Literasi Emosi Part 14: Jijik

Pada suatu hari, kami mengelola sesi referal kasus hubungan suka sesama jenis, di sebuah pesantren putra. Saya menegaskan pernyataan berikut :

Fenomena suka sesama jenis, jelas bukan karena anak-anak ini berkumpul sesama putra. Mereka yang terbelok, seringkali kita temukan latar belakang yang ada jauh sebelum masuk pesantren. Mari kita urai latar belakang ini. Jadi, sebenarnya anak-anak ini perlu dipahami kenapa mereka begitu, dan mari kita bantu agar kembali pada fitrahnya.

Di meja rapat itu ada 8 orang, dan ada 2 yang spontan menunjukkan bahasa tubuh khas. Tanda khas emosi jijik seperti hidung mengerut, bibir atas terangkat, alis sedikit turun, dan mata menyempit.

Semua peserta rapat nampak menyimak serius, tanpa sahutan komentar. Meskipun ini suasana rapat, saya tetaplah praktisi psikologi yang spontan membaca bahasa tubuh orang-orang yang bersama saya. Jadi, teranalislah emosi apa yang saya hadapi.

Wajar sih merasa jijik pada konsep homoseksual. Asal jangan jijik pada orangnya, nanti kita jadi kurang semangat dakwah. Sungguh, orang-orang terjerumus dalam keburukan, bisa jadi mereka sedang tersesat, tidak tahu harus berubah darimana, dan butuh bantuan orang lain untuk kembali ke jalan yang benar.

Saya dipertemukan dengan bermacam latar belakang fenomena suka sesama jenis ini. Ada yang korban pelecehan, kekerasan, perundungan, dan salah pengasuhan. Kasihan ‘kan jadinya, bukan jijik.

Masih menurut Paul Ekman, jijik (disgust) layak disebut emosi dasar karena ia biologis, universal, punya ekspresi khas, dan punya fungsi adaptif yang sangat kuat.

Jijik adalah emosi penolakan yang intens terhadap sesuatu yang dianggap mengancam kebersihan, kesehatan, atau batas moral diri. Jadi, ada dua ranah jijik.

Pertama, jijik fisik adalah reaksi terhadap sesuatu yang dianggap kotor, busuk, berbau, atau berpotensi menularkan penyakit, seperti makanan basi atau luka terbuka, yang berfungsi melindungi tubuh dari bahaya biologis.

Sementara itu, jijik psikis atau moral muncul terhadap perilaku dan situasi yang dianggap melanggar norma, seperti kebohongan atau pengkhianatan, dan berperan menjaga batas diri serta integritas sosial.

Secara keseluruhan, emosi jijik memiliki fungsi adaptif yang kuat sebagai sistem perlindungan cepat, baik untuk menghindari ancaman fisik maupun mempertahankan nilai dan identitas, karena responsnya otomatis dan membantu manusia menjauh dari hal-hal yang berisiko merusak tubuh maupun kehidupan sosialnya.

☕☕☕☕☕☕☕

Jijik memang berguna dalam hidup. Tapi, emosi jijik juga bisa mengalami salah penempatan.

Dalam sesi konsultasi anak tantrum, saya dapati seorang ibu merasa jijik setiap kali anaknya tantrum.

Awalnya karena ia lelah menghadapi ledakan emosi yang berulang, tetapi tanpa ia sadari. Ada lapisan lain yang lebih dalam, setiap melihat wajah anaknya, ia teringat pada mantan suami yang pernah sangat menyakitinya, apalagi wajah mereka mirip. Jadi, ibu ini jijik pada tantrum anak dan juga jijik pada wajah mantan suami yang ada di wajah anak.

Luka lama yang belum pulih itu membuat emosi marah, sakit hati, dan penolakan bercampur, lalu secara tidak sadar melekat pada anak. Dalam sudut pandang emosi, ini contoh bagaimana jijik bisa berkembang tidak sehat.

Jijik seharusnya berfungsi melindungi dari sesuatu yang membahayakan, tetapi di sini ia berubah menjadi mekanisme menjauh dari sosok yang sebenarnya membutuhkan kedekatan.

Setelah didalami, tantrum anak ibu ini hanya tanda kurang perhatian, kurang sentuhan, dan kebutuhan akan rasa aman. Ketika emosi jijik dibiarkan bercampur dengan trauma masa lalu, ia bisa merusak ikatan ibu-anak dan memperkuat siklus penolakan yang tidak disadari.

Alih-alih menyusun modifikasi perilaku tantrum anak, saya merasa lebih perlu dampingi ibunya untuk mengelola luka batin, agar tidak jijik pada anaknya yang sedang butuh perhatian.

Jijik pada tempatnya adalah penjaga batas yang melindungi tubuh, nilai, dan martabat kita. Namun, ketika salah arah, jijik berubah menjadi tembok yang menjauhkan empati dan merusak hubungan yang seharusnya dirawat.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.