Literasi Emosi Part 20: Putus Asa

Kenapa artikel yang ada, judulnya tidak ada yang memberi semangat sama sekali ke pembacanya?

Ini pertanyaan salah satu pembaca yang budiman. Saya mohon maaf atas ketidaknyamannya. Saya sungguh sengaja mengenalkan emosi positif negatif bergantian di 10 hari pertama, 10 hari kedua memang membahas emosi gelap semua. Mari menantikan, 10 hari ke depan akan bernuansa emosi positif semua, in syaa Allah.

Emosi-emosi yang sering disebut “emosi gelap” penting dipelajari karena dalam filsafat manusia emosi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari pengalaman menjadi manusia. Para ahli bahkan melihat emosi gelap adalah tanda bahwa manusia sedang berhadapan dengan pertanyaan tentang makna hidup dan keberadaannya, membantu manusia memahami dirinya secara lebih jujur, mengembangkan kesadaran diri, dan melihat kehidupan secara lebih utuh.

Ini bahasan emosi gelap terakhir, putus asa.

Kenapa kamu sayat tanganmu pakai cutter? tanya saya. Soalnya aku curhat ama temenku, tapi gak diperhatiin. jawab dia.

Emosi putus asa sangat mengerikan. Penyebab bisa sepele, tindakannya bisa ekstrim.

☕☕☕☕☕☕☕

Di meja konseling saya, emosi ini seringkali muncul secara dominan. Dari siapa? Orangtua yang anaknya ABK, suami atau istri yang pasangannya selingkuh, remaja yang dibully kemudian melakukan berbagai penyimpangan perilaku, anak-anak yang merasa tidak dipahami orangtuanya.

Emosi putus asa adalah perasaan kehilangan harapan ketika seseorang merasa bahwa usaha yang dilakukan tidak lagi membawa perubahan atau jalan keluar.

Dalam kondisi ini, seseorang dapat mengalami kelelahan batin, pesimisme, serta keyakinan bahwa masa depan tidak akan membaik. Masih ingat BLAST sebagai deteksi dini penyimpangan perilaku? S nya adalah stres dan T nya adalah tired, 2 kondisi yang biasa memicu munculnya emosi putus asa.

Secara psikologis, emosi putus sering muncul ketika seseorang menghadapi kegagalan berulang, tekanan hidup yang berat, atau merasa tidak memiliki dukungan.

Ekspresi emosi putus asa dapat terlihat dalam berbagai perilaku. Orang bisa menjadi sangat pasif dan kehilangan motivasi untuk mencoba lagi.

Kadang orang dengan emosi putus asa sering mengeluh tanpa mencoba mencari solusi, atau kehilangan semangat untuk belajar, bekerja, dan merencanakan masa depan.

Beberapa orang tidak mau bekerja, tidak mau lanjut kuliah, mogok sekolah, atau sengaja tidak menikah sering punya latar emosi putus asa. Meski tentu ini bukan satu-satunya latar belakang, ada banyak cerita pedih dalam dinamika hidup tiap orang.

Orang dengan emosi putus asa, sering mengucapkan kalimat pesimis seperti “percuma saja,” menarik diri dari aktivitas dan pergaulan, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, menunjukkan wajah murung, atau kehilangan minat terhadap hal-hal yang sebelumnya disukai.

Satu perilaku yang lagi nge-trend di anak muda adalah self harm, menyayat tangan, kaki atau bagian tubuh lainnya saat emosi putus asa mencuat. Sungguh menjadi keprihatinan kita bersama. NSSI adalah istilah ilmiahnya, non suicidal self injury.

Yang jelas, orang dengan emosi putus asa butuh bantuan. Jangan dicemooh, jangan diremehkan. Mari kita pahami kepedihannya dan bantu apa yang bisa dirinya bangkit.

Cara menemani orang dengan emosi putus asa adalah dengan menjadi pendengar, kemudian berempati, baru kita tawarkan solusi atas kepedihannya.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam Islam, putus asa dilarang karena bertentangan dengan keyakinan bahwa rahmat dan pertolongan Allah selalu terbuka bagi manusia. Sikap putus asa menunjukkan hilangnya harapan terhadap kasih sayang Allah, padahal dalam ajaran Islam manusia diajarkan untuk selalu memiliki harapan (raja’) dan tawakal kepada-Nya, bahkan ketika menghadapi kesulitan yang berat.

Al-Qur’an menegaskan larangan ini dalam firman Allah: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53). Ayat ini mengingatkan bahwa sebesar apa pun kesalahan, kegagalan, atau ujian yang dialami, pintu ampunan dan pertolongan Allah tetap terbuka.

Karena itu, dalam Islam emosi sedih, lelah, atau kecewa tetap manusiawi, tetapi sikap putus asa tidak dibenarkan. Kita didorong untuk menjaga harapan kepada Allah, bersabar dalam ujian, serta terus berusaha dan berdoa sebagai bentuk keyakinan bahwa setiap kesulitan memiliki jalan keluar.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.