Beberapa bulan ini, saya dan suami mengerjakan sesuatu yang baru : Psikogenia, belajar psikologi di rumah kami. Anak dan pemuda, usia 10 tahun ke atas dari berbagai kota, tinggal di rumah kami, live in, 5, 10 atau 14 hari untuk belajar psikologi.
Salah satu menu belajarnya adalah, literasi emosi. Mengenal emosi diri dan mengenal emosi orang lain. Materi yang sangat menarik, sampai para orangtuanya pun ingin dapat. Maka, semoga menarik jika saya jadikan tulisan di sini.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi pertama yang saya bahas adalah bahagia, yang sepertinya diidamkan semua orang. Emosi yang dirasa saat puas, senang tujuan tercapai, atau harapan terwujud.
Biasanya nampak dengan bahasa tubuh senyum, tertawa, rileks, nada suara ceria.
Siapa yang tak ingin bahagia? Bahkan remaja penggemar k-drama yang magang, berharap drama yang ditonton akan happy ending. Kalau gak happy ending, gak mau nonton.
Padahal hidup yang sebenarnya gak selalu happy, gak selalu happy ending. Di meja konseling saya, huuh..lebih banyak yang tidak happy. Ya iyalah, kalau happy gak butuh konseling buu.
Eits..sekian banyak kasus ingin bercerai di meja konseling, itu diawali dengan kalimat : bukankah, saya berhak bahagia?
☕☕☕☕☕☕☕
Jadi, apakah benar semua orang berhak berjuang bahagia? Boleh, tapi yakinlah bahwa itu tidak akan selalu terjadi.
Sudah siklusnya, bahwa hidup adalah pergantian, kadang enak kadang tidak enak. Kita hidup memang untuk dapat ujian, dengan kesenangan pun dengan ketidaksenangan.
Jadi, supaya bahagia bagaimana?
Nah, mari kita maknai bahagia dengan ketenangan hati. Saat sedih, tenang. Saat senang, tetap tenang. Bersedih sewajarnya, bersenang hati secukupnya. Bahagia.
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mengenal Allah, mengingat Allah dan mencintai Allah. Bahagia di dunia ya, ketika kita ingat siapa yang jadi alasan kita ada, dan kemana kita akan pergi.
Bayangkan, saya membahas ini bersama anak usia 10-17 tahun. Kak, orangtuamu tuh cinta gak sama kamu? Pasti kan. Kadang kamu senang kan sama ortu. Tapi kenapa, kadang mereka menyebalkan?
Sama seperti kita, kadang sebal sama beberapa hal yang terjadi, padahal apa yang terjadi itu berasal dari yang Yang Mencintai kita.
Berbahagia saja ya teman-teman.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak Griya Parenting Indonesia
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


