Menerima Keputusan

Beberapa hari lalu dua anak laki-laki kami bertikai hebat memperebutkan remote televisi. Keduanya sedang memiliki acara favorit masing-masing pada waktu yang sama dan station televisi yang berbeda. Saya berusaha untuk bersikap tenang, menengahi pertikaian tersebut dan merayu masing-masing anak untuk mengalah. Tetapi segala upaya tersebut akhirnya mengalami kegagalan dan keduanya tetap bertahan pada pilihan masing-masing. Akhirnya keputusan yang kami sepakati adalah dengan cara swit.

Sebagai wasit saya menentukan yang menang swit tiga kali maka dialah yang berhak untuk memegang remote dan memilih jenis acara televisi. Setelah dilakukan beberapa kali swit maka akhirnya yang menang tiga kali adalah kakaknya. Dan remote pun akhirnya sudah berpindah kepada tangan kakaknya.

Apa yang terjadi selanjutnya di luar harapan kami, adiknya tidak menerima keputusan ini dan dengan histeris menangis berguling-guling di atas lantai tanpa mengindahkan keputusan yang telah disepakati bersama.

Saya yakin sebagai orangtua kita sering menghadapi fenomena di atas, di mana kita dipaksa untuk membuat keputusan yang kadang tidak membuat semua anak dalam posisi menang.  Dan seringkali kita mengubah keputusan tersebut setelah melihat respons yang tidak kita inginkan dari anak. Seperti menangis histeris, membanting segala sesuatu atau merusak barang miliknya sendiri.

Kadangkala kita tidak mengubah keputusan kita, tetapi dengan menawarkan sesuatu yang dapat mengalihkan emosinya kepada barang lain yang menarik baginya. Seperti menawarkan tab atau HP kepada anak yang tidak dapat remote televisi dan akhirnya ia tidak jadi melanjutkan nangisnya. Akhirnya anak kita tidak pernah benar-benar belajar merasakan untuk menerima keputusan yang kadangkala tidak sesuai dengan keinginannya.

Sebaliknya anak yang tidak diberi kesempatan untuk menerima keputusan yang tidak selalu disenangi yaitu dengan berusaha membuat keputusan yang sesuai dengan keinginannya atau menggantinya dengan barang yang disenanginya tidak mempunyai pengalaman yang berharga bagaimana bersikap terhadap keputusan yang bertolak belakang dengan keinginannya. Akhirnya pada suatu saat ketika ia harus menerima kekalahannya maka ia belum mempunyai kesiapan mental.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.