Dalam sebuah sesi belajar literasi emosi, saya bertanya pada peserta : kapan terakhir kalian menangis? Pas ada kejadian apa? Jawabnya : Tadi malam, pas nonton k-drama. Sungguh jawaban yang tidak saya harapkan, jujur sih, begadang nonton drakor kemudian bangun kesiangan.
Saya butuh jawaban yang lebih nyata agar wawasan emosi lebih bermakna. Akhirnya saya minta mereka menggambar peta emosi dan sumber perasaan tidak nyaman di lingkungan sekolah, rumah, pertemanan dan medsos.
Kemudian, di bilik konseling individual saya bahas peta emosi itu. Dari semua peserta, ada 2 yang berurai airmata saat membahas orangtua. Kenapa menangis? Karena mereka merasa kehilangan sosok orangtua yang diharapkan, padahal secara fisik ortu mereka ada. Saya kemudian menyampaikan empati lewat kata, bahkan ada satu yang membuat saya ikut menangis bersamanya.
Airmata adalah ciri paling nyata dari emosi sedih. Walaupun tidak semua sedih berairmata, dan tak semua airmata bermakna sedih.
☕☕☕☕☕☕☕
Pernah menangis karena kehilangan sesuatu atau seseorang? Atau pernah menangis karena gagal melakukan sesuatu? Inilah hasil riset tentang dua pemicu emosi sedih.
Sekilas keduanya sama-sama terasa sebagai “sedih”. Air mata mungkin sama-sama jatuh. Dada sama-sama terasa berat. Tapi ternyata, tubuh dan jiwa kita memproses dua jenis sedih itu dengan cara yang berbeda.
Penelitian Shirai & Suzuki (2017) menunjukkan bahwa sedih karena kehilangan seseorang atau sesuatu yang berharga cenderung lebih erat dengan tangisan.
Air mata menjadi saluran utama ekspresi duka. Bahkan setelah momen sedih itu berlalu, tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali tenang.
Seolah ada ruang kosong yang tidak bisa langsung diisi kembali. Sedih jenis ini melekat, menetap, dan pelan-pelan mereda.
☕☕☕☕☕☕☕
Berbeda dengan sedih karena gagal mencapai tujuan. Misalnya gagal ujian, gagal seleksi, atau gagal memenuhi harapan diri sendiri. Intensitas sedihnya sering berkaitan dengan seberapa besar kita menilai kegagalan itu.
Tubuh memang bereaksi saat momen sedih terjadi, tetapi biasanya lebih cepat kembali stabil setelahnya. Ada rasa kecewa, mungkin malu, mungkin menyesal, tetapi pola pemulihannya lebih cepat dibanding duka kehilangan.
Menariknya, dalam kesedihan karena kehilangan, tekanan darah berkaitan dengan tangisan, seolah tubuh ikut melepas beban melalui air mata.
Sementara dalam kesedihan karena kegagalan, tekanan darah lebih terkait dengan seberapa dalam kita merasakan sedih itu sendiri, lebih kognitif, lebih evaluatif.
☕☕☕☕☕☕☕
Sedih bukan satu warna tunggal. Ada sedih yang berakar pada kehilangan dan perlu waktu untuk berduka. Ada sedih yang berakar pada kegagalan dan mengajak kita mengevaluasi diri.
Keduanya valid. Keduanya manusiawi. Dan mungkin yang paling penting, keduanya tidak perlu dibandingkan, karena tubuh dan hati memang memprosesnya secara berbeda.
Sedih adalah emosi manusiawi. Rasulullah SAW pernah sedih dan menangis. Abu Bakar, Umar, Ali, para khulafaurosidin juga pernah sedih dan menangis.
Apa yang ada di sisi kita, suatu saat memang akan hilang, kembali kepada pemilik-Nya. Bersedih sejenak atas peristiwa kehilangan adalah wajar. Bahkan, kesedihan juga bisa jalan terhapusnya dosa kita.
Jika sedih mengaku saja, tak usah sok kuat. Perempuan butuh menangis saat sedih, jangan dibilang cengeng. Lelaki boleh menangis saat sedih, jangan dibilang lemah. Sedih dalam diam pun, itu adalah pilihan.
Tapi sekali lagi, bersedih secukupnya. Jangan terus menerus bersedih apalagi meratap. La tahzan innallaha ma’ana. Valid, ini kalimat pelipur sedih dari Allah. Yakinlah, Allah bersama kita, sesedih apapun rasa di dada.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


