Literasi Emosi Part 16: Menyesal

Seorang ibu bertemu saya di sesi konsultasi, guru mengeluhkan anaknya cenderung agresif pada teman. Setelah bicara panjang, kami sampai pada simpulan : Jadi, ini hanya karena butuh perhatian saja ya, bu.

Sang ibu langsung menangis tak terbendung, dia bercerita barusan menyelesaikan proses cerai, saat ini jadi ibu tunggal untuk 3 anak, tanpa nafkah dari mantan suami.

Ketika saya bahas, apa ada kemungkinan kita melibatkan ayahnya anak-anak? Seketika, raut muka bernuansa menyesal nampak. Kemudian, sang ibu bercerita panjang mengapa akhirnya memilih berpisah.

Betapa tidak menyesal, dulu dia menikah beda agama, hidup bahagia bertahun-tahun sampai suaminya selingkuh, dan selingkuhannya adalah laki-laki.

Saya langsung memeluk sang ibu, dan memberikan empati bahwa keputusan berpisah, bisa jadi adalah yang terbaik.

☕☕☕☕☕☕☕

Menyesal itu emosi yang sangat menarik, karena emosi ini melihat ke masa lalu, tapi memengaruhi masa depan.

Menyesal muncul ketika seseorang menyadari bahwa pilihan, tindakan, atau kelalaiannya di masa lalu ternyata membawa akibat yang tidak diinginkan.

Secara psikologis, emosi ini lahir dari proses perbandingan mental: otak membayangkan “seandainya tadi aku memilih yang lain…”. Karena itu menyesal sering terasa seperti dialog batin antara kenyataan yang terjadi dan kemungkinan yang tidak terjadi.

Menariknya, menyesal punya fungsi adaptif. Rasa menyesal membantu manusia belajar dari kesalahan, memperbaiki keputusan berikutnya, dan menumbuhkan tanggung jawab.

Tanpa kemampuan merasa menyesal, seseorang bisa mengulangi kesalahan yang sama tanpa refleksi.

Namun seperti emosi lain, menyesal juga punya dua wajah.
▶️ Menyesal yang sehat mendorong perbaikan dan pertobatan.
▶️ Menyesal yang berlarut bisa berubah menjadi penyesalan kronis, rasa bersalah berlebihan, bahkan menyiksa diri dengan pikiran “seandainya”.

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi menyesal dan rasa bersalah sering muncul bersamaan, tetapi sebenarnya berbeda. Menyesal muncul ketika seseorang menyadari bahwa keputusan yang diambil menghasilkan akibat yang tidak baik, fokusnya pada pilihan yang keliru. Sementara rasa bersalah (guilt) muncul ketika seseorang merasa telah melanggar nilai moral atau menyakiti orang lain.

Jadi menyesal berkaitan dengan keputusan yang salah, sedangkan rasa bersalah berkaitan dengan kesadaran telah berbuat salah.

Dalam kehidupan sehari-hari keduanya sering saling berkaitan. Seseorang bisa menyesal karena berkata kasar, lalu muncul rasa bersalah ketika menyadari kata itu melukai orang lain.

Menyesal membantu kita belajar dari keputusan yang keliru, sedangkan rasa bersalah mendorong kita memperbaiki kesalahan dan hubungan yang rusak.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam Islam, penyesalan (nadam) justru dianggap inti dari proses taubat.

Rasulullah ﷺ bersabda: “An-nadamu taubah”, penyesalan itu adalah taubat (HR. Ibnu Majah).

Artinya, ketika hati benar-benar menyesal atas dosa yang telah dilakukan, di situlah pintu taubat mulai terbuka.

Dalam kajian tazkiyatun nafs, nadam adalah kesadaran batin bahwa seseorang telah menjauh dari kebaikan atau melanggar perintah Allah. Perasaan ini membuat hati terasa berat, sedih, dan ingin kembali memperbaiki diri.

Penyesalan yang sehat bukan sekadar merasa bersalah, tetapi mendorong tiga langkah: berhenti dari kesalahan, memohon ampun kepada Allah, dan bertekad tidak mengulanginya.

Karena itu dalam Islam, penyesalan bukan emosi yang harus dihindari. Justru ia adalah alarm ruhani yang menghidupkan hati, mengingatkan manusia pada kelemahan dirinya, dan membuka jalan kembali kepada rahmat Allah.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.