Saya pernah konseling kasus psikosomatis tak terlupakan yang berakar pada emosi benci. Apa bentuk gejala fisiknya? Menahan BAB. Orang normal akan sakit perut ketika 2-3 hari tak bisa BAB. Klien saya ini, menahan BAB dengan sengaja sampai 2 pekan, tanpa mengeluh sakit.
Klien putri, umur 11 tahun, cerdas ber-IQ di atas rata-rata. Prestasi akademik luar biasa, dan hafalan Quran sudah 5 juz. Dia membenci ibunya, kemudian dengan sengaja mencari cara cerdas agar sang ibu stres dan terluka hatinya.
Dia coba dengan mogok sekolah, ibunya masih sabar. Dia coba mogok setoran hafalan, ibunya tak marah. Dia temukan satu cara yang membuat ibunya marah terus menerus, menahan BAB.
Jika dia sudah tahan BAB lebih dari 3 hari, ibunya akan dengan marah membawanya ke kamar mandi dan dengan paksa memasukkan kapsul pencahar lewat dubur, agar kotoran seperti batu itu terpaksa keluar.
Ibunya lelah, sudah lebih dari 3 bulan kejadian ini berlangsung dan anak ini begitu ‘menikmati’ stres ibunya. Akhirnya dokter langganan mereka juga menyerah : anak ini harus konseling bu, ini masalah psikis..
Biasanya kasus psikosomatis berakar pada emosi cemas. Psikosomatis adalah keluhan fisik yang nyata tetapi dipicu atau diperberat oleh tekanan psikologis seperti cemas dan stres. Saat seseorang cemas terus-menerus, sistem stres tubuh aktif berkepanjangan sehingga muncul gejala seperti jantung berdebar, sesak, sakit kepala, atau gangguan lambung.
Jadi, cemas adalah emosinya, sedangkan psikosomatis adalah dampak fisik yang muncul ketika emosi itu tidak terkelola dengan baik. Unik sekali psikosomatis kali ini berakar pada emosi benci.

Emosi benci adalah reaksi emosional kuat berupa penolakan mendalam terhadap seseorang, perilaku, atau situasi yang dianggap menyakiti, mengancam, atau sangat bertentangan dengan nilai diri.
Secara psikologis, benci biasanya tidak berdiri sendiri. Ia sering merupakan campuran dari marah yang menetap, kecewa yang tidak selesai, luka batin yang belum pulih atau rasa terancam
Menariknya, benci sering menyimpan energi besar. Jika tidak dikelola, ia bisa berubah menjadi dendam atau permusuhan berkepanjangan. Tapi jika diolah dengan kesadaran, ia bisa menjadi sinyal bahwa ada batas diri yang dilanggar atau nilai yang sedang dipertahankan.
Kita jarang membenci orang asing. Orang asing tidak punya “akses” ke hati kita. Tapi orang terdekat pernah punya ruang di dalamnya, dan ketika ruang itu terasa disalahgunakan, emosi yang muncul bisa sangat kuat.
Kedekatan melahirkan keterikatan dan harapan yang besar terhadap sikap, kesetiaan, dan perhatian seseorang. Saat harapan itu dilanggar, luka yang muncul terasa jauh lebih dalam dibandingkan kekecewaan pada orang yang tidak punya makna emosional.
Dalam konteks klien saya tadi, dia membenci ibunya karena memendam kecewa dan marah, dia menganggap ibunya adalah penyebab ayah yang sangat ia cinta meninggal dunia. Dia berharap ayah ibunya saling mencintai. Selama ayahnya sakit, ibunya jarang ada di rumah. Sang ibu memang pontang panting jadi tulang punggung keluarga sementara anak jadi saksi si ayah di rumah kesakitan karena kanker, sampai meninggal dunia.
Benci akibat salah paham ini, energinya besar sekali. Tak mungkin menahan BAB berhari-hari tidak sakit, tapi dia jalani itu untuk melampiaskan benci pada ibunya. Seolah tidak masuk akal.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi benci berbahaya, bisa menyebabkan hati menjadi keras, sulit toleransi dan adaptasi. Saya bahkan mengamati, anak-anak yang orangtuanya berpisah masih akan ‘aman’ tumbuh kembangnya emosinya selama tidak ada kebencian.
Jika mantan suami istri menjadi saling benci setelah berpisah, anak-anak mereka tumbuh dalam ‘gelap’. Kemudian, atas sirkulasi kegelapan itu, ada yang terjerumus pada kecanduan, agresivitas, LGBT, dan penyimpangan perilaku lainnya.
Dalam Islam, benci yang dipelihara termasuk penyakit hati yang berbahaya. Ulama menyebut mudah membenci bisa menjadi bentuk hukuman Allah di dunia sebelum balasan akhirat, karena hati yang dipenuhi kebencian akan hidup dalam kegelisahan tanpa disadari.
Benci adalah rasa tidak suka yang kuat, termasuk akhlak tercela. Obatnya adalah membersihkan hati dengan sabar, menahan amarah, melawan hawa nafsu, serta menyadari bahwa kekuasaan Allah atas diri kita jauh lebih besar daripada dorongan untuk membalas atau berprasangka buruk kepada orang lain.
Jangan pelihara rasa benci. “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


