Petang itu seusai shalat Maghrib berjamaah di masjid, saya segera meninggalkan masjid untuk pulang. Karena anak-anak telah menunggu untuk belajar membaca Al Qur’an. Melewati jalan samping rumah yang agak gelap, saya menjumpai sekelompok anak-anak, usia mereka antara 9-12 tahun bergantian menghisap sebatang rokok.
Sangat tampak mereka begitu rukun dan kompak menunggu giliran tiap anak untuk menghisap rokok tersebut. Terpancar pada wajah mereka rasa percaya diri, bangga dan puas atas apa yang mereka lakukan bersama. Walaupun tidak dapat dipungkiri mata mereka sesekali melihat kesana kemari tanda khawatir jika aksi tersebut terlihat orang lain.
Saat mereka menyadari bahwa dari tadi saya memperhatikan apa yang sedang mereka lakukan, dengan serempak mereka berlarian dan melemparkan sisa rokok yang belum sempat dihisap hingga habis. Melihat peristiwa tersebut saya bertanya dalam hati, inikah proses awal seorang anak belajar untuk merokok? Mereka bersembunyi, berkelompok dengan temannya, mencuri waktu dan kesempatan untuk mencobanya dan untuk selanjutnya mereka tumbuh menjadi perokok sejati.
Mengapa anak-anak itu saat melakukan aksinya terlihat puas, percaya diri dan bangga? Apakah mereka tidak merasakan betapa tidak enaknya merokok pada awal mulanya? Image yang berkembang di masyarakat bahwa merokok adalah simbol kedewasan, munculnya komunitas perokok pemula, dan rasa ingin tahu yang besar telah membuat mereka merasa bangga atas perilaku mereka.
Saya termasuk orang yang gagal dalam belajar merokok. Walaupun komunitas mendukung dan tidak ada larangan dari orangtua untuk merokok. Karena setiap kali menghisapnya maka langsung batuk-batuk dan proses belajar tersebut hanya bertahan selama 2 hari. Memang banyak anak yang mengalami kegagalan dalam proses belajar, tetapi masih sangat banyak anak yang justru meraih kesuksesan dan akhirnya menjadi perokok aktif.

Beberapa hal yang dapat mendorong seorang anak untuk merokok, di antaranya adalah:
1. Iklan Rokok
Selera pemberani, nggak ada loe nggak rame, X-presikan Aksimu, dan lain-lain adalah beberapa tagline dari beberapa merk rokok. Memang tidak ada gambar yang menunjukkan seseorang merokok, atau tayangan televisi seorang pemuda yang sedang merokok apalagi ajakan untuk memilih sebuah merk rokok. Tetapi beberapa tagline dari pabrik rokok di atas langsung mampu menembus alam bawah sadar anak-anak bahwa untuk menjadi pemberani, untuk membuat suasana pertemuan menjadi ramai, dan cara mengekspresikan aksi yaitu dengan merokok.
Memang sudah banyak regulasi yang dibuat oleh pemerintah untuk iklan rokok, tetapi tampaknya regulasi tersebut justru menjadi tantangan bagi banyak pabrik untuk mengemas iklannya yang dapat melibatkan emosi, image dan pikiran bawah sadar masyarakat. Produsen rokok tampaknya juga tidak kehabisan akal untuk mencari lahan iklan baru seperti pagelaran musik, film, beasiswa pendidikan dan olahraga.
2. Rasa Ingin Tahu.
Seorang anak dapat mulai belajar merokok karena dorongan rasa ingin tahu yang besar. Image yang terbentuk di masyarakat bahwa merokok adalah simbol kedewasaan, keberanian, percaya diri, dan macho telah mendorong anak-anak pra remaja untuk mencoba merokok.
Ada fenomena menarik yang biasanya terjadi saat anak-anak mulai belajar merokok, pada satu sisi mereka masih takut jika ketahuan orang tua, tetapi pada sisi yang lain mereka ingin juga diketahui oleh orang-orang sekelilingnya bahwa ia telah merokok. Kondisi inilah yang membuat mereka mencari tempat bersama-sama teman merokok yang tidak dapat dilihat oleh orang tuanya tetapi beberapa orang lain dapat mengetahuinya.
3. Ikut Teman
Butuh keberanian yang sangat besar bagi seorang anak untuk memulai belajar merokok sendirian. Tetapi keberanian yang sangat besar tersebut dapat mereka peroleh jika mereka menemukan teman-teman yang dapat mereka ajak untuk belajar merokok. Faktor teman sangat berpengaruh bagi seorang anak untuk memulai aktifitas merokok mereka.
