Pasangan suami istri tipe LDM menyepakati jadwal video call tiap malam sebelum tidur. Kenapa? Rindu.
Seorang putra masinis, berdiri di pinggir stasiun, mengharap ayahnya menekan bel kereta agar tahu dia di sana. Kenapa? Rindu.
Salah satu novel yang amat berkesan yang pernah saya baca judulnya Rindu, karya Tere Liye. Ini bukan sembarang rindu, karena berisi kisah orang-orang yang melakukan perjalanan kerinduan menuju Baitullah.
Inilah emosi yang mengikuti emosi cinta, rindu.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi rindu adalah perasaan ingin dekat kembali dengan seseorang atau sesuatu yang bermakna ketika ada jarak atau keterpisahan.
Rindu muncul karena adanya ikatan emosional, semakin kuat keterikatannya, biasanya semakin dalam rasa rindunya.
Secara psikologis, rindu adalah tanda bahwa seseorang pernah merasa nyaman, aman, atau bahagia bersama orang tersebut, sehingga ketika terpisah, muncul dorongan untuk kembali merasakan kedekatan itu.
Ekspresinya bisa berupa sering teringat, ingin menghubungi, merasa hampa tanpa kehadiran, atau munculnya kehangatan sekaligus sedikit sedih dalam hati.
Sederhananya, rindu adalah cinta yang sedang berjarak, ia menjaga hubungan tetap hidup meski tidak sedang bersama.
☕☕☕☕☕☕☕
Ada, rindu punya fungsi penting dalam hubungan.
▶️Menguatkan ikatan emosional
Rindu membuat seseorang menyadari bahwa hubungan itu bermakna, sehingga keterikatan terasa lebih dalam.
▶️Menjaga kedekatan meski berjauhan
Walau tidak bersama, rindu membantu hubungan tetap “hidup” melalui ingatan, perhatian, dan keinginan untuk terhubung.
▶️Meningkatkan apresiasi
Saat bertemu kembali, seseorang biasanya lebih menghargai kehadiran pasangannya karena pernah merasakan jarak.
▶️Memicu usaha dalam hubungan
Rindu mendorong seseorang untuk menghubungi, menjaga komunikasi, dan berusaha mempertahankan hubungan.
Sederhananya, rindu adalah mekanisme alami yang menjaga cinta tetap hangat meski ada jarak.
☕☕☕☕☕☕☕
Rindu kepada sesama manusia adalah keinginan untuk kembali dekat dengan orang yang kita cintai karena adanya keterikatan emosional dan pengalaman bersama. Rindu ini biasanya dipicu oleh jarak, kenangan, dan kebutuhan akan kehadiran fisik maupun emosional.
Sedangkan rindu spiritual adalah kerinduan hati untuk dekat dengan Allah, kembali pada ketenangan, makna, dan tujuan hidup. Rindu ini tidak selalu karena jarak fisik, tetapi karena hati merasa jauh dari ketenangan batin atau dari hubungan dengan-Nya.
Sederhananya, rindu kepada manusia ingin menghadirkan sosok, sedangkan rindu spiritual ingin menghadirkan kedekatan makna dan ketenangan jiwa.
☕☕☕☕☕☕☕
Ketika kita sedang sedih dengan kehidupan dunia, hati biasanya sedang berada pada kondisi lemah dan ingin mencari tempat kembali yang aman.
Dalam keadaan itu, kita sering terinspirasi untuk kembali pada sumber ketenangan yang paling dalam, yaitu Allah, serta merindukan teladan kebaikan seperti Muhammad.
Secara psikologis, kesedihan membuat kita menyadari bahwa dunia tidak selalu mampu memenuhi harapan, sehingga hati mencari sesuatu yang lebih tetap, lebih menenangkan, dan lebih bermakna. Di situlah muncul rindu kepada Allah sebagai tempat bersandar, dan rindu kepada Rasulullah sebagai sosok yang penuh kasih, teladan, dan membawa ketenangan.
Karena itu, rindu ini sebenarnya adalah respon alami jiwa, ketika dunia terasa sempit, hati mencari yang Maha Luas. Ketika manusia mengecewakan, hati kembali pada yang tidak pernah mengecewakan.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


