Sebagai orangtua atau guru sikap yang baik terhadap anak yang “usil, banyak tingkah, egois, tidak bisa diatur dan opportunis hadiah” ini adalah lembut, tegas, jelas dalam memberikan arahan, aturan reward dan konsekuensi yang pasti serta tetap memberikan pilihan untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukannya.

Jika itu semua kita lakukan, insya Allah anak kita akan tumbuh menjadi anak yang mandiri, percaya diri dan tetap kreatif.

Drs. Miftahun Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.