“Ya Allah, Umik, bukuku disobek Adik, padahal besok pagi aku harus membawanya untuk persiapan ujian besok lusa!” sambil menggerutu dan sesekali tampak matanya berkaca-kaca hendak menangis.
Ini adalah penggalan kalimat yang meluncur begitu saja dari mulut anak saya yang pertama dan sekarang sudah duduk dibangku kelas 2 SD. Ia adalah kakak tertua dari ketiga adiknya yang masih kecil-kecil. sehingga tidak jarang adik-adiknya mengganggu saat dirinya sedang asyik belajar. Pemandangan seperti ini hampir setiap hari terjadi. Konflik kecil antar mereka menjadi akhir dari babak ‘belajar bersama’ ini.
Kakak berharap agar kegiatan belajar malam ini sukses tanpa ada yang mengganggu. Tapi disisi lain, adikpun berharap kakaknya tetap bisa mengajaknya untuk belajar bersama. Dua sisi yang berbeda harapan ini, menjadi pemicu ‘hancurnya’ kegiatan belajar sang kakak, karena seringkali buku atau kertas tugas miliknya akan menjadi korban atas ketidaksepakatan adik terhadap sikap kakaknya.
Saya berargumentasi bahwa pendapat kakak yang menginginkan kegiatan belajarnya sukses dan bebas dari gangguan tidak salah, tetapi pendapat adik untuk bisa ditemani belajar, juga baik. Tapi mengapa dua keinginan yang luhur ini berakhir dengan perseteruan dan bahkan munculnya perilaku adik menyobek buku atau kertas milik kakaknya ?.
Kejadian menyobek buku atau kertas, tidak hanya terjadi antara kakak dan adik, seperti gambaran kasus di atas. Tapi bisa juga antara teman yang satu dengan teman yang lain saat belajar di sekolah. Meskipun awalnya mereka tampak bersama dan saling mendukung, namun perbedaan pendapat dan sikap saling ‘memperebutkan’ berdampak pada keretakan hubungan.
Perilaku menyobek buku atau kertas biasanya kerap terjadi, karena memang kedua benda itu adalah media belajar yang dominan dimiliki oleh mereka, sehingga buku dan kertas acapkali menjadi sasaran empuk untuk menumpahkan emosinya, meskipun mereka masih sangat membutuhkannya.
Demikian pula hal ini bisa saja terjadi antara anak dan orangtua. Di saat ayah sedang membaca majalah Islam misalnya, tiba-tiba si anak merengek ingin membacanya pula. Kepentingan ayah untuk membaca informasi belum tuntas, sehingga beliau merasa terusik. Akibatnya keduanya terlibat dalam pertentangan kepentingan. Sejurus kemudian si anak menarik majalah yang dibaca ayah dan menyobeknya. Ayah kecewa, tetapi ini sudah terjadi.
Dari kejadian tersebut kedua belah pihak, sama-sama tidak terpenuhi kepentingannya. Sekarang pertanyaannya, mengapa harus buku atau kertas sebagai sasaran kemarahan ?.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