Ada hal menarik yang perlu diketahui oleh orangtua dan guru bahwa usia 9-12 tahun sedang berkembang moralitas teman sebaya. Yaitu anak-anak di usia tersebut menjadi teman sebayanya sebagai ukuran moralitas. Jika mereka mendapati teman sebayanya merokok, maka mereka menganggap bahwa perilaku tersebut adalah benar.
Sebaliknya jika teman sebayanya menghindari hal tersebut, maka mereka juga akan meninggalkannya. Loyalitas mereka kadang lebih tinggi kepada teman sebaya daripada kepada orang tua atau gurunya. Dengan kondisi perkembangan moralitas seperti ini maka faktor pendorong ‘ikut teman’ di dalam belajar merokok menjadi factor penentu.
4. Meniru Orangtua
beberapa penelitian menyebutkan bahwa anak yang mempunyai orangtua yang merokok tiga setengah kali lebih besar kemungkinannya untuk merokok dibanding yang orangtuanya tidak merokok. Hal ini karena contoh nyata lebih kuat pengaruhnya daripada nasehat dan anjuran. Apalagi contoh tersebut telah dirasakan anak-anak selama beberapa tahun, sehingga bau dan aroma rokok sudah menjadi nuansa kehidupannya.
Memang pada usia anak belajar merokok proses modeling lebih kecil dibandingkan masa-masa sebelumnya, tetapi pada masa-masa itu anak telah merekam seluruh kegiatan merokok orang tuanya, dan pada akhirnya rekaman tersebut akan mereka buka saat usia belajar merokok tiba.
Beberapa dorongan di atas memang tidak berjalan secara parsial, tanpa adanya keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Tetapi semua berjalan dan berproses secara integral dan simultan, di mana satu pendorong akan diperkuat dengan pendorong yang lain.
Seperti seorang anak yang mempunyai rasa ingin tahu yang besar, tetapi tidak mempunyai keberanian. Maka ia akan mendapatkan energi keberanian tersebut dengan bekerja sama dengan teman sebayanya. Atau faktor pendorong orang tua yang merokok akan sangat dibantu dengan faktor pendorong iklan rokok di televisi atau media massa.
Memergoki Anak Merokok

Ada beberapa orang tua yang memergoki anaknya merokok, mereka mengetahui anaknya mulai merokok dari aroma kamarnya yang berbau tembakau, atau baju anaknya yang berlobang karena rokok, atau gigi mereka yang tidak putih lagi. Sikap reaktif dengan memarahi, memaki bahkan mengancam mereka bukanlah merupakan cara yang baik untuk menghentikan mereka.
Apalagi dengan sikap tersebut orangtua berharap anaknya akan kapok dan tidak mau mengulangi perbuatannya lagi. Belajar merokok bukanlah proses singkat satu atau dua hari. Cara yang instant dan serba ingin cepat justru akan merusak hubungan orangtua dengan anak, di mana akhirnya perilaku tersebut akan lebih sulit dihentikan. Bahkan pada beberapa kasus anak yang disikapi terlalu reaktif oleh orangtuanya justru merasa tertantang untuk mengulangi perbuatannya tanpa sepengetahuan orangtua.
Tanda ketidaksukaan dan kekecewaan orangtua terhadap sikap anak yang merokok memang harus tetap disampaikan, tetapi tanda tersebut tidak harus dalam suasana emosi yang tidak terkontrol. Pernyataan berikut ini dapat dijadikan contoh dari pernyataan yang terkontrol, “Mama sangat kecewa karena kamu merokok, tetapi kita akan membahas hal ini nanti.” Dengan menyampaikan kata ‘nanti’ maka kita telah mengambil waktu sejenak untuk berpikir dan memilih kata-kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan anak.
Ada beberapa cara sangat bijaksana yang dapat dilakukan oleh orangtua jika mereka menjumpai anak mereka merokok, diantaranya:
1. Mengajak Anak untuk Berbicara dari Hati ke Hati.
Misi pertamanya, mencari alasan mengapa ia merokok. Mungkin akan sulit mendapatkan jawaban yang jujur dari anak. Tetapi kita tetap menghindar dari menginterogasinya apalagi memaksa mereka untuk mengakuinya.
Kita bukanlah berposisi sebagai polisi dan anak tersangkanya. Kata kuncinya adalah kita berusaha mencari sumber apinya, jika sudah diketahui sumber api tersebut, kita dapat mulai memikirkan apa yang dapat kita lakukan untuk dapat memadamkan sumber api tersebut nanti.
2. Mengingatkan Anak akan Dampak Merokok bagi Kesehatannya.
Kita dapat mengidentifikasi bersama-sama tentang bahaya-bahaya rokok tersebut, karena seringkali anak melakukan sebuah perilaku berangkat dari informasi yang minim tentang bahaya merokok.
