Literasi Emosi Part 17: Sinis

Suami melihat istrinya sholat tergesa, tatapannya menyipit sedikit, seolah menilai. Dalam hati ia bergumam, “Sholat kok buru-buru begitu.” Padahal di sekeliling mereka pekerjaan rumah menumpuk dan bayi baru saja tertidur.

Istri melirik suaminya dengan sudut bibir yang naik tipis di satu sisi, seperti senyum setengah. Dalam hatinya ia berkata, “Jadi orangtua kok gak bisa dekat sama anak?”

Rekan kantor meremehkan temannya yang belum mencapai target.
Ketika laporan penjualan dibahas, alisnya turun tipis sambil menatap rekannya. Dalam hatinya ia berkata, “Target segitu saja tidak tercapai.”

Orangtua meremehkan anak, guru meremehkan siswa, teman meremehkan teman. Sungguh, yang melakukan di kemudian waktu akan menyesal dan yang diremehkan jelas akan sakit hati jika sampai tahu. Sinis saya pilih sebagai nama emosi, yang dalam kajian ilmiah disebut disgust.

☕☕☕☕☕☕☕

Contempt adalah emosi merendahkan orang lain, yang dalam bahasa sehari-hari sering tampak sebagai sikap sinis atau mengejek.

Menurut Paul Ekman, contempt (meremehkan/merendahkan) adalah emosi yang muncul ketika seseorang merasa lebih tinggi atau lebih benar dibanding orang lain.

Emosi ini berbeda dari marah atau jijik karena tidak selalu berisi ledakan emosi, melainkan rasa merendahkan yang dingin terhadap orang lain.

Secara ekspresif, contempt memiliki ciri wajah yang cukup khas, satu sudut bibir terangkat sedikit ke samping, seperti setengah senyum sinis.

Ekspresi ini sering sangat singkat, bahkan muncul sebagai mikroekspresi, sehingga hanya terlihat sepersekian detik sebelum orang kembali ke wajah netral.

Dalam dinamika sosial, contempt sering muncul dalam hubungan yang sedang retak, misalnya dalam konflik pasangan, rekan kerja, atau hubungan keluarga.

Emosi ini penting karena ia menandakan penilaian moral yang merendahkan orang lain, bukan sekadar ketidaksukaan biasa. Karena itu contempt sering dianggap sebagai salah satu emosi yang paling merusak hubungan, sebab ia mengandung pesan tersembunyi: “Aku lebih baik daripada kamu.”

Secara psikologis, jika emosi ini menjadi kebiasaan merendahkan orang lain secara kronis, akhirnya dikaitkan dengan Gangguan Kepribadian Narsistik atau Superiority Complex, di mana seseorang merasa perlu menjatuhkan orang lain untuk mempertahankan citra dirinya yang merasa paling unggul. Salah satu dari 3 dark triad personality.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam Islam, emosi sinis, perasaan merasa diri lebih baik dari orang lain berkaitan dengan takabur, yaitu kesombongan hati yang membuat seseorang meremehkan orang lain.

Sifat ini pernah ditunjukkan oleh Iblis ketika menolak perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an (QS. Al-A‘raf:12). Karena itu takabur dipandang sebagai penyakit hati yang berbahaya.

Obatnya adalah melatih tawadhu’ (rendah hati), menyadari bahwa setiap kelebihan hanyalah titipan Allah, serta membiasakan muhasabah agar tidak mudah meremehkan orang lain. Dalam pandangan Islam, kemuliaan seseorang bukan pada merasa lebih unggul, tetapi pada ketakwaan.

Jauhi emosi sinis.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Atau ceritakan kesinisan apa yang Anda amati bisa merusak hubungan. Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.