Literasi Emosi Part 8: Iri

Sore itu, ayah berkata dengan bangga, “Kakak hebat ya, tasminya sukses, 5 juz sekali duduk. Barakallah.”

Adik yang duduk di sebelahnya ikut tersenyum. Tapi setelah itu ia jadi lebih diam.

Di dalam hatinya ada perasaan yang sulit diakui: bukan tidak senang kakaknya dipuji, tapi ada rasa kecil yang bertanya, “Kalau aku bagaimana? Apa aku juga hebat, aku kan gak suka hafalan Quran, bukan gak suka sih, tapi sulit menghafal itu?”

Inilah emosi bernama iri. Adik iri dengan kakak. Bukan tentang ingin kakak gagal, tapi rasa ingin dilihat, diakui, dan dihargai dengan cara yang sama.

Kadang yang melukai bukan pujian untuk orang lain, tapi rasa diri sendiri tak terlihat di baliknya.

☕☕☕☕☕☕☕

Di kantor, pengumuman itu ditempel di papan: promosi jabatan untuk Rina.

Semua orang memberi selamat. Andi ikut tersenyum, bahkan mengucap selamat. Tapi setelah kembali ke meja, ia membuka laptop dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada kalimat kecil di kepalanya, Proyek kemarin kan aku juga yang banyak handle.

Sepanjang hari ia jadi lebih sensitif. Kapan ya Andi dapat promosi? Candaan ringan terdengar seperti perbandingan. Padahal tak ada yang benar-benar menyerangnya. Yang bekerja adalah pikirannya sendiri, membandingkan, menghitung, menilai.

Andi merasa iri. Bukan ingin Rina jatuh, tapi ada rasa tidak nyaman karena keberhasilan orang lain memantulkan pertanyaan tentang diri sendiri: “Apakah saya kurang? Apakah saya tertinggal?”

Dan di titik itu, iri bisa berubah arah, menjadi dorongan untuk berkembang atau menjadi jarak diam yang perlahan mengeras.

☕☕☕☕☕☕☕

Iri adalah emosi yang muncul ketika kita melihat orang lain memiliki sesuatu yang kita inginkan. Entah itu perhatian, keberhasilan, posisi, atau kasih sayang dan kita merasa diri kita kekurangan hal itu.

Di dalamnya biasanya ada campuran: rasa tidak adil, perbandingan diri, dan kebutuhan untuk diakui. Jadi iri bukan sekadar “tidak suka orang lain sukses”, tapi sinyal bahwa ada kebutuhan pribadi yang belum terpenuhi.

Iri bisa berkembang menjadi dua arah:
▶️Iri destruktif → ingin orang lain kehilangan apa yang ia miliki.
▶️Iri konstruktif → jadi motivasi untuk berkembang.

Raka selalu dipuji karena prestasi akademiknya. Pialanya dipajang, namanya sering disebut dengan bangga. Dimas, adiknya, tidak pernah benar-benar gagal, tetapi setiap usahanya terasa “kurang” dibanding kakaknya. Kalimat seperti, “Coba seperti kakakmu,” perlahan menanamkan perasaan bahwa dirinya tidak cukup.

Awalnya hanya rasa tidak nyaman. Lalu tumbuh iri, bukan sekadar ingin seperti kakaknya. Iri itu berubah menjadi kemarahan tersembunyi, menjauh dari rumah, menurunkan usaha, bahkan mencari pengakuan di luar dengan cara yang tidak selalu sehat. Dia mulai suka keluar rumah, nongkrong, merokok, dan akhirnya terlibat pergaulan negatif.

Ketidakadilan kecil yang berulang ternyata bisa melukai dua sisi sekaligus: satu anak merasa tidak pernah cukup, yang lain merasa terbebani harus selalu sempurna. Dari sinilah iri yang tak terselesaikan dapat berkembang menjadi luka psikologis yang lebih dalam dan berbahaya bagi relasi keluarga.

Perasan iri Dimas sudah terlanjur bercampur dengan kecewa. Rasa iri Dimas bisa saja berkembang ke arah konstruktif, semisal ada dukungan untuk berprestasi walaupun bukan akademik, tapi sesuai bakatnya.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam kajian Islam, ada sejenis emosi iri yang disebut dengan hasad, yaitu menginginkan nikmat yang dimiliki orang lain hilang darinya. Ini yang tercela.

Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa hasad bisa “memakan” kebaikan seperti api memakan kayu bakar. Karena hasad bukan sekadar ingin seperti orang lain, tetapi tidak rela orang lain diberi nikmat oleh Allah.

Namun ada bentuk yang dibolehkan, disebut ghibthah, yaitu ingin memiliki kebaikan seperti orang lain tanpa berharap nikmat itu hilang dari mereka.

Contohnya, melihat orang rajin sedekah, lalu kita ingin meniru. Melihat orang hafal Al-Qur’an, lalu kita ingin belajar juga. Jadi yang dilarang adalah hasad destruktif, bukan semangat berlomba dalam kebaikan.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.