Satu permasalahan yang paling sering disampaikan oleh para orangtua tentang anak-anak mereka dalam forum-forum parenting adalah keluhan mereka terhadap tingkah pola anak-anak. Uniknya, para orangtua menyampaikan keluhan tersebut dalam formula yang hampir mirip bahkan serupa.
“Ustadz, saya jengkel dengan kenakalan anak saya yang….”, baru dilanjutkan dengan penjelasan tentang tingkah pola mereka. Idiom ‘nakal’ sering bahkan selalu disertakan di dalam setiap keluhan mereka.
Beberapa tingkah pola yang sering mereka sampaikan adalah anaknya bermain terus dan sulit disuruh belajar, anaknya suka menggoda kakak dan adiknya hingga keduanya marah-marah kepadanya, anaknya sering berantem dengan anak-anak tetangga, dan anaknya sulit diberitahu.
Dalam hati saya merenung, apakah anak-anak tersebut memang anak-anak nakal ?, Apakah dengan perilaku tersebut, mereka sudah dapat dilabeli dengan anak nakal ?, Apakah tidak ada peran bagi orangtua terhadap munculnya perilaku-perilaku tersebut ?.
Bagi anaknya yang bermain terus dan sulit disuruh belajar. Bermain adalah hadiah alam yang berharga untuk putra-putri kita. Ia merupakan ‘alat canggih’ yang memungkinkan seorang anak untuk masuk dalam sebuah kegiatan yang paling serius, penting dan paling mengundang minat.
Setiap anak, baik anak manusia maupun anak hewan diberi karunia untuk bermain, yang memungkinkan anak-anak tersebut dapat mengembangkan seluruh kemampuan motorik, otak dan emosi mereka. Untuk anak manusia anugerah tersebut terasa sangat istimewa, karena ia memiliki masa kanak-kanak dengan rentang waktu terpanjang.
Alam secara bijaksana telah mengijinkan otak anak yang sedang berkembang untuk menghabiskan tahun demi tahun secara maksimal untuk mengekplorasi, mengalami, mencoba, dan bermain dengan pilihan-pilihan perilaku yang tak terbatas.
Mari kita mencoba untuk mengingat kembali saat-saat kita bermain bersama teman-teman di sekolah dasar. Apakah kita merindukan masa-masa itu ?, Apa yang mendasari kerinduan terhadap masa itu ?, Apakah Jenis permainan yang kita mainkan?, Apa yang telah kita pelajari dari permainan itu?, Apakah saat itu kita menunggu datangnya waktu bermain?, Apakah saat ini kita masih mendambakan untuk bermain kembali?.
Kegiatan bermain dapat meningkatkan keterampilan motorik kasar dan halus, koordinasi serta meningkatkan perkembangan semua indera. Dengan bermain anak dapat melakukan eksplorasi dan manipulasi terhadap segala sesuatu yang ada di lingkungan sekitarnya seperti warna, bentuk, ukuran, tektur dan jenis obyek. Saat bermain anak melatih dirinya untuk memecahkan masalah karena ia menggunakan seluruh daya pikir dan imajinasinya.
Ketika anak melakukan aktifitas permainan, anak belajar berinteraksi dengan teman, memahami bahasa lawan bicara dan belajar tentang nilai sosial serta ia belajar memberi dan menerima. Bermain dapat mengembangkan kemampuan dalam mengatur tingkah laku dan bersikap baik karena anak akan merasakan benar dan salah dari setiap permainan yang ia lakukan.
Sekarang, masihkah kita menganggap anak kita yang bermain terus dan sulit disuruh belajar sebagai anak nakal ?.
Kita paling dekat kepada diri sendiri ketika kita mencapai tingkat keseriusan seorang anak saat bermain
Bagi anaknya yang suka menggoda dan berbuat usil terhadap kakak dan adiknya. Tidak ada anak yang mampu menangkap situasi dan kondisi untuk membuat orang lain merasa terganggu dan tersulut emosinya kecuali anak tersebut adalah cerdas dan penuh kreatifitas.
Ia cermat menangkap moment untuk kemudian ia melakukan reaksi terhadap moment yang ia dapatkan. Ia cerdik memilih reaksi yang tepat dari moment yang ia tangkap sehingga orang lain tersulut emosinya. Apakah anak yang mampu untuk melakukan hal-hal di atas adalah anak-anak yang mempunyai kemampuan biasa?
Bagi orangtua, yang perlu dilakukan hanyalah mengarahkan energi kecerdasan dan kreatifitas mereka kepada aktifitas-aktifitas yang lebih bermanfaat dan berdaya guna, tanpa menggunakan kekerasan dan paksaan. Aktifitas tersebut dapat berupa kegiatan bermain bola bersama, menanam pohon bersama anak, memelihara binatang, dan lain-lain.
Beberapa anak melakukan godaan dan tingkah laku usil kepada orang lain bukan karena sekedar keisengan dan main-main tetapi lebih mengarah pada bentuk agresi. Ia melakukan hal tersebut sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan dan kekerasan yang ia terima.
Terhadap bentuk agresi tersebut orangtua tidak dapat langsung menghentikan setiap godaan dan tindak usil yang ia lakukan terhadap saudaranya. Tetapi ia harus terlebih dahulu membuat anak ini merasa nyaman tanpa tekanan dan kekerasan. Kemudian ia dapat mulai mengarahkan kepada kegiatan lain yang lebih berguna.
