Marilah kita mengingat kembali kapan terakhir kita marah. Mungkin di antara kita marah terakhirnya kemarin lusa, satu minggu yang lalu, sebulan yang lalu bahkan 6 bulan yang lalu.
Pembahasan kapan terakhir kita marah dan bagaimana intensitas marah kita bukanlah bahasan yang paling urgen, karena ada hal yang lebih urgen untuk kita bahas adalah bagaimana kita mengungkapkan kemarahan kita.
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda: “Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat, tetapi yang disebut orang kuat adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya pada saat marah”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Dalam sebuah perjalanan training ke Papua saya mendapatkan cerita yang menginspirasi tentang kontrol amarah ini, Ada satu teknik unik di dalam mendapatkan kepiting, yaitu sebongkah batu sebesar kepalan tangan diikat dengan seutas kawat. Batu yang kini telah tergantung di kawat tersebut dibawa ke rawa-rawa yang terdapat banyak lubang kepiting.
Sejenak kemudian batu tersebut dimasukkan kedalam lubang, kemudian diangkat dan dimasukkan kembali ke lubang tersebut. Hingga kepiting tersebut marah karena selalu diganggung.
Kepiting yang marah tersebut mencapit dengan erat batu yang mengganggunya tanpa mampu dilepaskan, dan dengan pelan orang yang mencari kepiting menarik keluar kepiting dari sarangnya sehingga sejenak kemudian kepiting tersebut sudah berpindah ke dalam ember. Kepiting tersebut begitu mudah dikalahkan saat ia marah dan tidak mampu mengontrol emosinya.
Begitu pula manusia sangat mudah dikalahkan oleh musuhnya (syetan) saat ia marah dan tidak mampu mengontrol marahnya.
Mungkin di antara kita saat marah dan saat tenang tidak banyak perbedaan. Semua mencerminkan ketenangan dan kelembutan sikap. Semua perilakunya sangat terkontrol. Sementara sebagian yang lain muncul perbedaan yang sangat signifikan antara dalam kondisi marah dan dalam kondisi normal. Terlihat perilaku marahnya sangat tidak terkontrol, walaupun pada akhirnya Ia menyesali apa yang telah Ia lakukan saat marah.
Beberapa fenomena di bawah ini dapat membantu kita bagaimana mendidik anak mempunyai kesantunan bahkan saat Ia marah, yaitu;
1. Cara Anak Marah, Cerminan saat Orangtua Marah

Ada seorang ibu yang konsultasi tentang dirinya. Setiap kali Ia melihat putranya bermain tanah dan air yang membuat baju anaknya kotor Ia mudah marah dengan memukul anak tersebut. Sejenak kemudian redalah amarahnya, Ia menyesali perilakunya dan menangis kemudian meminta maaf kepada putranya. Namun kejadian tersebut berulangkali terjadi tanpa Ia mampu menolaknya dan mengontrol dirinya.
Diskusi panjang dengan ibu tersebut akhirnya dapat satu fakta menarik bahwa Ia juga dulu dididik oleh orangtua yang selalu marah-marah saat melihat dirinya bermain kotoran dengan tanah dan air. Cara orangtua mengungkapkan kemarahannya juga ditiru oleh anak. Jika ada seorang anak yang begitu lembut saat mengungkapkan kemarahannya mungkin Ia mempunyai orangtua yang begitu lembut ketika mereka marah.
Sebaliknya jika ada seorang anak laki-laki yang membanting barang-barang saat Ia marah, mungkin Ia juga sering melihat bapaknya membanting barang saat Ia marah. Anak sering menjadikan diri kita modelnya bahkan sampai cara kita marah.
2. Anak Kurang Mampu Mengontrol Dirinya

Beberapa anak kurang mampu mengontrol dirinya saat marah karena orangtua selalu menuruti keinginannya daripada menolaknya. Anak-anak perlu merasakan pengalaman diterima permintaannya sebagaimana Ia juga perlu merasakan pengalaman ditolak permintaannya.
Seorang anak yang ditolak permintaannya akan belajar bagaimana Ia mengontrol dirinya pada saat merasa tidak nyaman karena penolakan tersebut. Sebaliknya anak yang selalu diterima permintaannya akan selalu menuntut untuk mengikuti permintaannya dan Ia tidak siap jika suatu saat ditolak.
Padahal kehidupan ini selalu memberikan dua alternatif yaitu sukses dalam bentuk diterima dan gagal dalam bentuk ditolak. Dan anak-anak yang terbiasa mengalami dua hal di atas akan lebih siap untuk menghadapi hidup dengan kontrol diri yang lebih baik.
3. Orangtua tidak Siap Melihat Anaknya Menangis

Beberapa orangtua tidak siap melihat anaknya menangis dengan segera memberi apa yang mereka minta sehingga tidak jadi menangis atau membentak keras untuk berhenti menangis. Padahal menangis bagi manusia adalah jenis pengungkapan emosi yang paling sehat.
Seseorang yang mendapat kesedihan yang luar biasa dan merasakan beban yang berat, tiba seluruh kesedihan dan beban tersebut berkurang bahkan hilang sesaat ia menyelesaiakan tangisannya. Sehingga anak yang tidak diberi kesempatan untuk menangis saat emosi maka sebenarnya ia kehilangan kesempatan untuk mengontrol emosinya dengan baik dan sehat.
4. Ungkapan Emosi Anak yang Menyakiti Dirinya

Beberapa anak mengungkapkan emosinya dengan menyakiti dirinya baik dengan membenturkan kepalanya ke dinding atau menggigit jari-jari tangan. Kondisi ini sering dipicu oleh sikap otoriter dan keras orangtua di dalam menghadapi rasa marah dan emosi anaknya.
Karena anak tidak mempunyai saluran yang baik di dalam mengungkapkan emosinya maka ia cenderung untuk melakukan agresi terhadap dirinya sendirinya. Di sinilah diperlukan sikap yang bijak dan lembut dari orangtua di dalam menghadapi kemarahan dan emosi anaknya.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


