Kematian Bagi Anak

Beberapa hari yang lalu anak saya pulang sekolah dan bercerita tentang Shalat ghoib yang Ia lakukan dalam rangka mendoakan salah satu temannya yang meninggal dunia. Sesaat kemudian dia telah bertanya banyak tentang kematian. Saya sempat tergagap dengan beberapa pertanyaan polos mereka tentang kematian, seperti kemana kita setelah mati, surga dan neraka bagaimana bentuknya, dan bagaimana cara Allah menghitung semua amal kebaikan dan keburukan kita.

Terlepas dari semua pertanyaan polos mereka yang mengejutkan ada misi yang harus kita bangun pada setiap kali kita menjelaskan tentang kematian. Tentu dosisnya bagi anak dalam pemberiannya kita harus ukur sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa mereka. Tidak boleh kurang apalagi berlebihan. Di antara misi bagi anak dalam kematian adalah :

1. Merasakan Kehadiran Dzat Yang Maha Kuasa

Perasaan ini akan menghadirkan sikap anak untuk dapat pasrah dan bertindak sesuai dengan Dzat yang Maha Kuasa tersebut. Tidak bertindak semaunya dan bebas tak terbatas.

2. Melembutkan Hati Anak

Ketika anak melihat dan merasakan kematian dari orang-orang sekelilingnya dia menjadi trenyuh, bersedih dan menangis. Kondisi ini akan menyeimbangkan jiwa anak antara kesenangan dan kebahagiaan yang selama ini ia rasakan dengan kesedihan dan kepahitan.

3. Kematian Datang di Mana, Kapan, dan Kepada Siapa Saja.

Kondisi ini membangun kesadaran pada anak untuk selalu siap dan ikhlas di dalam menghadapinya. Setiap ucapan, perbuatan dan keputusan selalu berhubungan dengan konteks kematian, meskipun kita berada di mana saja dan kapan saja.

4. Merasakan Hukum Sebab Akibat

Bahwa setiap amal kebaikan dan kejahatan akan diberi balasan oleh Allah SWT. Perasaan ini sangat penting untuk dimiliki oleh anak sehingga bawah sadarnya akan selalu terjaga untuk melakukan kebaikan.

Tentu semua misi ini harus disampaikan dalam balutan bahasa anak dan psikologi mereka. Sehingga anak lebih mudah menangkapnya dan lebih cepat merasakan seberapa banyak dosis yang dibutuhkan oleh masing-masing anak.

Saya pernah bertanya kepada seorang ibu yang kebetulan kehilangan suaminya ditengah anaknya yang masih usia PG. Bagaimana Ia harus menjelaskan kepada anak-anakanya tantang kematian bapak mereka.

“Mas, papa sudah bobok istirahat dan penyakitnya sudah pergi”. Anaknya bertanya, “Kok nggak bangun-bangun?”. Ibu itu merangkul anaknya dan menjawab, “Papa boboknya di atas, ia selalu melihat kita yang disini. Papa akan senang jika melihat kita melakukan kebaikan”.

Melihat jawaban ibu ini memang tidak logis, tetapi saat penuh kesedihan ini yang terpenting bagi anak adalah perasaan nyaman dan dekapan orangtuanya. Dan biarlah waktu yang akan menjelaskan pada anak tentang arti kematian yang sebenarnya.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

*Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.