Berbahagialah mempunyai anak yang suka menggoda dan berbuat usil terhadap saudaranya, karena ini adalah energi positif yang tidak dimiliki setiap anak. Yang terpenting adalah bersiaplah untuk mengarahkan segala godaan dan keusilan mereka pada kegiatan-kegiatan yang lebih bermanfaat.
Bagi anaknya yang sering berantem dengan anak-anak tetangga. Mungkin perilaku ini cukup mencemaskan para orangtua. Banyak orangtua khawatir jika kebiasaan berantem tersebut akan berlanjut hingga anak tumbuh dewasa. Padahal dengan sedikit pembinaan dan arahan yang lembut sudah membuat anak tidak sering berantem.
Memang kita tidak dapat menjamin mereka untuk tidak berantem kembali, tetapi minimal dapat mengarahkan kesukaan mereka dalam mengekpresikan ketidaksetujuan terhadap temannya pada cara yang lebih halus dan santun.
Pada perspektif yang berbeda anak yang sering berantem justru menunjukkan bahwa ia banyak berinteraksi dengan kawan-kawan. Berantem adalah salah satu cara untuk menyelesaikan persoalan di dalam interaksinya.
Anak yang berantem dan main kroyok temannya, pada satu titik sangat menyedihkan, tetapi pada titik yang lain menjadi tanda ia sedang belajar tentang rasa percaya diri, kesetiaan, harga diri dan keteguhan. Di mana saat dewasa, ia lebih mampu menghayati arti persahabatan yang tulus.
Yang paling penting di sini adalah sikap orangtua yang tidak terlalu reaktif dengan menghukum anak di luar kemampuan mereka untuk menerima. Peringatan yang santun untuk pertama berantem dan konsekwensi untuk selanjutnya adalah cara yang lebih mudah diterima oleh anak.
Bagi anaknya yang sulit diberitahu. Tampaknya kita perlu mencermati beberapa aspek berikut ini;
1. Fokus Berbicara kepada Anak dengan Tindak Lanjutnya
Apakah orangtua sudah benar-benar fokus saat memberi tahu? Banyak orangtua yang meminta anaknya untuk meninggalkan televisi karena adzan telah berkumandang. Tetapi saat meminta untuk meninggalkan televisi, mereka tidak fokus terhadap permintaan tersebut karena sedang memasak di dapur.
Sehingga permintaan pertama, kedua dan ketiga hanyalah omelan tanpa adanya tindak lanjut. Menindaklanjuti setiap omongan kita misalnya dengan mematikan televisi atau menunggu di samping anak-anak hingga mereka beranjak dari depan televisi akan lebih didengar oleh anak.
2. Pernyataan Santun, Pertanyaan dan Nada yang Lembut
permintaan yang disampaikan dengan nada perintah dan suara yang tinggi tidak selalu membuat anak lebih mendengarkan. Bahkan pada dasarnya anak tidak suka untuk diperintah apalagi dengan suara tinggi. Karena suara tersebut tidak akan pernah menyentuh hati dan pikiran anak.
Memakai pernyataan yang santun dilanjutkan pertanyaan, kemudian dikombinasikan dengan nada yang lembut akan membuat anak lebih sadar bahwa ia melakukan permintaan orangtua karena keputusan dia sendiri. “Mas.. adzan maghrib sudah berkumandang, apa yang harus kita lakukan saat adzan sudah berkumandang?”
3. Banyak Anak yang Kurang Memahami Maksud Permintaan Orangtua.
Seorang anak yang kita minta untuk memakai sepatu dengan baik, seringkali tidak memahami bahayanya jika sepatu tersebut dipakai dengan kurang baik. Orangtua perlu menjelaskan maksud dan latar belakang mereka meminta sesuatu kepada anaknya.
Jika kita belum pernah untuk mencermati ketiga aspek di atas, apakah layak kita memberi label anak kita sebagai anak nakal hanya karena mereka ‘sulit kita beritahu’?, Bersikap santun dan mencoba untuk mengevaluasi cara-cara kita berkomunikasi dengan mereka adalah sikap yang paling bijaksana.
Akhirnya mari kita mencoba untuk merenung sejenak, manakah yang kita pilih antara dua karakter anak berikut ini; pertama, anak pendiam, kalem, nurut terus orangtua, tidak pernah menggoda adik kakaknya dan tidak pernah berantem. Kedua, anak aktif, usil, kadang tidak mau nurut orangtua, suka menggoda adik kakaknya, dan beberapa kali berantem.
Mungkin kita akan lebih condong kepada karakter anak kedua, aktif, usil, kadang tidak mau nurut orangtua, suka menggoda adik-kakaknya, dan beberapa kali berantem. Dengan lebih condong kepada karakter anak kedua, maka sekarang saatnya kita untuk meningkatkan kesabaran dan menahan emosi, sekaligus membimbing mereka dengan penuh kasih sayang.
Kadangkala ‘kenakalan’ adalah tahapan yang harus dilewati seorang anak, yang akan menjadikannya lebih banyak mengalami, mampu merasakan kesedihan dan kegembiraan orang lain serta menjadikannya mengetahui apa yang harus ia lakukan. Di lain sisi, kenakalan anak-anak kita dapat menjadikan kita lebih mengenang perjuangan ibu kita, betapa tingkah pola kita dahulu telah banyak menyusahkan mereka.
Kenakalan anak seharusnya tidak menjadikan kita susah, selama tidak membahayakan bagi dirinya. Bisa jadi kita dulu lebih nakal dan lebih bandel daripada mereka.]
Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
________________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


