Mengembalikan Barang pada Tempatnya, Apa Pentingnya ?

Ini mungkin menjadi rezeki saya mendapatkan kesempatan mengunjungi kelas yang sangat luar biasa. Saya kagum terhadap kelas tersebut bukan karena fasilitasnya yang serba mewah atau lantainya yang mengkilat. Kelas tersebut tidak ber-AC, apalagi berlantai keramik yang terbaik. Namun, saya kagum karena manajemen barangnya yang sangat baik.

Di kelas tersebut setiap peralatan milik kelas tertata rapi di tempat masing-masing. Lebih indah lagi adalah habit yang terbangun dalam diri siswanya yang mengembalikan barang tersebut ke tempatnya secara rapi dan tertib. Manajemen barang kelas tersebut juga menyangkut sistem kontrol barang. Dengan hanya sekilas pandang, sang guru sudah dapat mengidentifikasi barang apa yang telah kembali ke tempatnya secara baik dan barang apa yang belum kembali ke tempatnya.

Lebih jauh tentang manajemen barang di kelas itu adalah setiap barang milik siswa, seperti pensil, penggaris, atau tempat pensil, telah diberi label nama siswa secara baik sehingga dengan mudah sebuah pensil dapat dikembalikan lagi kepada pemiliknya jika terjatuh di bawah meja atau kursi.  

Apa pentingnya ini semua bagi proses pendidikan anak yang sangat kompleks dan multidimensi ?. Peralatan kelas yang tertata rapi dan habit siswa untuk mengembalikan setiap peralatan tersebut ke tempat semula dengan baik dan rapi. Ada beberapa hal yang patut kita renungkan terkait fenomena ini.

1. Mari Kita Mencoba untuk Membayangkan.

Jika seorang siswa selama 6 tahun masa pendidikan dasar, bahkan 12 tahun hingga pendidikan menengah terbiasa mengembalikan setiap barang ke tempatnya semula, maka ia akan tumbuh menjadi sosok yang selalu rapi dan mengembalikan barang pada tempatnya.

Jika ia tumbuh menjadi seorang karyawan, maka ia adalah karyawan yang rapi pada setiap wilayah pekerjaannya. File-file dan jadwal kerjanya tersusun rapi. Seandainya ia menjadi seorang direktur sebuah perusahaan, maka dapat dipastikan perusahaan tersebut akan berhasil dengan kerapiannya.

2. Selalu Mengembalikan Barang pada Tempatnya adalah Ciri Pribadi yang Bertanggung Jawab.

Dengan begitu seorang guru sebenarnya telah membangun karakter tanggung jawab pada diri siswanya. Kebiasaan ini memang bagian kecil dari sebuah bangunan tanggung jawab yang besar. Namun, yakinlah bahwa bangunan tanggung jawab yang besar dapat dimulai dari memastikan tanggung jawab terhadap hal-hal kecil yang dapat dilakukan oleh siswa secara baik, penuh kesadaran, dan konsisten. Tidak ada salahnya guru yang memulai untuk membangun tanggung jawab terhadap hal-hal kecil tersebut.

3. Peralatan Kelas Sering Tidak Tersedia di Tempatnya

Seringkali proses pembelajaran guru terganggu karena peralatan kelas tidak selalu tersedia di tempatnya. Misalnya seorang guru yang sedang fokus mengajar menggambar beberapa objek di papan tulis tiba-tiba membutuhkan penghapus papan tulis. Namun, sayang sekali penghapus tersebut tidak ada di tempatnya.

Proses pembelajaran akhirnya sedikit terganggu karena penghapus tidak ada di tempatnya. Semua anggota kelas sibuk mencarikan penghapus untuk guru tersebut. Kejadian di atas dapat dihindari jika kelas tersebut mempunyai manajemen barang yang baik.

Apa pentingnya setiap barang milik siswa terlabeli dengan baik? Mungkin beberapa penjelasan berikut ini mempermudah kita betapa pentingnya sebuah label nama pada benda-benda milik siswa.

1. Memberi Label Nama pada Barang Anak akan Mengajarkan Konsep Kepemilikan.

Barang ini milik si Andi karena tertulis label Andi, sedangkan barang itu milik Tini karena juga tertulis label Tini. Bagi anak usia dini, semua barang adalah miliknya hingga ada seseorang yang menyatakan bahwa barang ini memang miliknya dan barang itu milik temannya.

Konsep ini terasa lebih penting bagi beberapa anak yang memang di rumahnya belum diajari tentang konsep kepemilikan bahwa barang ini miliknya sehingga ia dapat menggunakannya dengan baik, dan barang itu milik saudaranya sehingga ia harus izin setiap kali ingin menggunakannya. Memberi label terhadap barang dapat mempermudah anak untuk memahami tentang konsep kepemilikan ini.

2. Membangun Sikap Tanggung Jawab pada Diri Anak

Ketika konsep kepemilikan telah terbangun dengan baik, guru dapat memulai membangun rasa tanggung jawab terhadap barang miliknya. Memiliki sebuah barang adalah dapat menggunakannya, merawatnnya, dan menjaganya dengan baik. Jika terjadi kehilangan atau penemuan barang, maka guru atau orang lain dapat dengan mudah mengembalikan kepada pemiliknya.

Sering terjadi ada anak yang tidak mau mengakui bahwa barang itu miliknya. Padahal seluruh teman sekelasnya mengetahui bahwa barang itu memang miliknya. Adanya label nama pada setiap barang akan menghindari menumpuknya barang hilang pada etalase kehilangan.

3. Perlu Bimbingan Inten dari Guru dan Orangtua

Ada beberapa anak yang kurang terbangun konsep kepemilikannya sehingga mudah menggunakan barang milik temannya. Kebiasaan ini jika tidak dibimbing oleh guru atau orangtua dengan baik, maka dapat memunculkan kebiasaan bersikap kurang jujur. Adanya label nama pada barang masing-masing siswa adalah tindak preventif bagi anak untuk tidak menggunakan barang milik temannya sehingga setiap kali ia menggunakannya, guru atau orangtua dapat mengidentifikasinya secara baik.

Pada setiap jenjang pendidikan, kita selalu menyampaikan materi ajar tentang kejujuran, tanggung jawab, kerapian, dan kerajinan. Kelas kita adalah wilayah tanggung jawab kita untuk membentuknya. Mengapa kita tidak menjadikan kelas-kelas tersebut sebagai dunia kejujuran, tanggung jawab, dan kerapian tempat bagi setiap siswa dapat menikmati  kejujuran, tanggung jawab, kerapian, dan selanjutnya mereka dapat mengimplementasikannya ?.

KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.