Seorang lelaki mengaku membunuh remaja putri, karena sudah berkonflik dengan putrinya. Tapi, dalam satu sesi investigasi denga, lelaki menunjukkan bahasa tubuh yang amat jujur, bahwa dia tidak membunuhnya.
Alisnya terangkat, mata membesar, mulut sedikit terbuka saat ditunjukkan foto remaja putri korban pembunuhan dalam kondisi bersimbah darah. Ini adalah mikroekspresi khas dari emosi terkejut. Tidak mungkin pelakunya terkejut seolah tidak pernah menemui kejadian itu. Emosi terkejut memang spontan. Dengan membaca emosi terkejut ini, akhirnya terungkap bahwa putrinya yang membunuh temannya, dan sang ayah mengaku untuk menutupi kesalahan putrinya.
Cerita ini adalah petikan dari serial yang banyak memuat bahasan mikroekspresi emosi. Menurut Paul Ekman, terkejut (surprise) termasuk salah satu emosi dasar karena punya ciri yang sangat khas dan universal.
☕☕☕☕☕☕☕
Terkejut adalah reaksi paling singkat dan paling cepat muncul. Rasa terkejut terjadi sebelum kita sempat berpikir. Terkejut adalah respon saraf yang otomatis saat ada stimulus mendadak (suara keras, sentuhan tiba-tiba, atau informasi baru yang tidak disangka).
Ekman, pakar psikologi, menemukan bahwa ekspresi terkejut dikenali di berbagai budaya. Bahkan bayi pun menunjukkannya sebelum belajar sosial.
Uniknya, terkejut bukan emosi “tujuan akhir”, jadi semacam gerbang. Setelah terkejut, emosi lain langsung mengikuti:
▶️Kalau stimulus berbahaya → berubah jadi takut.
▶️Kalau menyenangkan → berubah jadi gembira.
▶️Kalau menjijikkan → berubah jadi jijik.
Jadi secara khas, terkejut itu emosi pendahulu, semacam alarm awal sistem saraf. Emosi ini mempersiapkan tubuh untuk cepat menilai situasi sebelum otak rasional ikut bekerja. Kalau boleh dibilang, terkejut itu tombol “reset perhatian” kita. Singkat, eksplosif, dan sangat biologis
☕☕☕☕☕☕☕
Beberapa hari lalu pembaca menanyakan apakah sensitif adalah nama emosi. Bukan, sensitif bukan nama emosi tapi kecepatan emosi.
Orang yang sensitif akan mudah terkejut, kemudian mudah bereaksi.
Contohnya:
Dua orang dikritik.
Yang satu mendengar, mencerna, lalu merespons tenang.
Yang lain kaget, langsung tersinggung, sedih, atau marah.
Emosinya bisa sama (misalnya marah atau sedih), tapi ambang rangsangnya berbeda.
Sensitif juga tidak selalu negatif. Ada sensitif yang berarti:
Empatik
Peka terhadap perasaan orang
Cepat menangkap suasana
Yang jadi masalah bukan sensitifnya, tapi bagaimana regulasinya. Yang masalah bukan rasa terkejutnya, tapi bagaimana mengelola rasa terkejut itu.
☕☕☕☕☕☕☕
Memang ada anak dengan gangguan sensitif ini, biasanya anak yang sistem integrasi sensorik nya belum matang menjadi tidak proporsional sensitivitas respon dan emosinya.
Emosi terkejut adalah alarm awal tubuh saat ada rangsangan mendadak untuk menilai apakah situasi aman atau berbahaya. Pada anak dengan perbedaan sensitivitas sensorik, alarm ini bisa terlalu mudah aktif atau justru sulit aktif.
Anak hipersensitif mudah terkejut karena rangsangan kecil terasa sangat kuat, sehingga sering muncul kaget berlebihan, cemas, atau panik. Sebaliknya, anak hiposensitif butuh rangsangan lebih besar untuk bereaksi, tampak kurang responsif, atau mencari sensasi tambahan.
Jadi perbedaannya bukan pada emosinya, tetapi pada bagaimana sistem sensorik memicu emosi tersebut, ada yang terlalu cepat dan intens, ada yang lebih lambat dan butuh stimulus lebih kuat. Kami menyarankan terapi integrasi sensorik untuk anak-anak seperti ini, karena bisa mengganggu regulasi emosi ke depan.
☕☕☕☕☕☕☕
Dalam Al-Qur’an, keadaan terkejut digambarkan dengan istilah seperti fazi‘a (terperanjat hebat) dan sha‘iqah (tersambar dahsyat). Misalnya pada Surah An-Naml ayat 87 dan Az-Zumar ayat 68, manusia dan makhluk lain tersentak saat tiupan sangkakala pada Hari Kiamat. Namun pada Surah Al-Anbiya ayat 103 disebutkan bahwa orang beriman tidak diliputi ketakutan besar; ini menunjukkan bahwa kejutan besar memang terjadi, tetapi kesiapan iman menentukan apakah seseorang panik atau tetap tenang dalam lindungan Allah.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


