Menuntut Ilmu sampai Negeri Ratu

Ini adalah perjalanan pertama ke Eropa tepatnya ke negeri Ratu Elizabeth. Seperti semua perjalanan dan kegiatan pertama yang biasa kita lakukan tentunya terasa bermakna, mengandung ketidakpastian yang cukup dan membuat penasaran.

Tetapi bantuan istri yang memang sudah beberapa kali ke Perancis dan Jerman amat sangat membantu terutama pada penyiapan barang-barang yang menurut saya banyak barang yang baru saya kenal. Longjohn, cream kulit, syal tebal, kaos kaki wool dan lain-lain. Saat menjalankan ibadah ke Makkah dan Madinah tidak sebanyak dan sedetill ini.

 Ini semua karena Eropa menjelang memasuki musim dingin tentu suhunya juga agak dingin.

Perjalanan ke negeri ratu adalah perjalanan menuntut ilmu walaupun tidak seperti 3 keponakan saya yang bermukim di sana dalam kurun waktu beberapa tahun untuk menempuh pendidikan master. Tetapi misinya sama belajar dan menambah pengalaman, hanya saja bentuknya studi banding ke beberapa sekolah di kota Leicester, Birmingham, Manchester dan London.

Yang paling membuat penasaran adalah apakah bisa mengunjungi old trafford home basenya Manchester United. Maklum penggemar MU di era Coach Alex Fergusson. Sekarang lebih condong ke Manchester City besutan coach Pep Guardiola lebih antraktif dan sering menang.

Mungkin ada yang komentar ini, “Lho kok belum berangkat sudah mikir refreshingnya? Insya Allah tetap fokus pada niat pertama menuntut ilmu sampai negeri Ratu. Sekedar menambahi tulisan ini biar lebih cair dan fresh.

Mengapa harus ke negeri Ratu ?.

Sebenarnya ceritanya cukup panjang mengapa ke negeri Ratu. Beberapa tahun yang lalu teman-teman di Ummi, KPI, Griya Parenting Indonesia, dan beberapa sekolah Islam di Surabaya tengah giat mempelajari satu pendekatan pendidikan yang cukup menarik yaitu Building Learning Power.

Pendekatan Pendidikan ini dikenalkan kepada Kami semua oleh bapak Dr. H. Margono, M.P.d., yang beliau pelajari dari pencetus awal pendekatan ini yaitu Prof. Dr. Guy Claxton dari Inggris. Bagi saya pendekatan pendidikan ini cukup menarik karena kerangka konsepnya jelas dan metodologinya tersetruktur. Urusan kontennya bisa kita diskusikan dan kita sesuaikan dengan konteks sekolah kita.

Ada pertanyaan yang sering kami sampaikan pada forum-forum tersebut di mana kami dapat melihat sekolah yang telah mengimplementasikan program ini. Beliau selalu menjawab banyak sekolah di Inggris yang telah mengimplementasikannya karena program ini telah di terima oleh kementrian pendidikan di sana.

Dari jawaban dan informasi beliau itulah hati ini mulai ada niat untuk berkunjung ke negeri Ratu tersebut.

Beberapa usaha telah kami jalankan dari menghubungi lewat alamat email BLP, kontak keponakan yang ada di Inggris dan menyampaikan cita-cita ini kepada teman-teman seperjuangan.

Hasilnya luar biasa ada teman yang langsung mentransfer sejumlah uang untuk membantu biaya subhanallah. Sementara jaringan untuk menuju Inggris masih sangat minim sehingga dalam perjalanan waktu uang transferan tersebut terpaksa kami kembalikan lagi. Akadnya jelas untuk membantu pembiayaan perjalanan namun justru perjalanannya belum menemukan titik terang.

Allahu Akbar satu pekan kami mentransfer kembali uang bantuan teman, justru ada penawaran studi banding ke beberapa sekolah dan boarding di negeri Ratu.

Sungguh betapa nikmatnya mendapatkan Rahmat dari Allah dititik ujung pengharapan dan pada batas awal rasa putus asa. Kesempatan ke Inggrispun datang.

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

____________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.