Saya sangat menghargai beberapa orangtua yang mulai mengajari anaknya untuk memanage uang sakunya. Mereka tidak lagi memberikan uang saku mereka setiap hari, tetapi memberikan setiap pekan, 2 pekan, bahkan satu bulanan untuk memberi kesempatan bagi anak mengatur pengeluaran harian mereka.
Yang menarik adalah bagaimana kita dapat belajar dari kejadian-kejadian saat anak-anak tersebut tidak diberi uang saku setiap hari dan berganti menjadi pekanan atau bulanan.
Ada anak yang diberi uang saku pekanan dan mereka langsung menggunakannya sesuai dengan keinginan orangtua. Yaitu uang saku tersebut tertib digunakan sesuai kebutuhannya, pas tidak kurang dan tidak lebih. Inilah mungkin harapan banyak orangtua dan tidak terlalu berat di dalam mengajari mereka managemen uang saku.
Namun ada beberapa anak yang sudah tahu jatah tiap harinya 5.000 misalnya dan orang tuanya memberikan 35.000 untuk satu pekan. Namun dalam waktu dua hari saja jatah satu pekan tersebut telah habis. Sisa harinya tidak ada dana tersisa untuknya.
Disinilah tantangan muncul bagi orangtua di dalam menyikapinya. Banyak orangtua yang melihat kenyataan ini, menerimanya sebagai tantangan baginya bahwa apa yang ia jelaskan kepada anak tentang mengatur uang jajan belum mampu mereka lakukan.
Kemudian ia dengan telaten menjelaskan kembali tentang managemen uang saku atau memberinya sarana buku tulis untuk ditulis oleh anaknya setiap kali mengeluarkan dana. Dan orangtua secara rutin mengecek kembali tulisan tersebut dan uangnya. Akhirnya anak terbangun kebiasaannya untuk mencatat pengeluaran dan memikirkan setiap kebutuhannya.
Ada satu sikap baik yang pernah saya temui pada orangtua yang membiarkan satu dua hari anaknya tanpa uang saku akibat telah dihabiskan jatahnya pada hari-hari sebelumnya. Alasan yang disampaikan kepada saya adalah biarlah anak belajar untuk merasakan konsekuensi dari perilaku yang telah dilakukan oleh anak.
Walaupun untuk keputusan yang baik ini saya tetap meminta orangtua untuk hati-hati mengukur tingkat kekuatan anak di dalam merasakan konsekuensi tersebut. Jatah uang saku satu pekan sudah habis dalam dua hari, kemudian orangtua tidak memberi sama sekali bantuan untuk hari-hari selanjutnya. Akhirnya ada anak yang nekat mengambil uang milik orang lain, atau sebaliknya tidak mau sekolah karena tidak memiliki uang saku. Tetapi memberi bantuanpun juga kurang bijaksana jika terlalu berlebihan.
Yang tidak baik saya temui adalah beberapa orangtua yang menemui satu dua kali gagal mengajari anak tentang managemen uang saku dan berputus asa untuk kembali memberi anaknya uang saku harian walaupun anak sudah sekolah pada tingkat menengah atau atas.
Yang menarik tentu perilaku orangtua yang memarahi secara berlebihan melihat anaknya sudah menghabiskan jatah uang saku pekanannya dalam dua hari saja, namun ia akhirnya memberikan uang saku baru karena perasaan kasihan. Toh dia sudah saya marahi dan akan belajar dari kemarahan saya ini.
Akhirnya anak menepati managemen uang saku bukan karena menghindari konsekuensi logis jika menghabiskan dalam dua hari, tetapi lebih karena takut dimarahi orangtuanya.
Lalu bagi para mushrif di asrama yang memegang uang saku para santrinya, bagaimana sikap anda ?.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia


