Konsultasi Seputar Pengasuhan Santri Berbasis Uswah

Setiap bulan, lembaga Griya Parenting Indonesia menyelenggarakan webinar Bincang Pesantren sebagai wadah untuk memenuhi kebutuhan pesantren dan sekolah berasrama (boarding school) dalam meningkatkan wawasan serta kesadaran para musyrif dan musyrifah dalam pengasuhan santri. Pada bulan ini, tepatnya Rabu, 13 Mei 2026, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Pengasuhan Santri Berbasis Uswah” bersama Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH.

Sebagian pertanyaan telah dijawab pada sesi webinar, sementara sebagian lainnya belum sempat terjawab. Oleh karena itu, kami sajikan rangkuman 16 pertanyaan beserta jawaban dari Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, MIRKH. sebagai berikut:

1. Ikhwan – PPTQ UA Karanganyar

Pertanyaan:
Apakah uswah harus dilakukan semua asatidzah? Kalau hanya sebagian kecil, apakah tetap berdampak?

Jawaban:
Keteladanan itu memiliki pengaruh yang sangat besar, bahkan terkadang satu sosok guru yang benar-benar hidup dengan nilai dapat membekas lebih dalam daripada banyak aturan dan nasihat. Santri biasanya lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.

Namun demikian, pendidikan akan lebih kuat jika keteladanan menjadi budaya bersama. Jika hanya sebagian kecil yang memberi uswah sementara yang lain kurang mendukung, pengaruhnya tetap ada tetapi tidak maksimal. Karena itu perbaikan harus dimulai dari diri masing-masing pendidik. Kebaikan yang istiqamah perlahan akan menular kepada lingkungan.

2. Nasrul Waton

Pertanyaan:
Bagaimana mendidik dengan sabar ketika kesalahan santri terus berulang?

Jawaban:
Sabar dalam mendidik bukan berarti membiarkan kesalahan terus terjadi, tetapi tetap tenang dan mendidik tanpa dikuasai emosi. Ketika kesalahan terus berulang, jangan hanya fokus pada hukumannya, tetapi coba pahami sebab di balik perilaku itu.

Ada santri yang sebenarnya ingin diperhatikan, ada yang sedang mencari jati diri, ada pula yang belum mampu mengendalikan dirinya. Karena itu, selain ketegasan, mereka juga membutuhkan pendekatan hati, dialog pribadi, dan doa dari gurunya. Kadang perubahan datang perlahan, bukan seketika.

3. Naufal

Pertanyaan:
Bagaimana menyikapi santri yang kritis bahkan suuzan kepada guru?

Jawaban:
Santri yang kritis sebenarnya memiliki potensi yang baik jika diarahkan dengan benar. Yang perlu dibangun adalah adab dalam berpikir dan cara menyampaikan pendapat.

Kadang sikap suuzan muncul karena kurangnya kedekatan dan hilangnya rasa percaya. Maka guru perlu membangun kembali kepercayaan itu dengan akhlak, ketulusan, dan konsistensi. Ketika santri melihat gurunya jujur dan benar-benar peduli, biasanya hati mereka akan lebih mudah luluh.

4. Ubaidillah Luai – PP Sabilul Hasanah Banyuasin

Pertanyaan:
Bagaimana membiasakan uswah kepada santri senior yang menjadi musyrif?

Jawaban:
Musyrif dipahamkan bahwa mereka bukan hanya penjaga asrama, tetapi juga teladan bagi adik-adiknya. Pembiasaan itu dimulai dari hal-hal sederhana namun konsisten: cara berbicara, cara berjalan, tanggung jawab, kesederhanaan sikap, dan disiplin beribadah.

Yang penting bukan hanya memberi tugas kepada musyrif, tetapi juga membina ruhiyah dan kesadaran mereka. Jika hati mereka hidup, maka pengaruh mereka kepada santri juga akan hidup.

5. Salamah – Labuhan Batu Utara

Pertanyaan:
Bagaimana menghadapi kesalahan santri yang terus berulang?

Jawaban:
Kesalahan yang terus berulang biasanya menunjukkan bahwa masalahnya belum selesai di akar. Karena itu jangan hanya menghukum perilakunya, tetapi pahami juga keadaan jiwanya, lingkungannya, dan pergaulannya.

Pendekatan yang lembut dan personal sering kali lebih efektif daripada kemarahan yang terus diulang. Tetapi kelembutan juga harus disertai ketegasan agar santri memahami bahwa aturan tetap harus dihormati.

6. Riswan – IKPM Gontor Lampung

Pertanyaan:
Apakah pengasuhan mahasiswa sama dengan santri biasa?

Jawaban:
Prinsipnya tetap sama, yaitu pembentukan adab, disiplin, dan tanggung jawab. Namun mahasiswa perlu pendekatan yang lebih dewasa. Mereka perlu diajak berdialog, diberi kepercayaan, dan dilibatkan dalam tanggung jawab.

Semakin dewasa seseorang, semakin penting pendidikan berbasis kesadaran, bukan sekadar pengawasan.

7. Zahra

Pertanyaan:
Bagaima
na pendapat tentang hukuman satu kamar ikut dihukum?

