Literasi Emosi Part 25: Haru

Seorang ibu menangis di acara wisuda anaknya. Sedih? Tentu saja tidak, itu pastinya bahagia. Bahagia yang mengharukan, ada perjuangan mencari nafkah, perjuangan anaknya untuk bertahan belajar sampai lulus.

Seorang guru menangis saat diberi kejutan hadiah oleh muridnya. Air mata untuk teman yang membela saat perundungan. Airmata saat dua sahabat lama berjumpa lagi dan terkenang kebaikan masing-masing. Air mata istri karena dibangunkan suaminya, dan makanan sahur sudah siap di meja. Ya, semua ini emosi terharu juga.

Haru adalah emosi yang indah, tak kalah indah dari kasihan. Mari kita bedah.

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi haru adalah perasaan tersentuh yang dalam ketika seseorang mengalami atau menyaksikan sesuatu yang menyentuh hati, biasanya berkaitan dengan kebaikan, pengorbanan, kasih sayang, atau keindahan makna hidup.

Emosi ini sering berada di antara sedih dan bahagia, sehingga seseorang bisa merasa hangat di hati sambil menitikkan air mata.

Secara psikologis, haru muncul ketika kita menyadari nilai kemanusiaan yang kuat, misalnya melihat pengorbanan orang tua, kebaikan seseorang yang tulus, atau perjuangan seseorang yang menyentuh.

Ekspresinya sering berupa mata berkaca-kaca, suara melembut, napas tertahan, atau air mata yang jatuh tanpa terasa.

Emosi haru memiliki 2 fungsi yang baik secara sosial :
▶️ menguatkan empati
▶️ menguatkan kedekatan antar manusia.

Saat seseorang merasa haru, ia lebih mudah merasakan kepedulian, menghargai kebaikan, dan terdorong melakukan kebaikan yang sama.

☕☕☕☕☕☕☕

Dua emosi sama-sama menguatkan empati, tapi dengan cara berbeda.
Kasihan dan terharu sama-sama emosi yang menyentuh hati, tetapi sumber dan rasanya berbeda.

Kasihan muncul ketika seseorang melihat penderitaan atau kesulitan orang lain. Fokusnya adalah pada kelemahan atau kesulitan yang dialami orang lain.

Terharu muncul ketika seseorang menyaksikan kebaikan, pengorbanan, atau makna yang menyentuh hati. Fokusnya bukan pada penderitaan, tetapi pada nilai kemanusiaan yang menyentuh.

Sederhananya: kasihan muncul karena melihat penderitaan, sedangkan terharu muncul karena melihat kebaikan atau makna yang menyentuh hati.

☕☕☕☕☕☕☕

Ada beberapa keunikan emosi haru. Pertama, ada riset yang menunjukkan perempuan lebih sering mengekspresikan emosi seperti terharu atau menangis.
Tetapi bukan berarti perempuan lebih emosional, melainkan mereka lebih bebas mengekspresikannya, sementara laki-laki lebih sering menahannya.

Menariknya, beberapa studi juga menunjukkan bahwa ketika menghadapi stimulus emosional tertentu (misalnya tangisan bayi), respons dasar laki-laki dan perempuan bisa sama kuatnya, hanya ekspresinya yang berbeda.

Beberapa orang yang memiliki luka pengasuhan atau pengalaman masa lalu yang berat kadang menjadi sulit merasakan emosi seperti terharu.

Dalam psikologi, hal ini bisa terjadi karena seseorang belajar melindungi diri secara emosional. Ketika pada masa tertentu ia sering mengalami penolakan, kekerasan, atau kurang kehangatan, hati bisa membangun semacam “pelindung” agar tidak mudah tersentuh atau terluka lagi.

Akibatnya, orang tersebut dapat terlihat lebih kaku, dingin, atau sulit menunjukkan perasaan, termasuk sulit merasa terharu ketika melihat kebaikan atau momen yang menyentuh.

Bukan berarti ia tidak memiliki hati atau empati, tetapi kepekaan emosinya tertahan oleh mekanisme perlindungan diri yang terbentuk dari pengalaman masa lalu.

☕☕☕☕☕☕☕

Orang yang mudah terharu sering memiliki hati yang peka terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah. Ketika melihat kebaikan, pengorbanan, atau keindahan hidup, hatinya cepat tersentuh karena ia memandangnya sebagai bagian dari kebesaran Allah.

Rasa terharu sering menjadi bentuk kesadaran spiritual yang membuat seseorang lebih mudah bersyukur dan merasa dekat dengan-Nya.

Dalam pandangan Islam, rasa terharu juga tanda kelembutan hati. Hati yang mudah tersentuh oleh kebaikan atau ayat-ayat Allah menunjukkan bahwa ia masih hidup dan peka terhadap kebenaran.

Al-Qur’an menggambarkan orang beriman sebagai mereka yang hatinya bergetar dan matanya meneteskan air mata ketika mengingat Allah.

Kelembutan ini selaras dengan sifat Allah Al-Latif, Yang Maha Lembut, sehingga rasa terharu dapat dipandang sebagai jejak rahmat Allah yang membuat hati lebih dekat kepada-Nya.

Mari berbahagia atas setiap keharuan yang kita rasakan.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.