Mendidik Anak Menjadi Pemimpin

Saya yakin setiap orangtua menginginkan anak-anaknya kelak menjadi seorang pemimpin, seorang yang dihormati dan diikuti oleh orang lain karena kebijaksanaan dan keteladanannya.

Namun, tidak semua orangtua yakin bahwa anaknya kelak akan tumbuh dan berkembang menjadi pemimpin seperti keinginan mereka. Masih ada keraguan karena sebagian orangtua meyakini bahwa seorang pemimpin itu tidak dibuat, tetapi dilahirkan, sehingga orangtua hanya bisa berharap dan berdoa semoga sosok yang lahir dari mereka adalah sosok pemimpin tersebut.

Tampaknya kita perlu melihat sebuah hadits Rasulullah SAW., “Setiap dari kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya.”

Hadist di atas secara gamblang menjelaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin yang nantinya akan diminta pertanggungjawaban. Anak-anak yang kita lahirkan juga mempunyai kesempatan untuk memimpin dan mempertanggungjawabkan apa yang dipimpinnya.

Permasalahan yang sesungguhnya adalah seberapa besar tanggung jawab yang dapat dipikul dan dipertanggungjawabkan oleh seseorang akan menentukan seberapa besar ia tumbuh menjadi seorang pemimpin.

Beberapa orang dengan karakter tertentu mempunyai kemampuan untuk memikul tanggung jawab yang sangat besar. Sementara orang lain dengan tiadanya karakter tersebut tidak mempunyai kekuatan untuk memikul tanggung jawab, kecuali hal-hal yang sederhana. 

Pada banyak buku dan artikel menyebutkan beberapa karakter seorang pemimpin, yaitu mempunyai visi yang kuat, mandiri, dapat bekerja sama, matang secara emosi, pembicara yang fasih, dapat memberi tauladan, disiplin, pembelajar, dan lain-lain.

Dengan beberapa karakter tersebut, sebenarnya orangtua dapat mulai membimbing anaknya untuk memunculkan karakter-karakter tersebut. Di bawah ini terdapat beberapa tips yang dapat dilakukan oleh orangtua agar beberapa karakter tersebut dapat dimunculkan.

1. Mendidik Anak untuk Mempunyai Visi.

Visi adalah impian besar yang akan dicapai pada masa yang akan datang. Kebesaran kepemimpinan seseorang seringkali ditentukan oleh seberapa besar impian dirinya yang akan dicapai di masa depannya.

Seorang anak yang sering berimajinasi tentang bayangan-bayangan besar keinginannya biasanya akan tumbuh menjadi anak yang mempunyai keinginan yang besar. Anak seperti inilah yang mempunyai potensi untuk tumbuh menjadi seorang pemimpin. Disinilah peran orangtua untuk memberi rangsangan kepada anak agar berimajinasi tentang kehidupan-kehidupan yang kadangkala mungkin kurang masuk akal bagi orangtua.

Menghormati imajinasi dan mau mendengar khayalan mereka adalah sikap yang baik bagi tumbuhnya sosok yang bervisi. Tidak semua orang tua mempunyai kesabaran untuk mendengarkan bualan (imajinasi) yang tidak ada hubungannya dengan realitas sekitarnya.

2. Mendidik Anak untuk Mandiri.

Seorang pemimpin adalah pribadi yang berani dan mandiri dalam membuat setiap keputusan. Pribadi yang mandiri hanya dapat berkembang pada keluarga yang memberi kesempatan kepada anaknya untuk berlatih memutuskan hal-hal kecil secara mandiri. Saat keluarga kita mendatangi sebuah swalayan untuk berbelanja, kita dapat memberi kesempatan kepada anak untuk memilih sendiri satu macam makanan secara mandiri.

3. Mendidik Anak Agar Mempunyai Emosi yang Matang.

Pemimpin yang matang emosinya memiliki kemampuan mengelola perasaannya dengan sangat baik. Sikapnya cenderung tenang, stabil, berjiwa besar, rendah hati, dan mampu membina hubungan baik dengan orang lain.

Sebaliknya, pemimpin yang kurang matang selalu mengedepankan emosinya manakala menghadapi masalah. Pribadi yang matang emosinya akan tumbuh dari orangtua yang juga mempunyai kematangan emosi. Mereka tidak selalu bersikap reaktif terhadap perilaku anaknya yang kadangkala menjengkelkan mereka. Namun, justru perilaku-perilaku tersebut dijadikan sebagai sarana untuk membangun karakter positif bagi anaknya.

Contoh orangtua yang menjumpai putranya menutup pintu secara keras. Orangtua dapat memanggil putranya dengan lemah lembut dan memberi contoh cara menutup pintu secara pelan dan meminta putranya untuk merasakan perbedaan menutup pintu secara keras dan lembut.

4. Mendidik Anak untuk Bekerja Sama.

Kemampuan bekerja sama adalah syarat mutlak bagi seorang pemimpin besar. Ia mempunyai penghormatan yang tinggi terhadap setiap ide dan kontribusi bawahannya sehingga ide dan kontribusinya juga mudah diterima oleh para bawahannya.

Keluarga yang mampu membangun iklim saling menghormati diantara para anggotanya cenderung akan mudah membangun karakter kerja sama bagi para anggotanya. Pada keluarga ini tercipta iklim untuk berkontribusi dan menghormati antara satu dengan lainnya.

5. Mendidik Anak Menjadi Teladan.

Seorang pemimpin harus layak untuk diteladani, baik perilaku dan ucapannya. Sosok yang layak diteladani hanya tumbuh dan berkembang dari orangtua yang layak untuk diteladani pula. Sangat sulit bagi seorang anak menjadi sosok teladan bagi orang-orang di sekelilingnya jika ia sendiri belum menemukan pribadi yang bisa diteladaninya. Di sinilah peran orangtua untuk selalu menjadikan diri mereka dan segala perilakunya sangat layak untuk diteladani

Masih banyak karakter pemimpin yang sebenarnya dapat kita bangun pada diri anak. Tinggal bagaimana kita memilih prioritas dari karakter-karakter tersebut, kemudian mencoba mengembangkan kebiasaan yang dapat dijalankan dimulai dari keluarga untuk mendorong munculnya karakter-karakter tersebut pada diri anak kita.

Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC.

Direktur Griya Parenting Indonesia