Mengambil Risiko atau Nekat

Pengambil risiko adalah orang yang menghitung nilai manfaat yang dia dapat dengan besarnya risiko yang akan dia peroleh.  Sementara orang yang nekat adalah mereka yang rela mengambil risiko yang sangat besar hanya untuk mendapat sedikit manfaat yang sifatnya sesaat. Masuk kategori apakah anak kita? (Risk taker atau nekat)

Pada bulan November tahun lalu saya mendapat undangan untuk menyampaikan materi Parenting di SMA Islam Hidayatullah Semarang dengan tema “Kasihan Remaja Kita”. Sebuah undangan yang sebenarnya agak mendadak dengan pertimbangan kesibukan pada hari sebelum dan sesudahnya yang sangat tinggi. Tetapi dengan pertimbangan hubungan emosional antara kami dan lembaga ini akhirnya kami menerimanya.

Subhanallah banyak kemudahan di dalam perjalanan menuju dan dari Semarang, hingga mendapat tiket murah penerbangan Semarang-Surabaya. Hasilnya jam lima sore hari Sabtu kami telah mendarat di bandara Juanda.

Pada perjalanan pulang dari bandara menuju rumah, kami sedikit tersendat pada perlintasan lampu merah. Tetapi dalam sedikit kemacetan tersebut justru kami mendapat sebuah inspirasi untuk tulisan ini. Yaitu sebuah pemandangan yang agak aneh sebuah sepeda motor dinaiki oleh empat orang pemuda dengan badan yang cukup besar dan tanpa menggunakan helm.

Belum selesai keheranan kami dari keempat pemuda tersebut, kami dikejutkan oleh seorang sopir truk tanki Pertamina dengan santainya merokok tanpa ada perasaan khawatir akan terjadinya kebakaran dan ledakan. Saya berkhusnudzon mungkin tankinya sedang kosong. Namun apapun kondisinya merokok seperti itu tetap berisko besar.

Melihat dua pemandangan di atas, saya hanya bertanya di dalam hati mengapa orang-orang ini begitu berani mengambil risiko yang begitu besar hanya untuk merasakan sedikit kenikmatan ?. Segera saya evaluasi bahwa mereka sebenarnya bukanlah orang-orang yang berani mengambil risiko tetapi orang-orang yang nekat.

Perbedaannya adalah pengambil resiko orang yang mempertimbangkan keseimbangan antara nilai manfaat yang dia dapat dengan besarnya risiko yang akan dia peroleh jika terjadi kegagalan proses. Sementara orang yang nekat adalah mereka yang rela mengambil risiko yang sangat besar hanya untuk mendapat sedikit manfaat yang sifatnya sesaat.

Setelah melihat pemandangan di atas, sebagai orangtua pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita mendidik anak-anak untuk menjadi pribadi yang mengambil risiko dan menghindari mereka tumbuh menjadi orang yang nekat.

Seringkali kita orangtua membantu anak untuk dapat menghindari risiko dari perilaku mereka. Seperti orangtua yang selalu mengomeli anaknya untuk segera mandi dan menyelesaikan makannya. Bahkan diantara orangtua tersebut rela menyuapi anaknya untuk supaya cepat makannya agar anak tidak mengalami keterlambatan ke sekolah dan mereka memang tidak pernah merasakan risiko terlambat.

Bantuan-bantuan seperti di atas tentunya akan menumpulkan kemampuan anak didalam memperkirakan risiko-risiko jika Ia tidak segera mandi dan menyelesaikan makannya.

Beberapa orangtua bahkan membayar seluruh kerugian dari kerusakan sepeda motor teman anaknya setelah ditabrakkan oleh anaknya tanpa membebankan sedikitpun tanggung jawab kerusakan motor tersebut kepada anak. Yang sering dilakukan oleh orangtua hanya mengomel dan memarahi anak. Setelah itu anakpun melenggang pergi tanpa ada perasaan tanggung jawab sama sekali yang membebani mereka.

Merokok bagi sopir truk dan berboncengan 4 orang di atas sepeda motor tentu ada manfaat dan risiko yang mereka dapatkan. Tetapi manfaat yang begitu kecil dengan risiko yang sangat besar kurang mampu mereka pertimbangkan. Inilah yang membuat mereka bukan risk taker yang baik tetapi nekat.

Membiarkan anak untuk melakukan kesalahan dan mengambil risiko dari kesalahan yang Ia lakukan kadangkala menjadi sikap yang sangat bijak bagi orangtua untuk mengajari anak di dalam mempertimbangkan risiko dan manfaat serta menghindari anak untuk bersikap nekat tanpa mempertimbangkan untung ruginya.

Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”