Jawaban:
Hukuman bersama bisa bermanfaat jika tujuannya membangun rasa tanggung jawab kolektif dan saling mengingatkan. Tetapi harus dilakukan dengan bijak agar tidak melukai rasa keadilan.

Pendidikan yang baik bukan sekadar membuat santri takut dihukum, tetapi membuat mereka sadar mengapa aturan itu penting.

8. Dewi Faizatul Isma – Al Furqon Ponorogo

Pertanyaan:
Bagaimana jika santri semakin meremehkan musyrifah meski sudah sabar?

Jawaban:
Kesabaran harus berjalan bersama ketegasan. Kadang terlalu lembut tanpa batas membuat santri kehilangan rasa hormat. Maka aturan tetap harus ditegakkan dengan konsisten dan adil.

Namun jangan kehilangan kasih sayang. Banyak santri yang terlihat paling sulit justru sebenarnya paling membutuhkan perhatian dan bimbingan.

9. Ponpes Tahfidz Al Ihsan

Pertanyaan:
Bagaimana mempertahankan budaya keteladanan di era media sosial?

Jawaban:
Media sosial hari ini sangat kuat mempengaruhi cara berpikir dan perilaku santri. Karena itu pesantren tidak cukup hanya melarang, tetapi harus menghadirkan lingkungan yang lebih hidup dan bermakna.

Jika santri melihat contoh nyata tentang akhlak, kesederhanaan, dan keikhlasan di sekitarnya, maka nilai pesantren akan tetap kuat meskipun dunia luar terus berubah.

10. Ade Faqih

Pertanyaan:
Apakah perlu sedikit kekerasan dalam mendidik santri?

Jawaban:
Ketegasan memang penting, tetapi kekerasan bukan jalan utama pendidikan. Hukuman boleh ada selama bersifat mendidik, proporsional, dan tidak melukai fisik maupun batin.

Yang paling berpengaruh dalam pendidikan sebenarnya bukan rasa takut, tetapi rasa hormat dan kedekatan hati antara santri dan gurunya.

11. Nurul Mahmudah

Pertanyaan:
Bagaimana agar disiplin santri bisa bertahan tanpa terus dinasihati?

Jawaban:
Disiplin yang hanya bergantung pada pengawasan biasanya mudah naik turun. Karena itu yang perlu dibangun adalah budaya dan kebiasaan baik secara bersama-sama.

Jika lingkungan hidup dengan nilai disiplin, saling mengingatkan, dan penuh keteladanan, maka lama-kelamaan santri akan terbiasa menjaga dirinya sendiri tanpa harus terus ditegur.

12. Saifullah – Darul Hijrah Banjarmasin

Pertanyaan:
Bagaimana menerapkan keteladanan jika guru tidak tinggal di pondok?

Jawaban:
Tinggal di pondok memang membantu proses pendidikan, tetapi yang paling penting adalah kualitas kehadiran guru. Guru yang disiplin, perhatian, jujur, dan tulus tetap bisa memberi pengaruh besar meskipun tidak tinggal bersama santri.

Kadang satu sikap yang baik lebih membekas daripada kebersamaan yang panjang tetapi tanpa keteladanan.

13. Iman Khoirul Saleh

Pertanyaan:
Bagaimana jika kita marah tetapi santri malah tertawa?

Jawaban:
Jangan langsung terpancing emosi yang lebih besar. Terkadang tawa itu muncul karena gugup, malu, atau belum matang secara emosional. Jika guru semakin emosi, keadaan biasanya justru semakin buruk.

Cobalah tetap tenang dan berbicara setelah suasana reda. Wibawa tidak lahir dari kerasnya suara, tetapi dari ketenangan, akhlak, dan pengendalian diri.

14. Tufiq – Ya Bunayya Pujon

Pertanyaan:
Bagaimana membangun rasa handarbeni seluruh stakeholder?

Jawaban:
Rasa memiliki tidak bisa dipaksa hanya dengan slogan atau aturan. Ia tumbuh ketika semua merasa dihargai, dilibatkan, dan memahami tujuan besar lembaga.

Bangun komunikasi yang baik, budaya saling menghormati, dan keteladanan dari pimpinan. Jika nilai hidup dalam keseharian, maka rasa handarbeni akan tumbuh perlahan.

15. Azzam Ibaadurrohman – PP Al Ihsan Wat Taqwa Kebumen

Pertanyaan:
Bagaimana memotivasi santri yang lemah akademik dan sering melanggar?

Jawaban:
Jangan cepat memberi label negatif kepada santri. Bisa jadi ia hanya belum menemukan cara belajar yang tepat atau sedang kehilangan rasa percaya diri.

Berikan target kecil yang realistis, apresiasi setiap kemajuan, dan dampingi dengan sabar. Tidak semua anak tumbuh dengan kecepatan yang sama. Terkadang anak yang paling sulit hari ini justru menjadi pribadi yang paling kuat di masa depan.

16. Aisyah Yunus – Al Imam Makassar

Pertanyaan:
Berapa usia ideal pembina asrama?

Jawaban:
Yang paling penting sebenarnya bukan angka usia, tetapi kematangan jiwa dan akhlaknya. Pembina harus mampu mengendalikan emosi, sabar, bertanggung jawab, dan siap menjadi teladan.

Karena tugas pembina bukan hanya menjaga asrama, tetapi juga membentuk hati dan karakter para santri.