Memakai, Memiliki, dan Mencuri

Di setiap program manajemen pengasuhan santri, saya selalu mendengungkan jargon “setiap barang di kamar harus teridentifikasi pemiliknya dan diletakkan pada tempatnya”. Dengan jargon di atas maka tidak boleh lagi ada barang yang tercecer dan berserakan di kamar kecuali dengan segera kita kembalikan kepada pemilik atau tempatnya.

Subhanallah dari gerakan manajemen barang yang dilaksanakan secara istiqomah dan konsisten maka muncul karakter tanggung jawab santri pada barang mereka, di samping kamar akan selalu rapi dan bersih.

Tentunya akan semakin berkurang keluhan wali santri bahwa barang-barang kecil putranya sering hilang di pesantren.

Ada fakta lain yang kami temukan dan ini tidak kalah berharganya bagi kita para pengasuh santri dan orangtua yaitu program manajemen barang ini dapat menurunkan tingkat kehilangan barang dan pencurian. Tentu ini bonus manfaat dari manajemen barang yang selama ini kami jalankan pada beberapa pesantren tetapi tidak kita prediksikan sebelumnya.

Logika faktualnya adalah saat barang-barang anak berserakan di mana-mana tanpa nama dan identitas. Ada seorang anak yang kebetulan sedang membutuhkan pulpen untuk mengerjakan tugas kelas dan ia tidak memilikinya. Maka dengan cepat Ia akan mengambil dan menggunakan pulpen yang kebetulan ada dan berserakan di atas lantai tanpa identitas. Pada tahap ini sebenarnya anak sudah masuk tahap pertama yaitu : memakai barang orang lain. Walaupun selanjutnya ia mengembalikannya ke tempat semula.

Jika proses ini terus berlangsung dan anak terbiasa untuk menggunakan barang orang lain tanpa izin maka jangan kaget jika anak sampai tahap selanjutnya yaitu : memiliki. “Daripada saya selalu mengambil pulpen setiap saat membutuhkannya maka lebih baik mengambil satu kali saja dan saya menyimpannya di lemari.”

Tahap kedua tersebut meningkat dari tahap pertama yaitu kalau pertama hanya mengambil, memakai, dan akhirnya mengembalikan pada tempat semula, maka tahap kedua adalah mengambil, memakai dan menyimpannya dilemarinya. Inilah tahapan memilikinya secara permanen.

Dan jika tahapan pertama dan kedua berlangsung terus menerus maka anak terbiasa untuk memakai barang orang lain tanpa izin, selanjutnya akan semakin hilanglah perasaan bersalah akan sikapnya tersebut. Maka jangan salahkan jika anak akan memasuki tahap ketiga yaitu mencuri.

Pada saat anak membutuhkan pulpen untuk Ia pakai mengerjakan tugas kelasnya, Ia ingat di lemari temannya ada pulpen yang lebih baik daripada pulpen yang berserakan di lantai, maka Ia membuka kunci lemari kawannya selanjutnya Ia mengambil dari dalamnya.

Jika pada tahap memakai dan memiliki anak membutuhkan pulpen dan kebetulan ada pulpen yang berserak dan tidak bertuan, maka pada tahap mencuri anak memang sudah mempunyai niat untuk mengambil barang orang lain.

Semua tahapan di atas dari memakai, memiliki, dan mencuri sebenarnya dapat berhenti jika setiap barang teridentifikasi pemiliknya dan ditempatkan pada tempatnya. Kemudian anak dibimbing jika ia terpaksa menggunakan barang orang lain. Sehingga setiap barang yang berpindah tempat dan berganti pemakainya harus berdasarkan akad peminjaman atau permintaan.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia