Kita sedang mendapat suguhan dinamika global yang memanas, yaitu konflik di Timur Tengah. Sekilas dari yang teramati, lebih banyak kekaguman pada negara Iran yang kita tahu menunjukkan perlawanan tangguh atas tekanan lawan. Wow, keren sekali Iran, begitulah kira-kira. Ya, inilah contoh emosi kagum.
Dengan emosi inti yang sama, saya pernah dapat kasus seorang santri yang kabur dari pesantren di Jawa Timur. Dia pergi naik bis ratusan kilometer, demi menonton idolanya konser di Jakarta. Kenapa? Berawal dari kagum juga.
Menarik sekali emosi kagum ini. Mari kita uraikan.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi kagum adalah perasaan takjub yang muncul ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang dianggap luar biasa, baik karena keindahan, kebesaran, kemampuan, maupun kebaikan yang melampaui kebiasaan.
Saat merasa kagum, seseorang biasanya merasakan campuran antara rasa hormat, takjub, dan keinginan untuk memahami atau mendekati hal yang dikagumi.
Secara psikologis, emosi kagum sering muncul ketika manusia menghadapi sesuatu yang lebih besar dari dirinya, misalnya keindahan alam, kecerdasan seseorang, prestasi yang luar biasa, atau akhlak yang sangat mulia.
Ekspresinya bisa berupa mata yang terbuka lebar, diam sejenak, ucapan seperti “luar biasa,” atau perasaan ingin belajar dari hal yang dikagumi.
Emosi kagum memiliki fungsi positif karena dapat memperluas cara pandang manusia. Ketika seseorang merasa kagum, ia sering terdorong untuk belajar, meniru kebaikan, atau meningkatkan kualitas dirinya.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi kagum dapat dibagi menjadi dua sumber utama:
▶️ Kagum pada manusia
Muncul ketika seseorang melihat kemampuan, prestasi, atau akhlak yang luar biasa pada orang lain. Misalnya kagum pada guru yang sangat bijak, ilmuwan yang menemukan hal besar, atau seseorang yang menarik hati karena sikap baiknya.
▶️ Kagum pada hal di luar manusia
Muncul ketika seseorang menyaksikan sesuatu yang besar atau indah di luar diri manusia, seperti keindahan alam, keteraturan alam semesta, karya seni, atau peristiwa yang menunjukkan kebesaran kehidupan.
Secara sederhana, kagum bisa muncul karena kehebatan manusia atau karena kebesaran sesuatu di luar manusia.
☕☕☕☕☕☕☕
Contoh kasus santri kabur tadi, adalah emosi kagum pada idola yang awalnya fenomena wajar. Termasuk yang marak saat ini,
bagaimana para aktor k pop dan k drama sedang digandrungi. Kagum bisa menjadi tidak sehat ketika berubah menjadi keterikatan yang berlebihan atau adiktif.
Pada tahap awal, kagum adalah emosi positif yang membuat seseorang menghargai kemampuan atau kebaikan orang lain. Namun jika perasaan ini terlalu kuat dan mendominasi pikiran, seseorang bisa menjadi sangat terfokus pada figur yang dikagumi.
Dalam kondisi seperti itu, seseorang bisa terus-menerus memikirkan idolanya, menghabiskan banyak waktu mengikuti semua aktivitasnya, atau merasa sangat emosional terhadap hal-hal yang berkaitan dengannya. Kekaguman yang awalnya sehat sebagai inspirasi dapat berubah menjadi ketergantungan emosional.
Karena itu, kagum yang sehat memberi inspirasi untuk berkembang, sedangkan kagum yang tidak sehat membuat seseorang kehilangan keseimbangan dan terlalu bergantung secara emosional pada figur yang dikagumi.
☕☕☕☕☕☕☕
Kagum sering menjadi pintu awal hubungan emosional, baik dalam hubungan persahabatan, hubungan pasangan, maupun dalam menghargai tokoh yang dikagumi.
Besok kita akan bahas bagaimana kagum berkembang menjadi cinta, in syaa Allah. Inilah salah satu bentuk kagum yang sehat.
Kagum yang sehat juga terjadi pada rasa kagum pada kebesaran Allah. Ketika manusia menyaksikan keindahan alam, keteraturan kehidupan, atau keajaiban penciptaan, rasa takjub itu mengarahkan hati untuk menyadari betapa agungnya kekuasaan Allah.
Kekaguman seperti ini tidak berhenti pada rasa takjub saja, tetapi berkembang menjadi iman, syukur, dan kerendahan hati di hadapan Sang Pencipta.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