3. Membuat Aturan yang Jelas
Salah satu aturannya adalah tidak ada rokok di rumah. Untuk orangtua yang merokok jelas cara yang ketiga ini akan sangat rumit untuk diterapkan.
4. Tidak Mengintimadasi Anak untuk Berhenti Merokok.
Dengan tujuan agar ia berhenti dari merokok bukan karena takut pada orangtuanya dan menghindari hukuman, tetapi ia melakukan hal tersebut karena kesadarannya sendiri. Kita perlu menyadari bahwa orangtuapun tidak mudah untuk berhenti dari merokok.
5. Memberi Reward
Jika anak telah berkata, “Aku dapat berhenti dari merokok sekarang,” kita dapat mendorongnya untuk kemauan tersebut. Kemudian kita perlu memberi reward saat ia berhasil.
6. Belajar Berhenti Merokok
Berhenti merokok untuk satu sampai dua hari mungkin mudah. Berhenti selamanya cukup sulit. Minggu pertama adalah periode yang sangat berat. Bila ia merasa berat, kita dapat mengingatkannya alasan mengapa ia berhenti untuk merokok. Mungkin perlu beberapa kali mencoba, bahkan beberapa bulan, saat ia benar-benar berhenti merokok kita rayakan sebagai bentuk kesyukuran atas keberhasilannya.
Permen Rokok

Kita para orangtua dan guru mungkin semasa kecil menjumpai sebuah permen yang menyerupai satu batang rokok. Dengan permen tersebut kita berpura-pura sedang merokok sambil menunjukkan perilaku kita kepada teman-teman. Sesekali kita bertingkah seperti orang sedang mengepulkan asap rokok dan sesekali kita menghentakkan batang tersebut ke sebuah tempat seperti orang yang sedang menghilangkan abu dari batang rokok.
Sebuah studi baru mengingatkan bahwa merokok permen dimasa kanak-kanak dapat menyebabkan munculnya kebiasaan merokok saat mereka dewasa. Para periset menemukan, banyak perokok dewasa yang mengakui mereka sering menggunakan permen rokok dimasa kanak-kanak.
Untuk memperkuat risetnya mereka telah mensurvei lebih dari 26.000 orang dewasa di supermarket dan di toko makanan yang buka 24 jam. Hasilnya ditemukan bahwa 12% dari responden yang mengatakan tak pernah makan permen rokok di masa kanak-kanak adalah perokok. Sebaliknya 22% dari orang-orang yang makan permen rokok di masa kanak-kanak adalah perokok. Hanya 14% yang mengatakan pernah makan permen rokok adalah bukan perokok.
Mungkin selama ini kita kurang memperhatikan bahwa fenomena permen rokok tersebut akan mendorong seorang anak pada masa dewasanya menjadi perokok. Teori neuroscience telah menjelaskan saat seseorang telah mampu mengimajinasikan sebuah perbuatan kemudian secara fisiologi mampu menirukan gerakannya, maka orang tersebut akan lebih mudah untuk mendapatkan perbuatan sesuai yang diimajinasikan dan ditirukannya.
Tindakan Preventif

Beberapa orangtua mungkin belum mempunyai anak yang mulai belajar merokok, sebagai orang tua dapat melakukan beberapa langkah pencegahan sehingga benar-benar anak terhindar dari kebiasaan merokok yang kurang baik, diantara tindakan pencegahan tersebut adalah:
- Berbicara sesering mungkin tentang ketidaksenangan kita terhadap rokok dengan bahaya-bahaya yang ditimbulkannya: merusak kesehatan paru-paru dan jantung, membuat napas jadi bau, gigi jadi berwarna suram, dan mengurangi uang jajan.
- Meminta anggota keluarga yang merokok untuk tidak merokok di depan anak kita dan tidak membiarkan rokok tergeletak di atas meja makan.
- Menjauhkan anak dengan bijak dari temannya yang perokok.
- Membantu anak menemukan alasan untuk menolak ajakan temannya. Seperti perkataan, “Rokok membuat gigiku jelek”, atau “Aku masih ingin main basket.”
- Mendorong anak untuk bersosialisasi pada lingkungan yang tidak merokok. Seperti remaja masjid, klub olah raga, dan lain-lain.
- Berhenti merokok bagi orang tua jika saat ini mempunyai kebiasaan merokok. Ingat rokok lebih berbahaya bagi para perokok pasif, termasuk anak isteri kita.
Sekarang saatnya kita bertindak, apakah kita berhenti merokok ataukah rokok akan memberhentikan diri kita.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

